Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 46



Adit memberikan hasil skripsinya ke dosen pembimbing, ia sangat berharap tugas akhirnya itu akan bagus dan tidak di revisi lagi. Ia sudah menhabiskan banyak tenaga untuk mengerjakan skripsi ini. Dosen pembimbingnya pun mengambil skripsi Adit, ia akan mempelajarinya terlebih dahulu, itulah yang membuat Adit menjadi resah dan gelisah.


Langkahnya untuk meninggalkan kampus ini tinggal sedikit lagi, tapi hatinya akan tetap tinggal disini untuk gadis lugunya. Selanjutnya, ia akan disibukkan dengan urusan kantor yang akan semakin rumit dari skripsi ini. Gelar sarjana Akutansi sudah di depan mata, ia tak sabar ingin melempar Mortarboard nya nanti.


"Saya harap hasilnya bagus, Dit. Karna saya tau kamu kamu adalah salah satu Mahasiswa terbaik di kampus ini."


"Semoga tidak mengecewakan, Pak." Adit menunduk hormat.


Setelah menemui dosen pembimbingnya itu, ia merasa agak sedikit lega, ia berjalan menuju taman kampus untuk menemui Rika. Terlihat Rika sedang sibuk dengan laptopnya, ia juga sedang mengerjakan tugas juga dari Pak Ilham.


"Sedang apa?" tanya Adit lalu duduk di samping Rika.


"Ngerjain tugas dari Pak Ilham."


"Sulit?"


"Tidak, kok." jawabnya singkat.


Adit mencoba melihat ke arah laptop juga, tapi Rika malah melihat ke arahnya, ia sangat mengagumi wajah menawan itu, kalau begini bisa-bisa ia tak bisa fokus dengan tugasnya karna melihat Adit disampingnya.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


"Ti...tidak." jawab Rika gugup setelah Adit sadar ia telah di perhatikan oleh gadis lugunya.


"Aku ganteng, ya?" ucap Adit tersenyum menggoda Rika.


"Semua orang juga tau." bisik Rika yang membuat Adit tersenyum.


"Mau es krim?" tanya Adit.


"Tidak mau, karna kebanyakan makan es krim kemarin, aku jadi tidak suka lagi dengan es krim." ucap Rika menatap Adit. Adit hanya tersenyum mendengar jawaban Rika yang polos.


"Dasar gadis luguku." Adit lalu mencubit pipi Rika.


"Aww... Sakit Kak!" Rika meringis kesakitan.


"Oh ya, gimana skripsimu?" tanya Rika yang masih memegangi pipinya.


"Aku baru saja mengantar skripsiku ke dosen pembimbing tadi, semoga tidak ada revisi ulang lagi, biar bisa cepat wisuda."


Rika hanya diam mendengar ucapan Adit. Itu berarti sebentar lagi Adit akan meninggalkan kampus ini, semangat Rika untuk kuliahpun menjadi berkurang, ia biasanya selalu ingin melihat wajah pria tampannya saat di kampus, semua terasa sangat cepat berlalu. Ia sangat takut jika Adit akan berpindah kelain hati.


"Kenapa diam?"


"Itu berarti sebentar lagi Kakak akan meninggalkan kampus ini dan juga meninggalkanku." Rika menunduk.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan selalu ada untukmu." ucap Adit lalu meraih kepala gadis lugunya itu.


Di kejauhan, Fina melihat mereka geram. Serarusnya ia lah yang berada di posisi Rika, dari dulu ia selalu ingin meluluhkan hati Adit, tapi kenapa Adit jatuh hati pada Rika. Ia tak akan tinggal diam.


***


Rika memegang selembaran daftar harga sembako yang baru dicetaknya, ia berkeliling mencari Devan atasannya, tapi tidak ada juga.


"Mas Devan kemana ya?" tanya Rika pada Meli yang sedang merapikan barang-barang.


"Loh kamu ini gimana sih, Rik. Mas Devan kan gak masuk."


"Memangnya dia kemana?"


"Ya ampun masak gak tau kalau hari ini Mas Devan lagi foto prewed."


"Oh iya, aku lupa, Mel."


Rika sama sekali tidak ingat kalau hari ini Devan akan foto prewed. Memang Devan sudah lama memberi tahunya waktu makan nasi goreng berdua.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya ia lalu mengambil tas selempangnya dan berjalan keluar supermarket. Adit sudah menunggunya di luar, ia melambaikan tangannya pada gadis lugunya itu.


"Kak Adit."


"Hmm. ada apa?" tanya Adit sembari menghidupkan mesin mobilnya.


