Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 34



Keadaan Rika sudah membaik, hari ini ia sudah kuliah. Ia merasa agak aneh dengan Adit yang belum ada menghampirinya pagi ini, matanya tertuju pada seseorang di bawah pohon palm di dekat aula kampus, terlihat Adit sedang sibuk dengan laptopnya, ia baru ingat ini adalah semester akhir bagi Adit.


"Hay, Dit. Sudah selesai skripsinya?" tanya seseorang mengahmpirinya.


"Hay, Fin. Dikit lagi nih, kamu?" tanya Adit balik.


"Sama Dit, bisa tidak bantu aku menyelesaikannya. Yah, hitung-hitung kerja sama gitu." ucap Fina yang sangat berharap Adit mengiyakan.


"Hmm... Gimana ya." Adit sangat bingung dengan tawaran Fina, ia tau kalau Fina hanya ingin mendekatinya saja, tapi sebenarnya itu ide yang bagus juga.


"Aku mohon." ucap Fina memegang tangan Adit.


"Baiklah, boleh." setelah berpikir panjang, ia setuju dengan ajakan Fina.


Rika hanya melihat mereka berbincang dari jauh, ia mengepalkan tangannya, ternyata Adit tidak tulus meminta maaf dengannya. Hatinya terasa sakit jika melihat Adit bersama wanita lain. Adit dan Fina pun sudah tidak ada lagi di bawah pohon itu. Melihat mereka jalan berdua dada Rika tersa sesak, apalagi pagi ini Adit tak ada menghubunginya. Rika merasa ia memang tak penting bagi Adit.


***


Di supermarket Rika sedang sibuk memindahkan barang-barang, tapi otaknya selalu memikirkan Adit, sampai dia pulang dari kampus pun Adit tak juga mencarinya.


"Rika, nanti makan malam bareng ya." ucap sesorang menepuk pundak Rika.


"Eh, Mas Devan. Boleh, Mas." ucap Rika, ia ingin melupakan Adit sejenak.


"Oke, di tempat biasa ya."


"Iya, Mas." ucap Rika tersenyum.


Daripada aku memikirkan Kak Adit terus-terusan, batin Rika.


Pukul tujuh tepat, Devan sudah menunggu Rika di tempat nasi goreng biasa, terlihat ia sudah memesan dua piring nasi goreng.


"Wah.. Sudah di pesan ya, Mas." ucap Rika lalu duduk di samping Devan.


"Iya Rik, biar kamu gak nunggu lama."


"Makasih, Mas." ucap Rika lalu mengambil sendok.


"Kapan Mas Devan melangsungkan pernikahan?" tanya Rika, ia mencoba mencari bahan pembicaraan.


"Hmm... Kayaknya awal tahun depan, Rik." ucap Devan lalu menyuap nasi gorengnya.


"Kamu datang, ya."


"Siap Mas, nanti saya bawakan kado spesial buat Mas Devan." ucap Rika tersenyum.


"Kamu mirip sekali dengan adikku." ucap Devan menatap dalam wajah Rika yang membuat Rika gugup.


"Oh ya... Sekarang adiknya Mas Devan ada di mana?" tanya Rika penasaran.


"Sudah meninggal lima tahun lalu, saat dia kelas dua SMP."


Rika terdiam, waktu itu dia juga sedang menduduki bangku SMP dan ia juga kehilangan ayahnya, seketika ia memikirkan Adit lagi.


"Maafin saya, Mas." ucap Rika merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa Rik, makanya setiap aku melihat kamu, aku merasa sangat dekat sekali." ucap Devan.


"Saya juga kehilangan ayah saya waktu duduk di kelas dua SMP Mas, itu semua karna..." Rika tak melanjutkan ucapannya.


"Karna apa, Rik?"


Rika hanya menggeleng, ia tak mau membicarakan masalahnya pada orang lain, Devan mengerti itu, ia mengelus pundak Rika.


***


"Nak Adit, kenapa obatnya tidak diminum?"


"Saya tidak perlu lagi obat itu, Bik." jawab Adit.


"Jangan seperti itu Nak, nanti Bibik yang kena marah Bapak sama Ibuk, memangnya ada masalah apa Nak?" tanya Bik Eli.


