Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 19



Adit mencari tau kenapa Rika mencoba menjauhinya, jam dindingnya menunjukkan pukul tujuh pagi, Adit bergegas mengambil motornya untuk berangkat ke kampus. Sesampainya di kampus, Adit melihat banyak sekali poster yang betuliskan nama Rika beserta foto Rika yang di corat-coret, selabaran poster itu ada di mana-mana.


Rika berjalan menuju kantin untuk mengisi perutnya, orang-orang melihatnya sambil tertawa. Rika kebingungan dengan apa yang terjadi. Tapi ia tidak menghiraukannya, ia lalu memesan mie instan dan es teh manis, tiba-tiba mie instannya di lempari kertas dan di tumpahkan air dari arah belakang. Rika menoleh, tapi ia hanya diam.


"Si pengejar cintanya Adit bisa lapar juga ya." ledek seseorang mendekati Rika lalu melambaikan selembar poster di depan wajah Rika.


"Cukup!!!" Rika berdiri lalu mengambil poster itu.


'Si udik mengejar cinta' begitulah tulisannya.


Rika merobek poster-poster itu. Ia sangat geram dengan perlakuan mereka.


"Apa-apaan kalian! Aku disini hanya untuk belajar, aku tak pernah mengusik kalian, kalian boleh membenciku tapi ini sangat keterlaluan!" ucap Rika dengan nada tinggi, jantungnya berdegup kencang nafasnya terenguh. Rika jadi mengingat masalalunya, ia trauma jika di buli seperti ini.


Dulu sewaktu duduk di bangku sekolah menengah pertama, Rika acap kali mendapatkan perlakuan yang tidak baik, hingga dirinya tidak mau sekolah lagi dan hampir mencoba bunuh diri.


"Uuuu... Aku takut sekali dengan bentakanmu."ucap Fina mengejek Rika.


Jangan menagis Rika, jika kamu menangis berarti kamu kalah, jangan takut pada mereka mereka bukan siapa-siapa. Batin Rika.


Tiba-tiba sosok pria tampan berjalan menuju kerumunan itu, ia lalu memegang tangan Rika erat.


"Apa masalahmu Fina, kenapa kamu selalu memusuhi Rika?" tanya Adit menatap Fina yang langsung terdiam.


"Kenapa kamu selalu membelanya! Dia tak pantas denganmu Adit, cewek kayak dia banyak di jalanan sana." ucap Fina.


"Kamu tak berhak mengaturku Fina, terserah dengan siapa aku akan berteman itu bukan urusanmu." ucap Adit.


"Mulai sekarang siapa yang menjadi musuhnya itu berarti dia musuhku juga, masalahnya jadi masalahku juga, siapa yang berani menggangunya akan berurusan denganku!" tambah Adit. Ia lalu membawa Rika pergi dari kantin. Rika hanya terdiam dalam genggaman Adit, ia agak berlari kecil untuk mengimbangi langkah kaki Adit.


"Lepaskan aku Kak Adit!" teriak Rika, tapi Adit tak menggubrisnya, ia terus berjalan membawa Rika ke taman kampus.


"Kak Adit tidak usah membelaku! Itu hanya akan menjadi masalah lagi dalam hidupku, aku semakin dimusuhi banyak orang." ucap Rika yang membuat Adit melepaskan tangannya.


"Aku hanya membantumu Rika, kalau kamu tidak terima dan merasa baik-baik saja ya sudah." ucap Adit lalu pergi dari hadapannya.


Rika terdiam, tak terasa air matanya mengalir di pipinya, kenapa Adit dengan mudahnya pergi begitu saja, Adit juga hanya menganggap dia sebagai temannya. Sebenarnya Adit berat sekali untuk melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Rika. Ia melihat kebelakang, Rika sudah tidak ada.


Rika menuju ke parkiran, ia hendak pergi ke supermarket untuk bekerja, ia tak mau fokusnya terbagi hanya karna seorang pria seperti Adit. Ia bertekad untuk membeli laptop supaya bisa dengan mudah mengerjakan tugas. hari ini di Enjoymart sangat ramai membuat Rika agak sedikit kelelahan, Rika di suruh bosnya membereskan barang-barang di bagian cemilan, ia mengambil tangga untuk membereskan cemilan yang paling atas saat ia hendak menaiki tangga, tiba-tiba kakinya tergelincir, untung saja Rika di tangkap oleh seseorang.


