Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 56



Pelukan hangat Adit masih dirasakan Rika. Hatinya sudah yakin kalau Adit benar-benar mencintainya, walaupun keyakinan itu belum sepenuhnya. Karna, Adit masih tampak masih ragu untuk mengakui hubungan kasih mereka. Kadang Rika juga merasa kecewa dengan itu.


Rika masuk kedalam kamar, membawa dua batang coklat yang di berikan sang pujaan hatinya tadi. Ia membuka coklat vanila dan memakannya, ini sungguh enak. Apalagi saat membayangkan wajah tampan Adit. Rika lalu keluar kamar, ia menuju dapur. Melihat Bu Nur juga sedang didapur.


"Bu, mau coklat tidak?"


"Tidak ah, nanti Ibu sakit gigi." celetuk Bu Nur.


"Ibu ini..." Rika hanya terkekeh mendengar alasan Bu Nur.


"Dari Adit, ya?"


"Iya." senyum Rika melebar seketika.


Bu Nur hanya senyum diikuti dengan gerakan kepalanya, anaknya ini memang sudah dimabuk cinta.


***


Adit sedang duduk di pelataran kampus, tiba-tiba Fina datang mendekatinya. Senyumnya sudah terpancar dari jauh, ia membawa kotak makanan. Berniat untuk memberikannya pada Adit, ini termasuk strategi mendekati Adit lagi. Melihat respon Adit padanya belakangan ini sudah kembali seperti saat mereka dekat dulu.


"Nih, Dit, aku bawain sarapan." Fina menyodorkan kotak makanan berisi nasi goreng itu.


"Makasih, Fin." ucap Adit tersenyum, hanya menghargai.


"Aku yang harusnya makasih sama kamu, berkat kamu skripsiku tidak ada revisi lagi." ucap Fina menyilangkan tangannya.


"Sama-sama, sesama teman memang harus saling bantu kan?" Adit menoleh Fina.


Kapan kamu akan menganggapku lebih dari teman, Dit? Aku jauh lebih baik dari pilihanmu saat ini. Batin Fina.


"Dimakan ya, itu buatan Mama loh." ucap Fina lalu memegang tangan Adit.


"Iya, Fin. Nanti siang pasti kumakan." Adit menyingkirkan tangan Fina perlahan.


"Loh kenapa?"


"Aku baru saja sudah sarapan tadi dirumah." ucap Adit.


"Nanti pasti kumakan." Adit menepuk pundak Fina. Ia beranjak dari tempat duduknya, menjauhi Fina. Ia tidak ingin ada salah paham lagi.


Setelah selasai mengajar, Adit mencari Rika dikelasnya, berniat mengajak gadis lugunya ke kantin bersama. Adit masih menenteng kotak makanan dari Fina tadi pagi. Mereka lalu duduk, Adit sudah memesan dua mangkok bakso dan jus jeruk.


"Bekal dari Bik Eli ya Kak?" tanya Rika sembari menunggu bakso mereka datang.


"Bukan, ini dari Fina."


Rika hanya membulatkan matanya, kenapa Fina masih saja berusaha mengambil hati Adit, yang jelas-jelas sudah memilih orang lain, yaitu dirinya.


Tiba-tiba, Adit memegang tangan Rika. Mengelusnya dengan lembut.


"Aku hanya mengahargai pemberian Fina." ucap Adit tersenyum.


"Biar aku aja yang makan." Rika mengambil kotak makan berwarna biru itu. "Besok, aku aja yang bawain Kakak bekal ya." tambahnya.


Adit hanya tersenyum melihat gadis lugunya itu, meskipun Rika berusaha tak melihatkan wajah cemburunya. Tapi sikapnya tak bisa disembunyikan.


"Iya, iya. Nasi gemuk bikinan camer memang lebih enak." ucap Adit menaik turunkan kedua alisnya, menggoda Rika.


Rika memakan nasi goreng itu, dengan kunyahan yang agak brutal. "Rasa nasi gorengnya biasa aja. Aku juga bisa bikin yang lebih enak dari ini." bisik Rika lalu menyuap nasi lagi.


"Cemburu, ya?" tambahnya, Adit sangat menyukai situasi ini.


"Uhukk..." Rika tersedak mendengar ucapan Adit barusan.


"Apaan sih, Kak Adit." Rika beranjak memakan bakso yang dipesan Adit tadi.