"Tidak ada Bik, hanya saja aku ini seorang pembunuh, aku membunuh ayah gadis yang kucintai." ucap Adit sembari memegangi perutnya. Terasa nyeri sekali, memang ada luka lama di perut bagian kanannya itu, makanya itu ia harus rutin minum obat dari dokter pribadi keluarga pak Arsan.


"Bisa tinggalkan aku sendiri?"


"Baik Nak Adit, kalau butuh apa-apa panggil saja." ucap Bik Eli lalu pergi.


Fina sudah berdiri di balik pintu Rumah Adit. Ia hendak mengerjakan skripsinya bersama Adit sekaligus mencari kesempatan untuk beruduaan dengan lelaki pujaan hatinya itu.


Adit terus memegangi perutnya, semakin lama perutnya semakin sakit, ia membaringkan tubuhnya di sembarang tempat, rasa ia tak sanggup lagi untuk berdiri.


Tokk...tokk...


"Aditnya ada, Bik?" tanya Fina yang melihat Bik Eli membukakan pintu.


"Ada Nak, kamu siapa ya?" tanya Bik Eli yang memang tidak kenal dengan Fina.


"Saya Fina, Bik. Teman kuliah Adit." ucap Fina.


"Kebetulan sekali Nak Fina, Adit lagi mengurung diri di kamarnya dan juga belum makan dari tadi pagi. Masuk saja, Nak." ucap Bik Eli.


Bik Eli lalu menunjukkan kamar Adit, Fina pun bergegas membuka pintu kamar Adit. Alangkah terkejutnya Fina melihat Adit tergeletak di dekat jendela kamarnya.


"Adit!"


Fina langsung memboyong Adit ke atas kasurnya, bibir Adit terlihat sangat pucat.


"Kamu kenapa? Sekarang ayo makan dulu." Fina mengambil makanan yang sudah di siapkan Bik Eli di atas meja.


"Aku tidak lapar, Fin." ucap Adit yang terlihat sangat lemah.


"Pokoknya kamu harus makan." Fila lalu menyodorkan nasi pada Adit tapi di tolak oleh Adit.


Andai saja disisiku ini bukan Fina tapi Rika, batin Adit.


"Aww..." Adit memegangi perutnya yang terasa nyeri lagi.


"Ayo makan Dit, kamu mau sembuh tidak? Biar skripsi kita cepat selesai." ucap Fina memaksa Adit, akhirnya Adit menuruti perintah Fina. Fina sangat senang dengan kejadian malam ini, rasanya ia tidak ingin pulang dari rumah Adit malam ini.


"Nah sekarang minum obatnya, Dit." Fina lalu memberikan kapsul merah itu dan air putih.


"Terima kasih, Fin." Adit lalu menelan kapsul itu dengan terpaksa.


"Iya sama-sama, kamu itu harus sembuh biar kita bisa wisuda tahun ini terus..." belum selesai Fina berbicara, Adit sudah menjatuhkan kepalanya ke bahu Fina. Betapa terkejutnya Fina, hatinya sangat senang dengan situasi ini. Saat tidur seperti ini, Adit semakin tampan saja.


"Andai kamu jadi milikku, Adit." bisik Fina.


***


Rika hendak memasuki kamarnya, sesekali ia melihat layar ponselnya. Seharian ini Adit tak ada menelpon atau mengirim pesan singkat untuknya. Rika merasa ada yang aneh, ia khawatir jika Adit sakit. Tanpa pikir panjang Rika mencoba menelpon Adit, tapi sayangnya tak diangkat oleh Adit, karna Adit sudah tertidur pulas.


"Kenapa aku menelponnya?" gumam Rika yang menyesali perbuatannya.


Ia menarik selimutnya, setiap kali ia menutup mata pasti terbayang wajah manis Adit, apalagi perlakuannya waktu menyuapkan sepotong apel waktu itu, romantis sekali. Tanpa ia sadari ia senyum-senyum sendiri.


"Apa seharusnya aku memaafkan kak Adit ya?" kepalanya mendadak pusing hanya karna memikirkan seorang Adit terus menerus. Rika mematikan lampu kamarnya, ia berharap bisa tidur nyenyak malam ini.