Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 84



Sudah hampir sebulan Rika berpisah dengan Adit. Ia akhirnya bisa fokus mengerjakan tugas kuliah, walaupun bayangan Adit sedikit masih terngiang didalam pikirannya. Untungnya semua nilainya tak ada yang menurun, malah semakin baik. Ia juga sudah tak tau kabar klub Street Photograph setelah mengundurkan diri sebulan yang lalu. Mungkin ini adalah keputusan terbaik untuknya


Tapi dihati kecilnya masih menyimpan rasa rindu terhadap sang pria tampan. Sedang apa dia diasana? Mungkin sudah bahagia dengan pilihannya.


Minggu pagi Rika disuruh Bu Nur membeli bahan-bahan untuk nasi gemuk di pasar. Kalau Bu Nur sedang sibuk Rika memang sering jadi penggantinya untuk belanja. Lagipula tidak ada jadwal kemana-mana minggu ini. Saat ia sibuk membaca daftar belanja yang ditulis Bu Nur, tiba-tiba perempuan berbaju hitam panjang merompaknya.


"Maaf..."


"Iya tidak apa-apa, Bu..." Rika terdiam sejenak, ia sangat mengenali perempuan ini.


"Bik Eli..."


"Nak Rika... Sudah lama kita tidak bertemu."


"Keadaan nak Adit tidak sebaik dulu saat bersama Nak Rika." ucap Bu Nur.


"Minumlah, Bik." Rika menyodorkan es teh yang sudah dibelinya diwarung tempat mereka duduk.


"Ia sudah jarang makan, minum obatpun harus saya paksa dulu. Ia bekerja tak tau waktu, hingga kadang tak tidur. Seperti menyibukkan diri."


"Sekarang dia malah mengurung diri dikamar." tambahnya.


Siapa yang tidak khawatir dengan keadaan pria yang dicintai terpuruk seperti itu. Tapi Rika berpikir, apa benar Adit jadi seperti ini karnanya. Atau malah pekerjaannya yang rumit? Sepertinya Rika tak bisa menahan diri untuk bertemu dengan pria tampan itu.


"Sepulang belanja nanti, saya akan kerumah kak Adit, Bik."


"Baiklah, Nak."


Mendengar cerita Bik Eli, Rika semakin khawatir nanti terjadi apa-apa pada Adit. Ia segera pulang kerumahnya. Ia juga membuat nasi gemuk spesial untuk Adit.


"Bu... Rika mau jenguk kak Adit sebentar, ya."


"Dia sakit?"


Rika mengangguk pelan. Bu Nur tak bisa melarang anaknya itu.


Sebenarnya Rika juga ragu untuk datang kesana, tapi hatinya seperti mendorong untuk datang kerumah Adit. Sesampainya disana, ia masih berpikir untuk mengetuk pintu.


Apa aku pulang saja? Lagipula siapa aku, main datang kesini. Aku kan bukan siapa-siapa kak Adit lagi.


Adit turun dari kamarnya, ia hendak keluar rumah. Ia ingin menikmati udara segar diluar. Terpuruk didalam kamar juga tak ada gunanya. Mungkin dengan jalan-jalan, bisa menenangkan hatinya beberapa saat.


"Rika..." Seperti mimpi rasanya. Saat membuka pintu tiba-tiba perempuan yang masih ia cintai itu berdiri didepannya.


Apa aku bermimpi? Adit memegang lengan Rika. Merasakan tangan itu sebentar. Memastikan ini nyata atau tidak.


"Aku... aku kesini cuma mau jenguk Kakak." ucap Rika gugup. Rasanya ingin pulang saja.


Adit tiba-tiba memeluk erat tubuh Rika. Merasakan rasa nyaman yang sudah lama tak ia rasakan.


"Aku sangat merindukanmu." Adit mengelus lembut rambut hitam itu.


Rika hanya terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Ingin ia berteriak mengantakan kalau dia sangat merindukan pria yang didepannya ini. Air matanya tak terasa sudah membasahi pipi. Ternyata Adit tak melupakannya.


Mereka duduk ditaman belakang rumah Adit. Rika membuka kotak nasi berwarna biru muda itu dan memberikannya pada Adit.


"Makanlah, Kak. Kata Bik Eli, akhir-akhir ini Kakak jarang makan."


"Terima kasih." ucap Adit tersenyum. Rasa nasi gemuk ini masih sama seperti dulu, selalu enak. Hanya saja ada yang berbeda dari nasi gemuk kali ini. Lebih spesial.


