Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 61



Sementara direstoran Korea Oppa, Rika sedang asik bernyanyi bersama teman-temannya, sampai lupa waktu. Tiba-tiba ada yang memegang pundaknya dari belakang. Rika menoleh, jantungnya berhenti beberapa detik. Adit sudah berdiri dibelakangnya.


"Halo, semuanya." Adit menyapa teman-teman Rika dengan ramah.


"Hai, Kak Adit." seru beberapa cewek ditempat itu. Mereka memang sudah mengenal Adit, mengingat Adit juga alumni kampus Street. Dan juga cowok populer di kampus.


"Kak Ferdi, saya permisi pulang duluan ya." ucap Rika menunduk hormat pada sang ketua.


"Iya, Rik. Hati-hati." jawab Ferdi.


Adit menarik tangan Rika keluar dari restoran itu.


"Gak nyangka, Kak Adit bisa milih Rika daripada Fina yang cantiknya bak model itu." bisik Lala.


"Memangnya kenapa?" sahut Mirna.


"Tidak ada sih, lebih cocok sama Fina aja menurutku." ucap Lala lalu memakan ramennya lagi.


Didalam mobil, Adit menatap Rika dengan penuh amarah. Ia tak menyangka Rika membohonginya. Rika hanya menunduk, ia bingung harus bagaimana saat ini, posisi dudukpun terasa serba salah. Tangannya pelan-pelan meraih lengan Adit.


"Maaf."


"Kamu tau nggak, ini sudah jam berapa. Kalau Ibu khawatir gimana. Katanya masih sibuk motret. Ternyata, sedang asik nyanyi sama cowok-cowok itu. Kenapa harus bohong?"


"Aku gak mau Kak Adit khawatir."


"Justru kamu seperti inilah aku jadi khawatir." Adit menggeram. "Kenapa tidak langsung pulang saja. Apa kamu mau pulang sama cowok-cowok itu?"


"Tidak Kak, maafkan aku." ucap Rika, tapi Adit tak menggubris ucapannya.


"Kak Adit." Rika menggoyang-goyangkan lengan Adit.


"Aku janji, tidak akan mengulanginya lagi." Rika menatap manja kekasihnya itu. Ia berkali-kali mengucapkan kata maaf dan juga merayu Adit agar mau tersenyum lagi padanya.


"Kak Adit, maafkan aku." Rika mengoyangkan lengan Adit lagi.


Adit tak bisa menahan senyumnya lagi, melihat tingkah Rika yang dari tadi sangat manja.


"Aku ini lagi nyetir, nanti nabrak." ucap Adit berusaha menahan senyummya.


"Maafkan aku dulu." Rika makin terlihat sangat manja.


Adit menghentikan mobilnya. Menatap gadis lugunya dalam. Gadis ini sungguh membuatnya tak bisa berkutik, tak bisa marah beralama-lama.


"Jangan menatapku seperti itu." Rika memalingkan wajahnya.


"Lihat aku." Adit memegang pundak gadis lugunya itu, membuat mereka bertatapan. "Aku mohon, lain kali jangan ulangi lagi. Tolong, jujurlah." tambahnya.


Rika hanya mengangguk. Saat marahpun, Adit tetap saja bersikap lembut padanya. Itulah yang membuatnya tak bisa berpaling dari pria tampan itu. Sikap Adit padanya tak pernah berubah. Selalu lembut.


"Aku lupa mengabari Ibu." Rika langsung mengambil ponsel didalam tas selempangnya. Tapi ditahan oleh Adit, ia memberi kode pada Rika, akan bertanggung jawab atas kejadian ini.


Sesampainya dirumah, Bu Nur sudah duduk di teras. Menunggu kedatangan Rika. Adit dan Rika keluar dari mobil, menyalami Bu Nur yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Maaf Bu, acara di kampus Real tadi memang lama sekali. Jadi pulang agak malam." Adit memberi alasan.


"Kenapa tidak kasih kabar?"


"Maaf Bu, batre hape Rika habis." Rika menunduk, ia sudah siap jika disembur habis-habisan oleh ibunya.


"Sekali lagi maaf ya, Bu. Adit tidak bermaksud bikin Ibu khawatir. Lain kali Adit janji, tidak akan lupa ngabarin Ibu." ucap Adit membungkukkan badannya didepan sang calon mertua.


