Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 33



Rika pulang dengan perasaan senang, karna malam ini turun hujan yang lumayan deras. Ia tak mengambil jas hujan, ia ingin menikmati cairan bening yang turun dari langit itu, mungkin dengan cara ini lah ia bisa melepaskan semua masalahnya.


"Aduh, segernya..." uca Rika tersenyum, ia tak mempedulikan resiko jika hujan-hujanan malam hari seperti ini.


Setelah sampai di rumah, Rika buru-buru mengganti bajunya, Bu Nur hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak semata wayangnya itu.


"Kenapa hujan-hujanan, Nak? Nanti sakit loh." ucap Bu Nur, sembari membuatkan teh hangat untuk Rika.


"Seger Bu, kayak mandi." ucap Rika lalu duduk di depan televisi.


"Kamu tuh, kebiasaan." ucap Bu Nur lalu memberikan segelas teh hangat untuk Rika.


Pukul tujuh pagi, Rika belum juga bangun dari tempat tidurnya, Bu Nur sudah mengetuk pintu kamarnya beberapa kali, tapi tak ada jawaban.


"Rika... Kamu gak kuliah, Nak?" tanya Bu Nur di balik pintu, tapi Rika tak juga menjawab.


"Bangun Nak, sudah siang." ucap Bu Nur menggoyangkan pelan tubuh Rika. Tapi Rika tak kunjung bangun juga.


"Rika!" Bu Nur meninggikan suaranya, ia sangat panik melihat anaknya yang tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Ia memegang kening Rika, panas sekali.


"Bangun, Sayang. Makanya jangan hujan-hujanan." ucap Bu Nur, ia tak bisa menahan air matanya. Bu Nur lalu berlari ke luar rumah, ia hendak pergi ke rumah dokter Verza, yang rumahnya tak jauh dari rumah Rika. Dokter Verza memang sering dapat panggilan darurat seperti ini, dokter Verza bekerja di puskesmas tempat Rika tinggal. Kebetulan sekali dokter Verza hendak keluar rumah.


"Dokter!" seru Bu Nur dari jauh.


"Ada apa, Bu Nur?" tanya dokter Verza yang terlihat kebingungan.


"Rika dok, Rika pingsan cepat kerumah Ibu dok." ucp Bu Nur lalu menarik tangan dokter Verza.


"Baik Bu, ayo naik motor saya saja." ucap dokter Verza lalu melajukan motornya.


Dokter Verza mengecek suhu Rika, sangat tinggi. Rika terbangun, ia melihat dokter Verza sedang duduk di sampingnya.


"Ibu..."


"Syukurlah, Rika sudah bangun. Dia hanya demam tinggi, Bu. Tapi harus banyak istirahat, kalau bisa jangan melakukan aktifitas dulu." ucap dokter Verza.


"Terima kasih dok, dia dibilangin ngeyel dok, tadi malam habis hujan-hujanan." ucap Bu Nur menyesali perbuatan Rika tadi malam. Dokter Verza hanya tersenyum mendengar ucapan Bu Nur.


"Ini obatnya Bu, jangan khawatir kalau suhunya naik lagi, kompres saja terus berikan obat ini." dokter Verza mamberikan tiga macam obat untuk Rika.


"Apa perlu di suntik saja, dok?" tanya Bu Nur, Rika langsung menggeleng mendengar ucapan Bu Nur, dari dulu ia sangat takut dengan jarum suntik.


"Tidak usah Bu, Rika sudah baikan kok." ucap Rika dengan nada lemas.


"Memang sebaiknya kamu di suntik." ucap dokter Verza lalu menyiapkan jarum suntik.


"Jangan, dok!" Rika lalu menutup matanya.


"Sudah besar masak takut sama jarum suntik." ucap dokter Verza tersenyum.


"Kamu mau cepat sembuh tidak, malu sama dokter Verza." ucap Bu Nur memaksa anaknya itu.


***


"Hey, Jen!" seru Adit, ia melihat Jeni hendak masuk ke kelasnya.


"Eh, ada apa Kak? Cari Rika ya, Rika tidak ke kampus hari ini Kak, katanya sakit." Belum lagi Adit bertanya, tapi Jeni sudah mengatakan semuanya. Jeni sudah tau kalau Adit mencarinya pasti menanyakan soal Rika.