"Rika... Aku minta maaf, aku tau aku salah."


"Kamu sudah melihat foto-fotoku dengan Melodi kan? Melodi itu hanya temanku, Rika. Aku mohon percayalah."


Rika hanya terseyum, baginya tak ada guna Adit menjelaskan itu padanya. Adit tak salah dimatanya. Mereka memang sangat cocok. Melodi jauh lebih baik darinya.


"Tidak perlu minta maaf, Kak. Kakak cocok kok sama dia. Aku tak mau hubungan kita terlalu jauh, itu membuatku sakit saja. Sekarang, aku mau fokus sama kuliahku saja, Kak."


"Aku mohon jangan tinggalkan aku, hatiku ini hanya untukmu. Percayalah." Adit menarik tangan Rika. Menempelkan didadanya.


"Rika... aku mau kamu yang selalu mendampingiku, bukan orang lain. Kamu tau... Rencanaku setelah pulang dari Vietnam, aku ingin melamarmu, Rika."


Adit mengambil sesuatu disaku celananya, cincin berbentuk love. Rika tersentak mendengar ucapan Adit. Apakah ini mimpi? air matanya tak terbendung, selama ini ia sudah salah paham dengan Adit.


"Kak Adit... Apa aku sedang bermimpi?"


"Tidak, Rika..." Adit meraih tangan kiri Rika, mengambil jari manisnya, memasukkan cincin berbentuk love itu.


"Maafkan aku sudah mengabaikan perasaanmu, aku tau aku salah." Adit mengusap wajah manis itu.


"Jujur... Aku masih sangat mencintaimu, Kak."


Adit tersenyum lega mendengar ucapan Rika, ternyata ia masih punya kesempatan untuk memiliki gadis lugunya itu. Hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya. Mendapatkan gadis lugunya kembali.


"Jangan pernah tinggalkan aku." Adit meraih tubuh Rika. Merasakan sekali lagi pelukan itu.


"Kak Adit.... Apa Kakak yakin dengan keputusan ini?"


"Aku sangat yakin, jangan pernah bicara seperti itu lagi." Adit menyandarkan kepalanya ke bahu Rika.


Mungkin takdir Rika memang bersama Adit. Sekuat apapun Rika melupakan Adit, tetap saja dihati kecilnya masih menyimpan rasa sayang. Begitupun dengan Adit, ia berharap Rika lah yang menjadi perempuan terakhir dihidupnya. Perempuan yang selalu ada disampingnya, menemaninya dimeja makan, dan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.


***


"Jangan panggil aku 'Non' lagi, ya." Fina memegang tangan Sandi.


"Jadi, aku harus panggil apa?" Ia ingat sekali saat Fina tak boleh memanggilnya 'Non'. Tapi selang beberapa menit keputusan itu berubah lagi.


"Panggil Sayang aja." ucap Fina yang bertingkah barbar.


"Sayang?" Sandi mengernyit.


"Terserah, deh!" Fina merasa gaje sendiri dengan ucapannya. Salah tingkah.


Sandi meraih kedua tangan Fina, mengungkapkan perasaan yang dipendamnya selama ini. Ia tak peduli lagi dengan status mereka yang berbeda. Kedai kopi D'Coffe ini akan jadi saksi bisu.


"Aku mencintaimu, Fina." Sandi menunduk.


"Mungkin... Aku sudah lancang mengungkapkan perasaan ke majikan sendiri. Tapi, aku tak bisa bohong dengan perasaanku." tambahnya.


"Sandi... Kamu tau, aku sudah lama menunggu kata-kata itu dari kamu. Aku tak peduli dengan statusmu, dan aku juga tak peduli dengan ejekan teman-temanku diluar sana. Yang terpenting adalah, aku mendapatkan pria baik dan selalu ada untukku." ucap Fina tersenyum.


"Terima kasih, aku janji akan membahagiakanmu. Tapi... aku juga punya tanggung jawab terhadap ibu dan kedua adikku."


"Ibu dan adik-adikmu juga akan menjadi ibu dan adik-adikku."


"Sekali lagi, terima kasih... Sayang." Rasanya kaku sekali memanggil Fina dengan sebutan 'Sayang'


"Sama-sama, Sayang." Fina memeluk erat pria bermata sipit itu.


Sakarang Fina merasakan kasih sayang dari orang yang benar-benar tulus mencintainya. Inilah yang selama ini ia cari. Sandi juga merasa keputusan ini sudah tepat, walaupun ia tau akan ada rintangan yang sangat besar kedepannya, ia siap melewati rintangan itu.