"Iya, Nak. Tidak apa-apa, Ibu percaya kok sama kamu." ucap Bu Nur luluh.


***


Kembali bertemu senin pagi, dengan malas Rika beranjak dari tempat tidurnya, ia merasa masih merindukan sprey spongebob itu. Tapi, hari ini ada beberapa jadwal ujian di kampus. Setelah bersiap, ia meraih ponselnya diatas meja, melihat Adit sudah mengirim pesan untuknya.


Maaf, aku tidak bisa mengantarmu, ada meeting pagi ini.


Rika hanya menghela napas panjang, sebenarnya ia masih rindu dengan Adit. Setelah pertemuan tidak baik tadi malam, bukannya mengurangi rasa rindu, malah makin bertambah. Memang rasa cinta ini sepertinya sudah memuncak.


Rika mengeluarkan buku-bukunya, untuk persiapan ujian nanti. Sebelum Pak Ilham masuk ke ruangan, ada baiknya menghapal lagi. Jeni yang berada disampingnya, dari tadi hanya senyum tak jelas, memandangi layar ponselnya. Rika memiringkan badannya, melihat apa isi ponsel itu, hingga membuat Jeni seperti orang tidak waras, pikirnya.


"Eh Rik, sejak kapan kamu jadi orang kepo?" Jeni menjauhi ponselnya.


"Abis kamu sih, dari tadi senyum-senyum sendiri kayak oran gila."


"Huuu... Kamu juga kalau diromantisin kak Adit pasti juga kayak Aku, atau mungkin lebih parah." Ucapan Jeni memang benar, pikir Rika. Tapi ini kan mau ujian, memang sahabatnya itu, kalau sudah dihadapkan dengan ponsel, bahkan lupa tempat dan waktu. Kalau pak Ilham sampai tau, mungkin ponsel itu tak akan berada ditangan Jeni lagi.


Sejenak ia menghentikan kegiatan membacanya. Ia jadi teringat pada Adit. Pasti di kantor, Adit selalu berduaan dengan Fina. Membuat pikirannya jadi kacau. Cemburu bercampur khawatir jadinya. Ia berusaha menyibukkan diri lagi, supaya rasa was-wasnya hilang beberapa jenak, menjelang ujian ini selesai.


***


"Dit, kita ada satu jadwal meeting lagi nih sama klien dari Jogja." ucap Fina memberi jadwal pada Adit.


"Oke, Fin." Adit tak mengalihkan pandangan dari laptopnya. Fina tiba-tiba mendekat ke arahnya, melihat apa yang dikerjakan Adit.


"Kamu lanjutin kerjaan kamu aja, Fin." Adit agak risih dengan kelakuan Fina.


"Iya deh, Pak boss." Fina lalu beranjak pergi, ia memegangi kepalanya, tiba-tiba hilang keseimbangan untuk berdiri. Melihat itu, Adit segera berdiri dan menangkap Fina.


"Kamu kenapa?"


"Gak tau nih, kayaknya aku kelelahan deh." ucap Fina, yang mendramatisir keadaan, mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Apa perlu aku antar pulang?" tanya Adit.


"Tidak usah, Dit. Nanti aku minum obat saja. Tapi, tolong antar aku keruanganku ya."


Adit mengangguk, ia pasrah dengan rangkulan Fina. Semua pasang mata yang ada di kantor itu terlihat senyum-senyum tak jelas. Fix! Mereka pasti menganggap Fina dan Adit pacaran. Karna, Adit selalu memperlakukan Fina dengan sepsial. Adit terpaksa baik sama Fina, mengingat Fina ini adalah anak teman mamanya. Lagipula ia tau, Fina pintar sekali merekayasa sesuatu. Untuk sekarang, ikuti saja dulu. Pikirnya.


Pekerjan ini semakin rumit saja, kenapa mamanya menerima Fina sebagai sekretarisnya. Bukan pekerjaan yang membuat rumit, tapi Finalah yang memusingkan kepalanya. Saking sibuknya, hari ini ia belum ada mengabari Rika. Sampai sorepun pekerjaannya masih menumpuk.


Sudah pukul empat sore, Rika sudah berada di Enjoymart. Hari ini ia bertugas di mesin kasir, Ia juga sibuk melayani pembeli. Sesekali ia juga kepikiran Adit. Adit tak ada menghubunginya sama sekali. Apa dia sedang asik bersama Fina? Pikiran Rika selalu mengarah kesitu.