Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 20



Hari ini mama dan papa Adit berencana akan pulang kerumah, Adit sedang duduk di depan televisi, ia terlihat sedang menunggu kedatangan mama dan papanya. Adit tidak menjemput mereka karna tidak di perbolehkan oleh mamanya. bu Niken memang melarang Adit untuk berkendara terlalu jauh, ia takut terjadi apa-apa dengan Adit, karna kejadiannya dimasalalu. Ia sangat takut kehilangan anak kesayangannya.


"Pa, gimana ya cara menghilangkan traumanya Adit?" tanya Bu Niken yang sedang duduk menatap jalan di samping jendela kaca mobil mereka.


"Yah obati saja, bawa ke psikiater atau terapi apa gitu." ucap Pak Arsan yang tampak sibuk memainkan ponselnya.


"Sepertinya Adit gak akan mau Pa." ucap Bu Niken lagi.


"Nanti lama-lama juga hilang, apalagi kalau dia sudah punya pacar." ucap Pak Arsan yang masih tak mengalihkan pandangannya.


"Ada-ada saja Papa ini." ucap Bu Niken kesal dengan ucapan suaminya itu.


Mereka pun sampai di rumah, Adit yang sedari tadi menunggu langsung berjalan ke depan untuk membukakan pintu. Ia sangat senang kedua orangtuanya pulang hari ini, walaupun hanya tiga hari, setelah itu orangtuanya akan kembali untuk mengurusi bisnis mereka.


Setelah selesai bermanja-manja dengan kedua orangtuanya, Adit langsung ke kamar, ia mengambil gitar di atas kasurnya.


"Rika sekarang lagi ngapain ya?" gumam Adit lalu memetik gitarnya.


Tokk...tokk...


"Sayang Mama boleh masuk?" tanya Bu Niken di balik pintu kamar Adit.


"Masuk aja Ma." teriak Adit dari dalam.


"Ada apa Ma?" tanya Adit lalu meletakkan gitarnya di atas meja.


"Tidak ada kok sayang, Mama masih kangen sama si ganteng Mama ini" ucap Bu Niken lalu mengelus lembut rambut Adit.


"Adit juga masih kangen sama Mama." ucap Adit lalu mencium pipi Mamanya.


"Gimana kuliah mu, baik-baik saja kan?" tanya Bu Niken.


"Iya, Ma, baik kok." jawab Adit.


"Kamu jangan nyetir jauh-jauh ya sayang, atau nggak Mama kasih supir saja?" Ucap Bu Niken, ia berniat memberikan supir untuk Adit, ia berharap Adit menerimanya.


"Tidak usah Ma, Adit bisa kok." ucap Adit tersenyum pada Mamanya.


"Ma... Adit boleh tanya sesuatu?" tanya Adit sangat berhati-hati.


"Hmm... Mama tau apa yang ingin kamu tanyakan Nak, sudahlah lupakan semua masalalu kamu, jangan di ungkit lagi, itu hanya akan membuat traumamu menjadi semakin parah." Bu Niken menahan air matanya.


"Gak bisa gitu Ma, Adit harus tau siapa keluarga yang Adit tabrak dulu, Adit mau minta maaf Ma, mungkin dengan cara ini trama Adit akan hilang." ucap Adit meyakinkan Mamanya.


"Tidak bisa Nak, belum saatnya kamu tau." Bu Niken lalu pergi keluar meninggalkan Adit.


"Aku akan cari tau sendiri." gumam Adit, ia bertekad akan menemukan keluarga orang sudah ia tabrak dulu.


***


Bu Niken menyiapkan sarapan pagi untuk kedua laki-laki yang sangat ia cintai itu. Ia sudah mempersiapkan semuanya. Ia melihat jam di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, iapun memanggil Adit dan Pak Arsan.


"Gimana kuliah mu Dit?" tanya Pak Arsan lalu menyuap sesendok nasi gorengnya.


"Lancar Pa." jawab Adit singkat.


"Baguslah, kapan ngenalin calon menantu Papa?" tanya Pak Arsan santai.


"Uhukkk... Apaan sih Pa, gak ada kok." Adit langsung tersedak mendengar pertanyaan Papanya itu.


