Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 45



Rika bangun dari tempat tidurnya, ia masih merasakan sakit di pergelangan tangannya karna bekas ikatan kemarin malam. Ia masih mengingat kejadian itu, sungguh menakutkan. Hanya karna ingin melupakan Adit, ia mau-mau saja di ajak Jeni untuk nonton konser itu, ia tak mencari tau lagi begitupun dengan Jeni.


Rika mengenakan sepatunya, tangannya masih tampak merah. Bu Nur tidak tau sedikitpun masalah tadi malam, Rika dan Adit sengaja menyembunyikannya dari Bu Nur, mereka takut kalau Bu Nur jadi khawatir.


"Kamu pergi sama siapa, Nak?" tanya Bu Nur tiba-tiba datang menghampiri Rika yang membuat dirinya spontan menyembunyikan pergelangan tangannya.


"Pa...pakai motor sendiri saja, Bu."


"Oh, ya sudah. Ini uang bensinnya, Nak." Bu Nur memberikan selembar uang berwarna biru pada Rika.


"Tidak usah Bu, Rika masih ada kok."


"Ambil saja Nak, untuk jajan."


"Terima kasih, Bu." Rika mengambilnya dengan cepat, agar Bu Nur tidak melihat pergelangan tangannya yang masih merah.


"Hmmm. Katanya tidak usah, tapi cepat sekali menyambar." uca Bu Nur tersenyum. Rikapun membalas senyum Ibunya.


Rika sengaja berlama-lama mengambil motornya, ia sangat berharap Adit datang menjemputnya, tapi sepertinya Adit tidak akan menjemputnya. Sia-sia saja dia menunggu yang ada hanya membuat dia terlambat ke kampus. Saat Rika hendak menghidupkan motornya, tiba-tiba ada suara mobil mengarah kerumahnya. Ia hapal sekali dengan suara mobil itu. Adit keluar dari mobilnya lalu menghampiri Rika.


"Kenapa pakai motor sendiri?"


"Terus, apa aku harus jalan kaki?" tanya Rika balik.


"Maaf aku agak terlambat, sini biar kumasukkan motornya. Cepatlah masuk mobil." Adit lalu mengambil motor Rika dan memasukkannya ke dalam bagasi mini rumah Rika. Rika hanya menuruti kata Adit, ia memasuki mobil duluan. Adit berpamitan dengan Bu Nur.


Di dalam mobil mereka hanya diam, Adit sesekali menoleh Rika yang sedang memainkan rambutnya, ia bingung tak tau harus berbuat apa. Mau bicara, tapi mulutnya seperti beku. Sampai di kampus pun Rika langsung turun dengan cepat dan Adit pun juga tak menahannya.


"Jeni!" seru Rika dari kejauhan, ia melihat Jeni sedang berjalan menuju kelas.


"Hey, Rik. Kamu tidak apa-apa kan?..." Jeni memegang tangan sahabatnya itu. "... Maafkan aku Rik, ini semua salahku. Aku sama sekali tidak tau tentang Band itu, aku cuma suka dengan lagu-lagunya, niat hati ingin bertemu orangnya langsung, eh, malah jadi gini."


"Tidak apa-apa Jen, aku justru mengkhawatirkanmu, apa kamu baik-baik saja?"


"Untunglah waktu kerusuhan tadi malam aku dengan cepat berlari ke mobil dan pulang, aku kapok deh, Rik. Nonton konser seperti itu." Jeni juga merasa ketakutan malam itu.


"Sama, aku juga."


Mereka berdua pun tertawa geli mengingat kejadian malam itu, dua gadis itu memang tidak tau apa-apa tentang konser rusuh itu. Mereka berjanji tidak akan menonton konser sembarang seperti itu lagi yang membuat nyawanya terancam.


***


Pukul dua siang, sudah waktunya Rika pergi ke supermarket, ia berjalan menuju mobil Adit. Disana Adit sudah terlihat menunggunya terlebih dahulu, langkah Rika menjadi begitu berat tapi mau tidak mau ia harus menghampiri Adit. Ia masih merasa takut kalau pergi sendirian ke supermarket.


"Antar aku ke supermarket." ucap Rika lalu buru-buru ia masuk ke dalam mobil. Adit hanya mengangguk, Ia lalu menghidupkan mobilnya dan melaju.


