
Devan sudah memakai baju serba putih, dan juga peci senada yang membuat ia semakin tampan dan bersinar. Tanpa dihiaspun, pria yang berumur 27 tahun itu sudah sangat menawan dengan kulit putih dan mata sipit bak aktor korea. Zohra beruntung bisa mendapatkan Devan.
Dekorasi tenda perpaduan warna moca dan merah, sudah menghiasi rumah Devan. Pesta pernikahannya memang sengaja tak di adakan di hotel, karna rumah orangtua Devanpun tak kalah melebihi hotel bintang lima. Semua sudah tersusun rapi, makanan dari katering keluarga sendiripun sudah tersedia dengan jumlah yang tak main-main. Bunga-bunga dan juga foto hasil prewed nya pun sudah menghiasi sudut-sudut tenda yang kurang lebih dua puluh unit itu.
Pukul tujuh malam, disitulah puncak acara pesta, Fina sudah ada di sana dengan gaun merah yang sangat cantik. Ia sedang duduk di meja bersama teman-temannya, matanya celingukan seperti tengah mencari seseorang. Sudah pukul tujuh malam, Adit belum juga datang.
***
Rika sedang merias dirinya dengan alat make up yang sederhana. Malam ini, ia memantapkan dirinya untuk memakai dress berwarna moca kesukaannya. Walaupun tidak semewah yang di pakai Fina, tapi dress ini sangat indah saat di pakai Rika. Ia lalu memakai heels yang tak terlalu tinggi, rambutnya sudah dikuncir dan beberapa helai sengaja di gugurkan di samping telinga.
"Bu, Rika sudah cocok tidak berdampingan dengan Kak Adit?" tanya Rika lalu memusingkan badannya di hadapan Bu Nur. Bu Nur yang sedang duduk santai di sofa, seketika berdiri melihat anaknya berdiri dengan gaun selutut itu.
"Ternyata anak Ibu, pandai berdandan juga ya."
"Ah Ibu, jawab dulu pertanyaan Rika."
"Iya, Sayang. Cocok sekali." Bu Nur mengacungkan ibu jarinya pada Rika.
Suara mobil Adit sudah ada di depan Rika. Adit keluar dari mobilnya, matanya langsung tertuju pada gadis yang sedang berdiri di teras, ia tak membayangkan Rika bisa secantik ini. Ralat, cantik sekali menurutnya.
Rika juga tak kalah mematung melihat Adit yang memakai jeans hitam dan kemeja polos berwarna maroon. Perempuan mana yang tak mau mendampingi orang setampan ini, tampilan yang sederhana namun mempesona.
"Sudah siap?"
"Su...sudah, Kak." jawab Rika gagap.
"Ayo."
Mereka berpamitan dengan Bu Nur, lalu pergi menuju rumah Devan. Rika sesekali melihat Adit yang sedang mengemudi. Ia masih berpikir, apa dia pantas berada di samping cowok sekeren ini. Adit nyaris sempurna di mata Rika.
Rumah Devan masih ramai dipenuhi para tamu, Devan memang mengadakan resepsi sampai malam. Adit membuka pintu mobil untuk Rika, ia mengulurkan tangannya pada Rika, ia menggenggam tangan Rika erat.
"Kak Adit, aku takut."
"Why? Ini bukan rumah hantu. Lagi pula kamu sangat cantik malam ini." puji Adit. Ucapan itu baru keluar, karna sedari tadi ia masih terpana pada gadis lugunya.
"Aku takut ketemu sama Kak Fina." ucap Rika khawatir.
"Tenang, ada aku."
Suasana pesta sangat ramai, suara band juga mengalunkan lagu yang mendukung suasana pesta. Rika mengajak Adit untuk langsung menyalami Devan di pelaminan, agar Devan tau kalau dirinya datang.
"Makasih ya, Rik. Udah datang. Serasa Adikku juga menghadiri pesta ini." ucap Devan.
"Sama-sama Mas, selamat ya Mas Devan dan Mbak Zohra." Rika menunduk.