"Kan Adit anaknya Papa, ya sudah Adit berangat kuliah dulu ya." ucap Adit berpamitan degan kedua orang tuanya. Ia menuju ke bagasi mobil.


Di parkiran Adit celingukan melihat di barisan parkir motor, ia tidak melihat motor Rika disana, tiba-tiba ada suara motor menuju ke parkiran. Rika terlihat sangat buru-buru, Rika memang sering terlambat seperti ini, karna ia hanya mempunyai jam tidur sedikit.


Rika langsung memarkirkan motornya, tanpa ia sadari helmnya tidak ia lepas, Adit yang melihat itu hanya tersenyum lalu mengejar Rika.


"Rika tunggu..." ucap Adit agak mengeraskan suaranya. Tapi Rika tak menoleh sedikit pun, dengan langkah kaki Adit yang panjang ia bisa menghentikan langkah Rika.


"Ada apa Kak Adit, maaf aku buru-buru karna sudah terlambat." ucap Rika, ia hendak berjalan lagi, tapi Adit memegang tangan Rika ia mendekati Rika, yang membuat Rika jadi gugup.


"Tunggu dulu Rika, memangnya kamu mau masuk kelas pakai helm?" ucap Adit sambil melepaskan helm Rika, lalu ia merapikan rambut pendek Rika yang agak berantakan, Rika dan Adit bertatapan sangat dalam.


"Eh, ter...terima kasih Kak Adit, aku titip helmnya ya, aku buru-buru." ucap Rika lalu berlari meninggalkan Adit.


Adit hanya diam memegang helm Rika, ia hanya tersenyum melihat Rika yang salah tingkah kalau ia dekati, ingin ia mencubit pipi mungil Rika, ia membawa helm Rika ke mobilnya.


***


Rika berjalan menuju parkiran sambil memakan cemilannya. Ia hendak mengambil motornya, ia teringat kalau helmnya tadi di titipkan ke Adit, tapi helm Rika tidak ada dimotornya. Rika kebingungan, ia celingukan ke arah parkir mobil berharap Adit ada di sana.


Dimana kak Adit? apa aku telpon saja ya, batin Rika.


Rika membuka tas selempangnya ia mengambil ponselnya, ia hendak menelpon Adit.


Tutt...tutt....


Rika menggigit bibirnya, menunggu Adit mengangkat telpon darinya.


"Angkat dong Kak Adit, aku buru-buru nih." gumam Rika gelisah.


"Halo. . . Kak Adit."


"Halo Rika." terdengar suara Adit sangat dekat sekali di telinga Rika, ia menoleh kebelakang ternyata Adit sudah ada di belakangnya. Rika langsung mematikan ponselnya, ia sangat malu kenapa dia tergesa-gesa sekali sampai menelpon Adit. Coba saja dia sabar menunggu Adit ke parkiran.


"Loh kenapa di matikan?" ucap Adit tersenyum melihat Rika yang tampak malu sekali.


"I...itu sayang pulsa." ucap Rika gugup.


"Aku juga sayang." ucap Adit menatap wajah Rika dalam.


"Maksudnya?" tanya Rika yang tampak kebingungan.


Adit hanya tersenyum, ia tak melanjutkan perkataannya tadi, ia merasa ini bukan waktu yang tepat.


"Tidak ada, sebentar aku ambilkan helmmu." ucap Adit lalu berjalan menuju mobilnya. Ia mengambil helm Rika lalu memberikannya kepada Rika.


"Terima kasih Kak, kenapa tidak Kakak letakkan di motorku saja tadi, jadi Kakak tidak repot-repot lagi mengambilnya."


"Karna aku mau ketemu kamu." ucap Adit menggoda Rika lalu tersenyum.


"Apaan sih Kak Adit, nanti kalau Kak Fina lihat bagaimana?" ucap Rika memarahi Adit, tapi di dalam hatinya ia sangat senang jika Adit menggombalinya.


"Ingat Rika, kamu jangan takut sama siapapun di kampus ini."ucap Adit sambil mengelus pundak Rika lalu pamit pulang pada Rika.


Rika hanya terdiam mendengar perkataan Adit. Rika tau, dia tidak boleh takut dengan siapapun, tapi Aditlah yang membuat dia jadi takut untuk berbuat sesuatu, karna Adit mempunyai banyak penggemar di kampus Street.