Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 37



Suasana langit di taman rumah sakit Harapan itu mendung berawan, Rika mengajak Adit keluar untuk menghirup udara segar. Mereka duduk di kursi taman, melihat pemandangan yang lumayan asri, terlihat bebebrapa perawat lewat di depan mereka, ada juga beberapa pasien yang menikmati indahnya cuaca sore ini.


"Dulu saat langit mendung seperti ini, aku sangat berharap akan turun hujan, aku ingat sekali waktu kecil suka main hujan sampai di marahi ayah..." Rika menatap langit, ia merasa Ayahnya sedang melihatnya. ".... Kata ayah, hujan itu rezeki."


Adit hanya memandang wajah Rika, baru kali ini Rika sangat lancar berceloteh di depannya, yang biasanya sangat gugup dan kaku, tapi sore ini ia seolah mengungkap kan isi hatinya. Tangannya tiba-tiba meraih rambut Rika, mengelusnya dengan lembut.


"Maafkan aku..."


"Sudahlah Kak Adit, tidak usah merasa bersalah lagi." ucap Rika tersenyum manis, manis sekali menurut Adit, sampai-sampai Adit tak bisa berpaling dari Rika.


"Ehem... Gimana skripsimu?" tanya Rika yang mencoba mencari topik pembicaraan.


"Hampir selesai."


"Itu berarti sebentar lagi Kakak meninggalkan kampus." ucap Rika cemberut.


"Tumben ngomong gitu?" tanya Adit heran, hari ini gadis lugunya itu sangat aneh, manja sekali.


"Memangnya kenapa?" Rika mendongak ke atas.


"Aku tidak akan meninggalkanmu." ucap Adit tersenyum, Rika menjatuhkan kepalanya di bahu milik pujaan hatinya itu. Tidak biasanya Rika bermanja-manja seperti ini.


Rika memejamkan matanya untuk beberapa saat, ia ingin menikmati sandaran ternyaman ini, mengelus lembut tangan bagus itu.


Baru kali ini Rika menemukan sosok yang tulus menyayanginya, Rika belum pernah sedekat ini dengan pria manapun sebelumnya, ia mempunyai trauma tersendiri pada pria. Rika adalah salah satu korban bully semenjak ia kecil, tak ada yang mau bermain dengannya, sampai ia sekolah pun teman-teman menjauhinya dan kebanyakan laki-laki, lebih parahnya lagi, tak ada yang sudi menyentuh barang-barang miliknya, mereka bilang jijik.


Rika sama sekali tak menyangka akan mendapatkan hati Adit, si coker kampus yang namanya terkenal di kampus. Aditya Vareplint cowok berkulit kuning langsat dan tinggi, wajah manisnya mampu memikat siapapun yang berbicara dengannya, walaupun orangnya pendiam dan kutu buku, tapi itulah yang membuat dirinya spesial di mata para gadis di kampus.


***


Sudah larut malam Pak Arsan dan Bu Niken sudah tiba di rumah sakit, ia melihat Adit sudah tertidur pulas, dokter mengatakan bahwa tidak terjadi luka yang serius pada anaknya itu, besok Adit boleh pulang tapi belum boleh pergi kemana-mana dulu.


Pukul tujuh pagi, Bu Niken sudah membereskan semua barang dan menggandeng Adit, sedangkan Pak Arsan sedang mengurus administrasi di kasir.


"Sudah siap, Ma?" tanya Pak Arsan.


"Sudah Pa, ayo pulang." Bu Niken dan Adit memasuki mobil duluan disusul Pak Arsan.


"Adit, sekarang kan kamu sudah baikan. Papa mau tanya sama kamu, kenapa kamu keluyuran sampai malam?" tanya Pak Arsan yang tak mengalihkan pandangannya.


Adit hanya diam, ia butuh beberapa waktu untuk mempersiapkan jawaban itu.


"Dia merasa bersalah, karna dia sudah tau siapa yang ditabraknya, Pa." saut Bu Niken.


"Adit, kita sudah bertanggung jawab sama keluarga pak Riyadi, setiap dua bulan sekali Papa selalu kirimkan mereka uang, kurang apalagi mereka sampai kamu bisa begini!"


