
Tepat pukul lima sore Rika sampai dirumahnya, ia langsung melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Rika melihat ibunya sudah tidak ada lagi di warung, mungkin sudah dibereskan, pikir Rika. Ternyata benar ibunya sudah ada di dapur memasak untuk makan malam.
"Waaahhh... Ibu masak apa? tanya Rika sambil mencium aroma lezat dari wajan.
"Tumis kangkung sama ikan goreng Nak, kamu sudah pulang? Sore sakli." tanya Bu Nur.
"Iya Bu maaf gak ngabarin, tadi Rika kerumah Kak Adit, Bu." ucap Rika jujur.
"Ya ampun Nak, jangan terlalu agresif dong." ucap Bu Nur mengejek Rika.
"Ih Ibu, baru kali ini kok Bu, Rika berteman sama laki-laki." ucap Rika. Kecuali dulu sast ia kecil. Yaitu Sandi.
"Kak Adit sakit, Bu. Makanya Rika jenguk dia tadi." tambahnya.
"Oh gitu, perhatian sekali kamu, Nak." ucap Bu Nur lalu tertawa kecil. Ia tak pernah melihat anak semata wayangnya lagi di mabuk cinta seperti ini.
"Bukan gitu Bu, dia sakit karna jemput Rika hujan-hujan kemarin. Lagian dia aneh Bu, masak dia trauma sama hujan." ucap Rika bercerita pada Ibunya
"Yaaa... Namanya juga trauma Nak, memangnya dia kenapa bisa trauma sama hujan?" tanya Bu Nur penasaran.
"Katanya dulu waktu hujan deras, dia pernah nabrak seseorang sampai meninggal Bu." ucap Rika menceritakan semuanya.
Bu Nur langsung terdiam, ia memikirkan yang terjadi dengan suaminya dulu, apa mungkin Adit orangnya, tapi yang mengurus semuanya bukan anak muda melainkan sepasang suami istri. Ikan yang ia goreng pun sudah matang.
"Bu... Ibu, itu ikannya sudah matang." ucap Rika membuyarkan lamunan Ibunya.
"Oh iya Nak, hampir saja gosong. Kamu mandi dulu sana." ucap Bu Nur menyuruh Rika.
"Iya, Bu." ucap Rika lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Dimeja makan Rika mencoba berbicara pada Ibunya, ia ingin meminta izin untuk membeli laptop, karna ia sangat membutuhkan laptop untuk mengerjakan tugas kuliahnya.
"Bu... Rika boleh bicara sesuatu tidak?" tanya Rika.
"Ada apa Nak? Sepertinya serius sekali?" ucap Bu Nur penasaran.
"Gini Bu, Rika mau beli laptop buat kuliah." ucap Rika sangat berhati-hati.
"Ya kalau itu penting, kamu harus beli sayang, kita bisa berhemat kok." ucap Bu Nur tersenyum.
"Kamu boleh pakai tabungan kita dulu." ucap Bu Nur lagi.
"Jangan dong Bu, nanti tunggu Rika gajian saja belinya, tapi kita gak bisa nabung dulu. Ternyata kuliah mahal ya Bu biayanya. Kalau tau gini mending Rika kerja saja Bu." ucap Rika sedih.
"Jangan seperti itu sayang, kamu sudah bekerja keras. Ibu akan bantu kamu sekuat tenaga, Ibu sayang sekali sama Rika." Bu Nur langsung memeluk Rika.
"Iya Bu, Rika akan semangat buat masa depan Rika dan juga hari tua Ibu nanti." ucap Rika tersenyum kembali.
Mereka pun beranjak ke kamar untuk istirahat setelah lelah melakukan kegiatan.
Keesokan harinya, seperti biasa Rika bersiap-siap untuk pergi kuliah setelah membantu Ibunya membawa barang-barang ke warung. Hari ini Rika sudah janji untuk menjemput Jeni. Rika pun berpamitan pada Ibunya, ia langsung ke rumah Jeni untuk berangkat bersama. Sesampainya di kampus, Rika dan Jeni hendak berjalan ke kelas, tiba-tiba mata Rika tertuju pada Adit yang juga berada di parkiran, tapi ia langsung pergi begitu saja tanpa menegur Rika.
