
"Satu minggu lagi Rik! Aku bingung gak ada baju." celetuk Meli yang membuat Rika menghentikan kerjanya.
"Antusias banget." Rika menoleh partner kerjanya itu.
"Iya dong, katanya pernikahan Mas Devan itu sangat istimewa dan juga megah. Rugi kalo kita tampil biasa aja." ucap perempuan berambut pirang itu.
***
Suara petikan gitar hanya terdengar tak karuan seolah-olah menciptakan lagu baru. Adit memainkan senar gitar coklat kesayangannya, bukannya kunci nada yang ia pikirkan melainkan bagaimana nasib skripsinya. Ia berharap semoga dalam dua bulan ini ia sudah menyandang gelar dan menanggalkan dirinya sebagai Mahasiswa.
Sesekali bayangannya di kacau oleh wajah manis sang pujaan hatinya. Wanita itu telah sepenuhnya memikat hati Adit, memang jodoh rahasia Tuhan. Ia tak menyangka dari sekian banyak perempuan yang tergila-gila dengannya, ia bisa jatuh hati pada gadis lugu yang sederhana itu. Notifikasi WA membuyarkan lamunan Adit, satu pesan masuk dari Fina, ia dengan lesu membaca pesan itu.
Fina : Dit, minggu depan jangan lupa datang ke pernikahan sepupuku, Kak Devan ya. Awas gak datang.
"Iya." balas Adit singkat.
Fina sudah mengundang Adit sejak lama,tapi ia masih harus meyakinkan Adit supaya mau datang. papa dan mama Adit juga di undang dipernikahan Devan, karna orangtua Devan adalah salah satu pelanggan setia pak Arsan. Sebenarnya ia sangat malas pergi ke pernikahan itu, tapi pak Arsan dan bu Niken tak bisa datang, ia menyuruh Adit untuk mewakili mereka.
Adit mengambil jaket berwarna abu-abu di sampingnya, ia segera turun dari kamarnya dan langsung berpamitan dengan Bik Eli. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan tepat. Waktunya menjemput perempuan istimewanya.
Adit menunggu di depan supermarket, ia sudah melihat dari kejauhan gadis lugunya itu sedang berjalan mendekati mobilnya, tentu saja dengan senyuman khasnya.
"Sudah lama?"
"Apa tidak ada pertanyaan lain?..."Adit menatap manja gadis lugunya itu. "... Misalnya, kenapa Kak Adit makin ganteng aja?" Adit memasang muka pede di depan Rika.
"Oke, Kak Adit kenapa makin narsis aja?" Rika mengulangi ucapan Adit, tapi meralatnya di bagian yang Adit inginkan. Membuat pria yang memang ganteng itu mencubit pipi Rika dengan gemas.
"Kak Adit..."
"Rika..."
Mereka sama-sama ingin mengatakan sesuatu, tapi Adit mempersilahkan gadis lugunya itu bicara duluan.
"Ada apa?" tanya Adit, ia menyuruh Rika melanjutkan ucapannya tadi.
"Minggu depan atasanku mengadakan resepsi Kak. Apa... Kakak mau menemaniku?"
"Atasanmu yang mana?"
"Namanya, Mas Devan."
Adit terdiam sejenak, ia mengingat nama itu baru saja disebutkan oleh Fina di WA. Apa Devan yang dimaksud Rika adalah sepupu Fina.
"Fina juga mengundangku ke acara pernikahan sepupunya..."
Belum sempat Adit menyelesaikan ucapannya. Rika terlihat mengangguk seolah menyesal telah mengajak Adit. Ia sudah lemah mendengar kata awal dari ucapan Adit. Adit hanya tersenyum lalu memegang pundak kekasihnya itu.
"Aku belum selesai bicara, nama sepupu Fina itu juga Devan. Orangtua Devan itu juga pelanggan setianya Papa, itu berarti kita di undang dengan orang yang sama." papar Adit.
"Aku berencana mengajakmu juga tadi." tambah Adit.
"Jadi... Mas Devan itu sepupunya Kak Fina."
Rika mendadak lesu, ia tak bersemangat lagi untuk pergi minggu depan. Sama saja ia mengejar musuh kalau kesana. Tapi disisi lain, Devan adalah atasannya, Devan juga mengundangnya secara pribadi, Devan memang berharap sekali ia datang.