"Doakan saja Mbak. Segera." jawab Adit, yang membuat Rika terkejut.
"Kalian jangan pulang dulu ya, nikmati dulu pestanya." ucap Devan menepuk pundak Adit.
Adit mengambil dua gelas minuman berwarna hijau di meja. Saat ia berjalan, ia di tahan oleh Fina.
"Akhirnya kamu datang juga, ini kebetulan atau jodoh sih. Baju kita couple loh!" ucap Fina lalu menggandeng tangan Adit.
"Emm, sorry, Fin. Aku datang bersama Rika."
"Oh ya, kamu belum bertemu sama om Herman dan tante Mila kan? Mereka belum tau loh kamu datang."
"Aku akan panggil Rika dulu."
"Tidak usah, Dit. Bar aku yang temani. Lagi pula Rika sedang sibuk dengan teman-teman kerjanya." ucap Fina lalu menarik lengan Adit.
Omongan Fina ada benarnya juga. Ia harus menyampaikan pesan dari Mama-Papanya untuk orangtua Devan. Sementara itu, Rika duduk dengan bosan menunggu Adit yang belum mucul juga dari tadi. Rasanya tempat minuman tidak jauh, tapi kenapa Adit lama sekali.
Rika berdiri dan menoleh ke arah sembarang, barangkali ia menemukan Adit. Ia berjalan menuju ke arah kanan, ia melihat Fina dan Adit sedang berbincang dengan sepasang suami istri.
"Saya Adit. Om, Tante. Maaf Papa sama Mama tidak bisa hadir karna masih banyak pekerjaan yang belum selesai, jadi diwakilkan sama saya" ucap Adit membungkukkan badannya.
"Oh tidak apa-apa, Dit. Apa kamu dan Fina pacaran? Kalian cocok." ucap Bu Mila yang membuat Fina senyum ke pede an. Ia memang mengharapkan itu terjadi.
"Tidak, Tan. Kami cuma berteman kok."
Rika yang sedari tadi mendengar percakapan itu perlahan mundur dan pergi dari tempat itu. Ucapan Bu Mila tadi membuat dirinya semakin minder. Perasaannya memang tidak pernah salah, dari awal dia sudah merasa berat untuk pergi ke pesta pernikahan Devan. Apalagi setelah melihat Adit dan Fina memakai baju dengan warna senada. Mereka seperti sepasang kekasih, cocok sekali. Tidak ada apa-apa di banding dirinya.
Adit juga terlihat santai berbicara dengan orangtua Devan, ia tak ada niat mengajak Rika.
"Kenapa dia tidak mengajakku saja menemui orangtua Mas Devan? Apa dia malu memperkenalkan aku pada mereka, sehingga mengajak Fina?" gumam Rika.
Secara tak sadar dirinya sudah berjalan jauh dari acara itu. Ia melepaskan heels nya, kakinya sudah merasa sakit, tumitnya sudah tampak merah. Ia mendudukkan dirinya dipinggir jalan, untuk mengistirahatkan kakinya sejenak. Dia sangat kecewa dengan perlakuan Adit malam ini.
Adit mencari Rika di pesta itu, ia sudah bertanya pada teman-teman kerja Rika, tapi tak ada yang tau. Adit mengusap wajahnya gusar, ia merasa bersalah pada Rika. Ia memang telah meninggalkan Rika, ini semua gara-gara Fina. Ia sangat mengkhawatirkan Rika, apalagi ini sudah malam. Ia tau persis dengan sifat gadis lugunya itu. Selalu nekat.
Sudah sekitar dua puluh menit Adit mengelilingi tempat itu, tapi ia masih belum menemukan Rika, ia yakin Rika pasti sudah pulang duluan. Adit langsung menghidupkan mobilnya lalu pergi dari pesta itu. Ia melihat di sekitar jalan.
"Kenapa dia selalu nekat sih!" Adit menggeram sendiri.
Ini semua memang salahnya, ia mau-maunya di ajak Fina tadi, sampai melupakan Rika.