"Hati-hati Rika, sepertinya kamu capek sekali" ucap seorang pria lalu menegakkan Rika.


"Jangan ge-er, aku kesini cuma mau beli cemilan." ucap Adit tersenyum kecil. Rika hanya menunduk wajahnya yang tadi agak pucat kini berubah kemerahan.


"Jangan di paksakan kalau sakit, kan bisa izin." tambah Adit.


"Aku tidak akan bolos kerja seharipun, kalau izin terus kapan aku bisa beli laptopnya." ucap Rika, ia keceplosan didepan Adit. Adit hanya menyeringit, ia sangat kagum dengan perjuangan Rika untuk kuliah.


"Ya sudah sekarang tolong ambilkan aku keripik pedas yang di atas." perintah Adit pada Rika, ia sengaja menyuruh Rika padahal ia bisa mengambilnya sendiri.


"Ambil saja sendiri, aku sibuk." ucap Rika lalu melanjutkan pekerjaannya, ia berusaha untuk tidak menatap wajah manis Adit.


"Oh kamu begitu ya melayani pelanggan, nanti aku bilang bosmu loh." Adit mencoba mengancam Rika, tapi ia terlihat tersenyum.


"Merepotkan saja, aku kan juga tidak sampai Kak Adit, lihatlah." Rika melompat kecil, tiba-tiba Adit langsung memegang pinggang Rika, ia mengangkat Rika. Rika sangat terkejut melihat perlakuan Adit padanya, ia langsung mengambil keripik yang di pinta Adit dan Adit juga menurunkannya.


"Apa-apaan sih Kak Adit ini, banyak orang disini, kalau dilihat atasanku gimana." ucap Rika langsung memukul pundak Adit.


"Aww... Sakit Rika, di pundakku ada luka." ucap Adit membohongi Rika, ia ingin melihat bagaimana reaksi perempuan yang mulai ia cintai itu.


"Yang benar? Maafkan aku Kak Adit, aku gak tau." Rika tampak cemas.


"Tapi bohong, cie yang cemas." Adit meledek Rika, wajah Rika memerah lagi.


"Ya Sudah aku pamit pulang dulu ya Rika, oh ya nanti pulangnya mau aku jemput tidak?" Adit menawarkan dirinya, ia berharap Rika menerima tawarannya. Adit ingin sekali berlama-lama melihat Rika.


"Tidak usah Kak, aku bisa pulang sendiri." ucap Rika sambil membereskan barang-barang yang berantakan. Adit hanya mengangguk lalu membawa cemilannya ke kasir, setelah itu ia langsung pulang.


Rika tidak mengerti dengan sikap Adit padanya, tidak bisa ditebak. Ia bingung harus seperti apa lagi untuk mengahadapi pria yang dia sayangi itu. Ingin sekali ia menghindari Adit, tapi hatinya menolak keras, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seseorang yang memegang pundaknya dati belakang.


"Sudah selesai semua Rik?" tanya pria itu.


"Eh Mas Devan, sudah kok Mas." jawab Rika kepada atasannya itu.


"Ya sudah, tolong beresin yang di belakang lagi ya Rik, kamu istirahat makan jam berapa nanti?" tanya Devan lagi.


"Baik Mas, jam tujuh nanti Mas." ucap Rika.


"Kalau begitu nanti kita bareng saja ya, aku juga mau makan malam." ucap Devan. Rika merima ajakan Devan, ia lalu kebelakang hendak membereskan yang di suruh Devan tadi.


Devan adalah atasan Rika di supermarket. Sebenarnya, Devan selalu memperhatikan Rika, sejak pertama Rika bekerja di supermarket, apalagi dulu Devan yang men- training Rika, memang selisih usia Devan dan Rika agak lumayan jauh, tapi Rika juga kagum melihat atasannya itu. Setelah semua selesai mereka makan bersama diluar.