"Bukan itu masalahnya Pa, tapi pak Riyadi itu adalah ayahnya Rika, orang yang Adit cintai." saut Bu Niken lagi, ia seolah-olah menjadi juru bicara Adit. Pak Arsan hanya menghela nafas, anaknya itu hampir menghilangkan nyawa hanya karna masalah cinta, apa sebegitu rapuhnya hingga tak ada cara lain.


"Adit dengarkan Papa, kamu akan mengelola anak perusahaan Papa nantinya, hanya masalah ini kamu sudah menyerah dan rapuh, bagaimana kamu akan mengurus perusahaan yang begitu rumit nantinya?"


"Kamu harus bisa menyelasaikan masalah ini dengan baik, bukannya menentang nyawa seperti ini."


Adit hanya diam, benar yang di ucapkan oleh Papanya itu, ia memang sulit untuk berterus terang, selalu tertutup hingga menyulitkan dirinya sendiri.


Bu Niken mengantar Adit ke ke kamarnya lalu meletakkan baran-barang, disusul Bik Eli yang sudah mempersiapkan makanan untuk Adit, setelah minum obat, Adit memejamkan matanya.


"Cepat sembuh ya, Sayang." Bu Niken mengecup kening anak kesayangannya itu.


Di meja makan, Pak Arsan dan Bu Niken sedang menyantap makan siang, sudah dua hari mereka di Jakarta untuk menemani Adit. Besok pasangan suami istri itu harus terbang ke Palembang lagi untuk mengurusi cabang perusaannya.


"Gimana, Adit?" tanya Pak Arsan lalu meneguk segelas air.


"Sudah baikan, Pa. Sepertinya kita harus tinggal disini lagi deh, Pa." ucap Bu Niken.


"Belum bisa kalau sekarang Ma, Mama kan tau kita mempunyai beberapa cabang perusahaan, yang sekarang itu kita harus fokus sama yang di Palembang dulu, Ma." ucap Pak Arsan menolak.


Pak Arsan memang sangat sibuk dari dulu, sejak kecil Adit sudah jarang bertemu dengan Papanya, ia sangat jarang jalan-jalan atau sekedar makan bersama. Hanya satu dipikiran Pak Arsan, ia ingin Adit seperti dia, bisa jadi pemimpin perusahaan, dalam hati kecilnya ia ingin anak istrinya bahagia. Tapi kebahagian bukan soal harta saja, orang sederhana pun bisa bahagia dengan hangatnya pelukan dari orangtua, itu yang jarang Adit dapatkan selama ini.


"Papa..." Adit sudah berdiri di belakang Pak Arsan yang duduk di dekat kolam renang.


Pak Arsan menoleh ke arah Adit.


"Ada apa? Duduklah." perintah Pak Arsan.


"Pa, Adit minta maaf, selama ini Adit memang sulit untuk berterus terang." ucap Adit.


"Kamu itu harus tegas Nak, cobalah belajar untuk itu, sebentar lagi kamu akan lulus kuliah, kamu harus membantu Papa." ucap Pak Arsan menatap Adit.


"Iya Pa, Adit paham. Tapi Pa soal Rika..." Adit menahan ucapannya, ia seperti ragu-ragu untuk meminta restu ke Papanya.


"Adit... Soal cinta, Papa selalu mendukung apapun pilihan kamu." ucap Pak Arsan menepuk pundak anaknya itu.


Adit tersenyum lalu memeluk erat Papanya itu, begitupun dengan Pak Arsan membalas pelukan anaknya, sudah lama sekali mereka tidak seperti ini. Walaupun Papanya itu selalu berpikir rasional, ia tak pernah mengekang langkah Adit, ia selalu mendukung apa yang di lakukan Adit, ia juga tak memaksa Adit untuk menuruti kehendaknya.


Bu Niken diam-diam melihat lelaki yang disayangi itu berpelukan, betapa senang hati Bu Niken melihat keakraban ini. Walaupun mereka jarang bersama tapi mereka saling menyayangi dan saling mendukung. Bu Niken lalu pergi untuk menyiapkan makan malam bersama Bik Eli.


"Kamu adalah copy paste nya Papa."


Adit tersenyum mendengar ucapan Papanya itu, sifat keduanya memang sama persis.


"Gantengnya juga gak Pa?" tanya Adit meledek Papanya.


"Jelas itu!" ucap Pak Arsan tegas, seolah tak mau kalah ganteng dari anaknya.


"Hahahaha..." mereka tertawa bersama, akrab sekali.