
Rika sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus, sembari membantu Bu Nur membawa barang-barang ke warung. Tiba-tiba ada suara mobil dari kejauhan, suara mobil itu tak asing lagi bagi Rika, ia langsug menoleh ke arah jalan, ternyata benar itu suara mobil Adit, Rika jadi deg-degan melihat Adit. Bu Nur hanya tersenyum melihat anaknya itu.
"Permisi Bu, Adit mau jemput Rika." ucap Adit lalu menyalami Bu Nur.
"Iya Nak, tolong jaga Rika ya." ucap Bu Nur tersenyum.
Bu Nur lalu masuk kedalam untuk menyiapkan barang dagangannya. Adit sudah membawa pita kecil untuk Rika yang berwarna merah muda.
"Untukmu..." ucap Adit lalu menyodorkan pita kecil berwarna merah muda
"Hah?!" Rika menyeringit, ia paling tak suka dengan pernak-pernik seperti itu apalagi berwarna merah muda.
"Kenapa?" tanya Adit bingung.
"Aku tidak suka, Kak Adit saja yang pakai." ucap Rika lalu memakaikannya ke Adit. Bukannya marah tapi Adit malah tersenyum pada Rika.
"Baiklah, ayo pergi." ucap Adit lalu menghidupkan mobilnya, Rika pun masuk ke dalam mobil.
"Kak Adit... Aku turun disini saja." ucap Rika.
Tapi Adit tak menghiraukan perkataannya, ia terus melaju hingga sampai di kampus, Adit lalu turun dan melepaskan sabuk pengaman Rika.
"Kak Adit, lepaskan pita itu." ucap Rika tersenyum melihat Adit.
Adit menyodorkan kepalanya ke Rika, ia memberi kode supaya Rika yang melepaskannya, Rika cepat-cepat melepaskan pita itu, jantungnya berdebar kencang.
Rika buru-buru berjalan menjauhi Adit, tapi Adit berlari mengejarnya dan langsung memegang tangan Rika, semua pasang mata melihat mereka bergandengan termasuk Fina dan teman-temannya.
***
Rika berjalan bersama Jeni menuju kantin untuk mengisi perutnya, ia kali ini tak bersama Adit, karna Adit masih ada kelas.
"Ciee... Kamu kelihatan sangat senang, cerita lah, Rik." ucap Jeni mengejek Rika.
"Sebenarnya aku takut jika pacaran sama kak Adit Jen, kamu kan tau bagaimana perlakuan Fina terhadapku." ucap Rika menunduk.
"Kalau kak Adit benar-benar menyayangimu, pasti dia akan menjagamu." ucap Jeni meyakinkan.
"Semoga saja..." ucap Rika tersenyum.
Mereka berduapun duduk lalu memesan dua mangkuk mie instan. Jeni pamit pulang duluan, biasa temannya yang satu itu memang tidak mau lama-lama di kampus.
Rika lalu pergi ke perpustakaan untuk menemui Adit, tapi dicegat oleh tiga gadis cantik siapa lagi kalau bukan seniornya Fina Sela dan Sisil.
"Beraninya, kamu!" ucap Fina, wajahnya memerah seperti hendak menerkam Rika. Rika sudah tau pasti ini akan terjadi, ia mencoba menghindari Fina. Fina bertepuk tangan memanggil semua orang di kampus.
Semua berkumpul mendengar arahan Fina.
"Kalian lihat si udik ini, dia sudah mengelabui Adit, coba kalian lihat dia cocok tidak dengan Adit?" ucap Fina dengan nada tinggi.
"Mungkin dia pakai dukun." sahut salah satu orang di keramaian itu.
"Bisa jadi Adit sudah kehilangan akal." sahut yang lain.
"Huuuu..." semua bersorak.
Rika hanya diam, ia tak mengeluarkan sepatah katapun.
Sudah pukul dua siang, tapi Rika belum juga muncul di perpustakaan, ia sangat khawatir dengan keadaan Rika. Perasaannya tak tenang, ia lalu keluar dari perpustakaan, tak jauh dari perpustakaan ia melihat kerumunan, ia lalu mendekatinya. Ia melihat Rika di tengah-tengah kerumunan itu sedang menunduk dan mengepalkan tangannya. Adit berjalan lalu menarik Rika pergi dari tempat itu.