"Boleh. Ayo dimana?" tanya Adit.


"Di alun-alun kota, Kak." ucap Rika tersenyum. Ia sangat bersemangat sekali malam ini, entah kenapa ia ingin bermanja dengan orang disampingnya ini.


Adit merasa aneh dengan tingkah gadis lugunya malam ini, ia terlihat sangat manja sekali. Sesampainya di alun-alun, mereka turun dari mobil dan membeli bakso aci itu. Adit dan Rika duduk di tempat yang sudah di sediakan.


"Wah, lezat sekali kelihatannya." Rika melhat Adit yang sedang membawa dua mangkok bakso aci itu.


"Makanlah." ucap Adit memberikan semangkok bakso itu kepada Rika.


Rika memakan bakso acinya dengan lahap, disamping doyan, ia memang sangat lapar setelah bekerja tadi, sampai-sampai ia berani mengajak Adit makan bakso aci ini, tak biasanya Rika mengajak Adit seperti malam ini yang membuat Adit heran.


"Enak?" tanya Adit.


"Enak banget." ucap Rika tersenyum imut pada Adit.


"Cepat habiskan, nanti ibumu khawatir." ucap Adit, ia memesan satu bungkus bakso untuk di bawa pulang.


"Untuk siapa itu, Kak?"


"Untuk camer ku." jawab Adit tersenyum.


Rika tiba-tiba terdiam, ia menapsirkan ucapan Adit tadi, apa benar barusan Adit menyebut Ibunya dengan sebutan camer.


"Kenapa seperti itu, ayo cepat habiskan baksomu kita pulang."


"Kenapa harus cepat sih Kak, aku masih mau bersama Kakak." ucap Rika menunduk.


"Hey, mimpi apa kamu semalam? Sampai bisa bicara seperti itu." tanya Adit heran.


Rika juga tidak tau kenapa ia bisa berani bicara seperti itu, biasanya jangankan untuk bermanja bicara, didepan Adit saja masih gugup. Setelah menghabiskan baksonya mereka berdua pulang, di perjalanan menuju mobil, tiba-tiba menggenggam tangan Adit yang membuat si empunya terkejut.


"Jangan pernah tinggalkan aku ya, Kak. Ayahku pasti senang jika anaknya berada dengan laki-laki baik seperti Kakak." ucap Rika menatap Adit.


"Pasti." jawab Adit menggenggam tangan Rika lebih erat. Ia tau bahwa Rika seperti ini karna ia sedang merindukan ayahnya.


Baru kali ini ia melihat gadis lugunya manja sekali tak seperti biasa yang selalu kaku.


"Sini biar kupasang sabuk pengamannya." Adit lalu mendekati Rika. Rika yang biasanya gugup tapi kali ini ia merasa sangat nyaman sekali.


"Kak Adit... Terima kasih untuk malam ini." ucap Rika yang memegang tangan Adit. Kini bukannya Rika yang gugup malah sebaliknya Adit yang terlihat gugup dengan perlakuan Rika malam ini.


"Sama-sama." ucap Adit lalu mengelus rambut Rika yang terurai itu.


Malam ini Adit melihat Rika yang berbeda dari biasanya, tak bisa ia pungkiri kalau sikap manja Rika tadi sangat membuatnya senang. Setelah sampai di rumah Rika, Adit memberikan sebungkus bakso yang dibelinya tadi untuk sang camer.


"Salam ya, untuk Ibu."


"Iya Kak..." Saat Rika hendak turun, ia berbalik menatap Adit.


"Kak Adit... Beri aku ucapan selamat tidur untuk malam ini." ucap Rika menatap Adit.


Adit tersenyum mendengar ucapan Rika, ia mendekati Rika dan memeluk gadis lugunya dengan hangat.


"Selamat malam, cepatlah masuk dan tidur. Have a nice dream. Sayang."


Rika tak menyangka ia bisa mendapatkan pelukan hangat dari Adit, padahal ia cuma ingin ucapan saja tak lebih.


"Tetaplah seperti ini." Adit melepaskan pelukannya lalu mengelus pipi gadis lugunya itu.


***


Ini sudah penghujung bulan Desember, Devan memang tengah sibuk mengurus pernikahannya yang akan di langsungkan pada awal bulan Januari.


"Kak Devan!" seru Fina dari kejauhan.


"Eh, Dek. Akhirnya kamu datang juga"


"Iya dong, apa sih yang enggak untuk Kakak sepupu yang ganteng ini." ucap Fina memuji Kakak sepupunya itu.