"Jangan pergi kemana-mana lagi tanpa sepengetahuanku." Adit menoleh Rika yang sedang menoleh ke arah jendela.


"Untung saja malam itu aku mencarimu, kalau tidak kamu akan celaka." tambah Adit.


"Seharusnya aku yang marah." bisik Rika yang di dengar oleh Adit.


"Aku tau kamu marah padaku, aku minta maaf. Memang tidak seharusnya aku bicara seperti kemarin."


"Kakak tau tidak, selama bersama Kakak, aku terlalu sering mengeluarkan air mata, batinku tertekan, semua orang selalu mengejekku, aku merasa malu, Kak. Dan di belakangku Kakak juga bilang pada orang kalau Kakak hanya kasijan padaku. Itu sungguh membuatku sakit."


Adit terdiam, ia baru menyadari yang dikatakan Rika, selama Rika bersamanya Rika selalu mengeluarkan air mata, ia tak tau bahwaa orang-orang selalu mengejek Rika, itu semua karna dia.


"Maaf."


"Awww..." Rika buru-buru meniup tangannya yang masih agak nyeri.


"Kenapa?" Adit langsung mengehentikan mobilnya, ia langsung memegang tangan Rika.


"Masih sakit, ya?" tanya Adit sambil mengelus pergelangan tangan Rika.


"Tidak, ini karna kesenggol saja. Ayo jalan Kak. Nanti aku terlambat kerja." ucap Rika menarik tangannya.


"Kalau masih sakit tidak usah kerja dulu, ya." Adit menatap Rika.


"Aku baik-baik saja." jawab Rika.


***


Adit sudah menunggu Rika di depan supermarket, ia sengaja menjemput Rika lebih cepat karna ia takut kalau Rika nekat pulang sendirian. Adit sadar kalau ia sudah bersalah pada Rika, tentu Rika tak akan mudah memaafkannya begitu saja.


"Pulang sama siapa, Rik?" tanya Devan yang berjalan beriringan dengannya.


"Dijemput, Mas."


"Hmm. Sama si doi ya?" tanya Devan lagi.


"Hahaha. Mas ini meledek saja."


Rika memasuki mobil Adit, ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Adit jadi bingung harus berbuat apa, gadis lugunya itu sangat susah diluluhkan.


"Kamu tidak mau nanya lama atau tidak aku menunggu atau jam berapa aku berangkat dari rumah?" pancing Adit supaya Rika berbicara.


"Memangnya, lama?"


"Sekitar satu jam." jawab Adit.


"Kenapa lama sekali?" tanya Rika heran.


"Aku takut nanti kamu pulang sendiri."


"Niatnya sih memang begitu." jawaban Rika membuat Adit menghela napas panjang.


"Rika... Aku tau kamu pasti masih marah padaku, maafkan aku Rika. Aku mengaku salah."


Bagaima aku bisa marah denganmu, Kak. Batin Rika.


"Aku mohon, maafkan aku." Adit menatap Rika.


"Menyetirlah dengan benar." Rika mengalihkan pembicaraan yang membuat Adit kembali menatap jalanan yang sudah tampak sepi itu.


Merekapun sampai di rumah Rika, perjalanan yang hanya tiga puluh menit terasa sangat lama bagi Rika. Ia tak tahan untuk sampai ke rumah.


"Istirahatlah." Adit menatap Rika yang membuat Rika menjadi gugup saat melepaskan sabuk pengamannya.


"Biar kulepaskan." Adit lalu mendekati Rika dan melepaskan sabuk pengamannya. Tiba-tiba Rika langsung memeluk pria tampan itu. Ia tak sanggup berlama-lama marah dengan Adit. Sikap Adit yang selalu lembut padanya lah yang membuat Rika luluh.


"Tolong jangan buat aku meneteskan air mata lagi." ucap Rika masih memeluk Adit.


"Tidak akan." jawab Adit tersenyum membalas pelukan Rika, ia lega karna gadis lugunya itu sudah tidak marah lagi padanya.


"Sekarang istirahatlah, kamu pasti lelah." Adit mengelus rambut gadis lugunya itu. Rika hanya mengangguk seperti anak kecil. Aditpun pulang dengan hati yang kembali senang karna sudah melihat gadis lugunya itu kembali tersenyum manis padanya.