"Jen kenapa dia jadi cuek sekali ya?" tanya Rika.
"Dia siapa? Memangnya kamu lihat siapa?" tanya Jeni yang sibuk merapikan rambutnya.
"Ya ampun Rik, namanya juga cowok idaman kampus, mana mungkin dia mau negur kita." ucap Jeni.
"Tapi kemarin dia makan siang bersamaku, itu maksudnya apa?" ucap Rika.
"Yee... Rika sayang, makanya jangan terlalu di bawa perasaan, memang begitu cowok keren kadang baik kadang ketus, saranku ya Rika, jangan terlalu dekat lah sama Kak Adit, kamu kan belum tau sifat aslinya gimana." ucap Jeni memberi saran pada Rika.
Rika hanya mengangguk. Ia berpikir, kata-kata Jeni mungkin ada benarnya juga. Merekapun menuju ke kelas.
Rika dan Jeni hendak menuju ke parkiran untuk pulang, kebetulan Jeni juga mau ke Enjoymart untuk membeli beberapa keperluan make up nya. Saat menuju ke parkiran ada yang memanggil Rika, ternyata Pak Ilham dosen Rika.
"Rika... Keruangan saya sebentar ya." ucap Pak Ilham.
"Baik Pak." ucap Rika.
"Kamu tunggu di parkiran sebentar ya Jen." tambah Rika, Jeni pun mengangguk tanda setuju.
Diparkiran, Jeni sedang memainkan ponselnya, tiba-tiba ia di datangi tiga gadis cantik tak lain adalah Fina, Sela dan Rara.
"Eh temannya udik, ngapain sendirian di parkian, ngenes banget." ucap Fina mengejek Jeni. Jeni hanya diam tak menggubris omongan Fina.
"Hahaha kasian, makanya gak usah temenan sama si udik." tambah Sela.
"Heh Kak Fina! Rika tuh gak udik ya! Kamu aja kalah sama dia." Jeni angkat bicara.
"Maksud kamu apa?!" tanya Fina geram.
"Ya iya lah, kemarin Kak Adit jemput Rika dan mereka makan malam bersama, sedangkan kamu di anggap saja tidak sama Kak Adit" ucap Jeni santai.
"Apa! Awas saja si udik akan aku beri pelajaran! Ayo girls kita pergi dari dini." perintah Fina pada kedua temannya.
"Husss sana saja kalian, dasar toples kacang!" ucap Jeni sangat marah pada mereka.
"Aduuuuhhh... Aku keceplosan, kenapa aku bilang pada mereka. Wah, bakal terjadi sesuatu sama Rika nih." bisik Jeni merasa sangat bersalah pada Rika.
Rika keluar dari ruangan Pak Ilham dengan wajah sumringah, ia sangat senang hasil tugasnya memuaskan, ia buru-buru keparkiran menemui Jeni. Saat menuju ke parkiran ia melihat Adit lagi, tapi ia hanya asik dengan ponselnya.
"Jeniii... Aku senang sekali hasil kerjaku memuaskan." ucap Rika berteriak.
"Wahh, selamat deh." ucap Jeni datar.
"Kamu kenapa mendadak lesu?" tanya Rika.
"Maafin aku Rika, tadi aku keceplosan bilang ke Kak Fina kalau kamu makan malam kemarin sama Kak Adit habisnya mereka mencela kamu terus." ucap Jeni menyesal.
"Kamu kebiasaan deh Jen, tapi ya sudah tidak usah dipikirkan, ayo kita pergi." ucap Rika tersenyum.
"Kamu gak marah kan Rik?" tanya Jeni.
"Ya ampun Jen, kenapa aku harus marah sama kamu, kamu membelaku tadi, aku tidak takut kok sama mereka" ucp Rika meyakinkan Jeni bahwa ia sama sekali tidak marah pada Jeni.
Mereka pun pergi ke supermarket tempat Rika bekerja. Rika berpamitan pada Jeni, ia hendak mengganti baju untuk kerja. Jeni juga masuk ke dalam supermarket untuk membeli alat-alat make up nya.