"Kenapa jadi cemberut gitu?"
"Gak boleh gitu, ingat Devan itu atasan kamu. Tenang saja, kan ada aku." ucap Adit memegang tangan Rika, membuat pipi cabi itu berubah warna.
Adit membaringkan tubuhnya di kasur, jam dindingnya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia segera memejamkan matanya, karna ia tak sabar ingin bertemu gadis lugunya lagi. Aneh padahal baru tiga puluh menit berlalu ia melihat wajah manis itu, tapi rasa rindu itu seolah tak akan pernah habis.
***
Pak Darma sedang duduk diruangannya, ia sedang menunggu kedatangan seseorang yang ia panggil sekitar lima menit yang lalu. Adit datang mengucapkan salam pada Pak Darma, Pak Darma mempersilahkan Adit duduk.
"Adit, skripsimu tak ada yang harus di revisi ulang, sesuai ekspektasi saya. Sidang skripsi kamu bisa dilakukan bulan depan." ucap dosen berkacamata itu.
"Terima kasih banyak, Pak." Adit menyalami dosen pembimbingnya itu.
"Sambil menunggu sidang, saya mau menawarkan kamu untuk jadi Asdos. Kamu bersedia?" tanya Pak Darma.
"Tentu...tentu Pak, terima kasih banyak Pak." Adit menunduk hormat pada Pak Darma.
"Kebetulan, bu Risma sedang membutuhkan asisten." Baru saja Pak Darma menyebut nama dosen yang terkenal killer itu datang memasuki ruangan.
"Kebetulan sekali Bu Risma datang, saya ada rekomendasi asisten dosen untuk Ibu." ucap Pak Darma. Adit menyalami Bu Risma.
"Wah, saya suka pilihan Bapak. Saya tau Aditya ini adalah salah satu mahasiswa terbaik di kampus ini."
"Apa saya harus buat cv dulu, Bu?" tanya Adit sopan.
"Tidak perlu, kamu langsung bisa bantu saya besok."
"Terima kasih banyak, Bu."
Rika sudah menunggu pria tampannya di parkiran. Ia berdiri sambil memainkan ponselnya, entah apa yang dilihat di ponsel itu, ia hanya men-scroll layar ponselnya agar tidak bosan menunggu Adit yang memang lama sekali munculnya.
Adit datang dengan wajah tak biasa, senyumnya sudah terpancar dari kejauhan. Ia sangat senang akan menjadi asisten dosen besok. Walau itu bukan impiannya, tapi ini bisa jadi kesempatan untuk mencari pengalaman.
"Maaf membuatmu menunggu lama. Aku mau mengajakmu makan siang ini. Mau makan bakso aci? Atau cilok? Atau apapun yang kamu mau." Adit langsung menawarkan beberapa makanan kesukaan gadis lugunya itu.
"Kelihatannya senang sekali? Ada apa?" giliran Rika yang melemparkan pertanyaan pada Adit.
"Kamu akan tau besok, ayo katakan kamu mau makan apa?" paksa Adit.
"Emm... Mau apa ya?" Rika mendadak bingung, ia tak tau harus jawab apa.
"Aku mau batagor!" Tidak ada lima menit ia kebingungan, ia sudah mendapat menu baru dalam otaknya. Ia sudah membayangkan perpaduan bakso, tahu goreng yang dikuahi saus kacang itu.
"Makanan kesukaanmu banyak juga ya, sepertinya aku perlu list untuk mengahapalnya." ucap Adit meledek gadis kesayangannya itu.
Rika sedang menikmati batagornya begitupun dengan Adit. Adit baru menyadari betapa nikmatnya makan makanan sederhana seperti ini, semenjak bersama Rika ia menjadi suka dengan makanan yang dulu jarang sekali ia makan. Kesederhanaan ini membuat ia merasakan arti hidup dan arti bersyukur.
"Besok ada kelas bahasa inggris tidak?"
"Ada. Kenapa Kak?" tanya Rika heran.
"Cuma tanya."
Rika merasa aneh dengan sikap Adit hari ini, Adit dari tadi terlihat sangat senang sekali. Salah satu alasan Adit menerima tawaran Pak Darma juga karna Rika, kini ia bisa melihat gadis lugunya duduk di dalam kelas.