"Terima kasih, Jen." Adit buru-buru mengambil mobilnya, ia langsung pergi kerumah Rika.


Bu Nur sedang melayani orang yang yang sedang berbelanja di warungnya. Adit keluar dari mobilnya.


"Bu, Rika kenapa?" tanya Adit lalu menyalami Bu Nur.


"Eh Nak Adit, Rika demam tinggi Nak, tadi malam dia hujan-hujanan, tapi sudah membaik kok, masuk saja Nak kalau mau lihat." ucap Bu Nur mempersilahkan Adit masuk. Adit mengangguk, lalu memasuki kamar Rika. Terlihat Rika sedang tertidur pulas. Adit menghela napas panjang, ia tak tega melihat gadis lugunya lemah tak berdaya seperti ini.


"Dinginn..." Rika mengigau, bibirnya bergetar, ia terlihat sangat kedinginan.


Adit langsung menyelimuti Rika, tapi Rika malah memegang tangannya. Adit membiarkan itu terjadi.


"Aku dingin..." ucap Rika lagi, ia memeluk tangan Adit dan hendak memasukkan tangan Adit ke dalam bajunya, buru-buru Adit menarik tangannya, Adit lalu mengompres kening Rika.


"Maafkan aku Rika, gara-gara aku kamu jadi kehilangan ayahmu secepat ini." ucap Adit menyalahkan dirinya sendiri. Padahal semua itu sudah takdir. Setelah setegah jam Adit menunggu Rika, akhirnya Rika bangun juga, betapa terkejutnya Rika melihat Adit ada di sampingnya. Ia langsung mendudukkan badannya.


"Ngapain disini?!" ucap Rika dengan nada ketus.


"Mau menjenguk gadis luguku." ucap Adit menatap Rika dengan senyum manisnya.


"Pulang saja, aku sudah baikan." ucap Rika tak menoleh Adit sedikitpun.


"Oh ngusir nih, tadi nyaman tidur sambil meluk tanganku." ucap Adit menggoda Rika.


"Mana ada!" ucap Rika sedikit membentak. Ia lalu terdiam, ia memang merasa sangat nyaman saat tidur tadi, serasa ada yang menemaninya, dia kira itu hanya mimpi.


"Kamu ngigau tadi, istirahatlah." ucap Adit tapi tak digubris Rika.


"Mau makan? Aku suapi, ya." ucap Adit lalu mengupas buah apel yang di bawanya tadi.


"Tidak nafsu, apalagi kamu yang nyuapin." ucap Rika lalu menoleh ke arah jendela kamarnya. Adit tak kehabisan akal, ia lalu memasukkan setengah potongan apel itu dan mendekatkan wajahnya ke Rika. Ia mencolek Rika hingga membuat Rika menoleh ke arahnya, spontan saja Rika menggigit apel itu. Betapa terkejutnya Rika dengan perlakuan Adit, jantungnya berdebar kencang. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya, terpaksa ia memakan apel itu. Adit hanya tersenyum melihat tingkah Rika.


"Rika..." Adit menatap Rika dalam-dalam.


"Sekali lagi aku minta maaf, aku akan terus minta maaf sama kamu, sampai kamu memaafkanku, tolong katakan apa yang harus aku lakukan?" ucap Adit, Rika masih diam.


"Aku rela kalau kamu mau melaporkanku ke polisi, atau... Aku rela menyusul ayahmu." ucap Adit yang tak hentinya menatap Rika, Rika langsung menoleh Adit, mana mungkin ia menjebloskan Pria yang sangat ia cintai ke penjara. Jika Adit menyusul ayahnya, itu berarti ia harus kehilangan pria yang ia cintai untuk kedua kalinya.


"Jangan ngasal!" ucap Rika cemberut.


Adit tersenyum mendengar ucapan Rika. Ia tau di lubuk hati gadis lugunya itu masih menyayanginya.


"Takut ya, kehilangan aku." ucap Adit menggoda Rika lagi.


"Kak Adit pulang sana, aku mau istirahat." ucap Rika, tapi hatinya menginginkan Adit tetap terus di sisinya.


"Ya sudah, cepat sembuh Rika." ucap Adit lalu pulang.