"Lepaskan aku!" ucap Rika memukul tangan Adit. Tapi Adit tak menggubris ucapan Rika, ia langsung membawa Rika masuk ke dalam mobil
"Aku tak pantas menaiki mobil ini, aku tak pantas denganmu, aku rasa aku tak sanggup menjalani ini." ucap Rika hendak menjauhi Adit. Adit langsung menahan Rika, ia membalikkan tubuh Rika.
"Dengarkan aku Rika, aku mohon padamu tahan emosimu, maafkan aku selalu membuatmu dihina oleh orang-orang itu." ucap Adit menatap dalam mata Rika.
"Aku tidak tahu Rika, tolong jangan tanyakan itu lagi, aku akan membantu Ayahmu untuk menjagamu." ucap Adit mengelus rambut Rika
Rika langsung melihat Adit, tanpa ia sadari lalu memeluk Adit lalu meneteskan air matanya
"Kenapa Kak Adit selalu baik padaku?" tanya Rika sesegukan.
"Kamu terlalu banyak bertanya." ucap Adit tersenyum. Rika buru-buru melepaskan pelukannya, ia heran dengan dirinya kenapa ia begitu berani.
"Ma...maaf, Kak Adit." ucap Rika. Adit hanya tersenyum, gadis lugunya itu masih saja canggung dan kaku.
"Hari ini kamu kerja kan?" tanya Adit.
"Iya..." jawab Rika singkat.
Mereka pergi meninggalkan kampus, di dalam mobil Rika hanya diam, setelah menangis tadi ia merasa sangat mengantuk, matanya perlahan menutup.
"Rika..." panggil Adit yang tak mengalihkan pandangannya.
"Rika bagaimana kuliahmu tadi?" tanya adit lagi, ia melihat gadis yang sangat ia sayangi itu sudah tertidur pulas, ia berhenti sebentar dan mengambil bantal kecil di belakang mobilnya lalu pelan-pelan ia menaruh di kepala Rika.
Rika bergerak kearah Adit, wajahnya sangat dekat sekali yang membuat Adit jadi tersentak, jantungnya berdebar, ia jadi sangat takut kehilangan Rika, mobilnya melaju kembali.
"Rika... Kita sudah sampai." ucap Adit lalu menepikan mobilnya. Adit mencoba membangunkan Rika.
"Oh kita sudah sampai ya, Kak?" tanya Rika, ia mengucek matanya, ia tidur sangat lelap tadi rasanya sangat nyaman.
"Sepertinya kamu lelah Rika." ucap Adit.
"Tidak kok Kak Adit, aku selalu semangat kuliah maupun kerja, tapi aku lelah selalu dihina." Rika mengungkapkan isi hatinya.
Adit menghela hapasnya, sepertinya ia harus bekerja keras. Gadis lugunya itu sangat sensitif.
"Tolong percaya padaku Rika, sekarang pergi lah bekerja, tunggu aku nanti malam." ucap Adit memegang tangan Rika.
"Iya, Kak Adit." ucap Rika lalu keluar dari mobil Adit, ia berjalan memasuki supermarket.
***
Pukul setengah sembilan Adit sudah menunggu Rika di depan supermarket, terlihat dari jauh Rika berjalan berdua dengan seorang pria.
"SOP yang tadi sudah selesai semua kan Rik?" tanya Devan.
"Sudah Mas, ini catatannya." Rika memberikan selembaran kertas pada Devan.
"Terima kasih, Rik." ucap Devan lalu menepuk pundak Rika. Mereka saling melempar senyum. Adit hanya melihat dari kejauhan, entah kenapa Adit sangat kesal.
Rika berjalan menuju mobil Adit, ia langsung duduk di samping Adit, Adit hanya diam.
"Sudah lama, Kak?" tanya Rika.
"Tidak juga, ayo pulang pasti kamu lelah." ucap Adit lalu menghidupkan mobilnya, di dalam mobil mereka tak berbicara apapun.
Rika bingung dengan sikap Adit malam ini.
"Kak Adit kenapa? Kakak terpaksa ya menjemputku?" tanya Rika pelan.
Adit langsung menoleh Rika, perkataan Rika sangat tidak benar. Rika langsung terdiam melihat tatapan Adit.
"Kak Adit... Aku lelah." ucap Rika mencoba mengambil perhatian Adit.
"Tidurlah, kalau sudah sampai akan ku bangunkan." ucap Adit tak menglihkan pandangannya. Rika yang sudah kehabisan akal lalu menuruti saja ucapan Adit.