"Kotak makannya biar aku kembalikan nanti." Adit mengambil kotak makan yang sudah kosong itu.


Tapi Rika memegang lengan Adit. Ia menggeleng, seolah memberi isyarat. Jangan.


"Berdua." ucap Adit tersenyum, lalu mengelus rambut hitam sebahu itu. Ia sangat gemas dengan tingkah Rika saat ini. Sungguh lucu.


***


Belakangan ini Adit juga disibukkan dengan berkas yang dikirim Papanya, ia sudah harus mempelajari bagaimana memimpin perusahaan nanti. Tidak begitu ribet, tapi cukup membuat Adit lelah.


Fina : Hay Dit, lagi sibuk gak? *H*angout yuk. Deri yang ngajak loh.


Adit hanya menghela nafasnya, bingung dengan kelakuan Fina, semakin hari semakin mendekatinya. Ia tau, itu semua hanya akal-akalan Fina saja, ia sudah seringkali terjebak dengan ajakan Fina. Awalnya Fina memang bilang kalau pergi bermsama teman-teman yang lain juga, tapi nyatanya Fina hanya merekayasa itu semua.


Maaf Fin, aku lagi banyak kerjaan. Balas Adit.


Adit melempar pelan ponselnya di sofa, ia membaringkan dirinya sebentar. Mengistirahatkan otaknya, dari berkas-berkas yang dikirim Papanya. Ia melirik jam dinding, sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sudah saatnya menjemput sang pujaan hati, semua lelah yang ia rasakan tadi seketika hilang saat hendak menjemput sang pujaan hati.


***


Rika sudah menunggu Adit dikursi tunggu Enjoymart. Tak lama, pria tampannya datang. Kali ini, Adit turun dan menghampiri Rika langsung, menggenggam tangannya di depan semua orang. Meli dan teman Rika yang lain hanya melihatnya heran dan juga terpesona dengan ketampanan cowok beralis tebal itu. Ingin rasanya bertanya pada Rika, bagaimana cara mendapatkan cowok yang nyaris sempurna bagi kaum hawa itu.


"Kak Adit?"


"Ada apa? Memangnya tidak boleh menjemput langsung kesini?" ucap Adit, ia hanya menatap ke arah depan.


Rika hanya bisa tersenyum senang. Tentu saja boleh, ia hanya tak percaya dengan apa yang dilakukan Adit malam ini.


Adit beberapa kali menguap, ia merasa sangat lelah sekali hari ini, dikampus jadwal mengajarnya padat sekali, ditambah segudang berkas yang dikirim Papanya.


"Mau makan dulu tidak?" tanyanya pada Rika.


"Tidak usah, Kak. Sepertinya Kakak lelah sekali."


"Sedikit, karna tadi pagi Papa mengirimkan banyak sekali berkas." ucap Adit.


"Kalau gitu kenapa menjemputku?" Rika menjadi merasa tidak enak.


"Memangnya kenapa?" Adit menatap Rika tajam."Selelah apapun, aku pasti tetap akan menjemputmu."


Tadinya Rika memang lapar sekali, tapi melihat kondisi Adit, ia jadi tidak tega kalau mau mampir dulu.


Adit tiba-tiba menghentikan mobilnya, ia berniat membeli gorengan pinggir jalan.


"Mau gorengan?" tanya Adit menoleh Rika.


"Mau, biar aku saja yang beli." ucap Rika hendak membuka pintu mobil, tapi dicegah oleh Adit. Adit langsung keluar dan membeli gorengan itu.


"Wah ini pasti enak." Rika lalu mengambil bakwan di wadah itu.


Adit menoleh Rika, menaikkan alisnya. Seolah memberi kode pada Rika, agar disuapi. Rika hanya tersenyum lalu mengambil bakwan dan menyuapi Adit.


Suasana sederhana seperti ini saja sudah membuat hati Rika seperti ditumbuhi bunga-bunga. Adit selalu memperlakukannya dengan baik, membuat dirinya semakin meleleh dengan cowok cool ini.


"Minggu depan aku sudah wisuda." celetuk Adit.


"Benarkah? Selamat ya, Kak." ucap Rika tersenyum. Ia juga ikut bahagia mendengar kabar ini.


"Ini semua juga berkatmu. Disemester akhir, aku menemukan gadis luguku." ucapan Adit membuat wajah Rika berubah warna.