
Dalam perjalan kami terdiam, aku dengan pikiranku sendiri, dan kak nidhom dengan pikirannya sendiri. Menaiki kereta api di suasana negara lain memang cukup asyik, namun perasaan kalutku yang muncul, tak mampu menikmati suasana perjalanan ini.
"nanti, tiba indonesia aku ingin langsung ke rumah ibu" ucapku spontan.
kak nidhom hanya mengangguk sambil mengusap jilbab ku.
"kenapa kita tidak langsung naik mobil, kan lebih cepat ke bandaranya...?" tanya ku.
"apa kau tak ingin menikmati perjalanan ini..."
"hmmm, entahlah...tapi untuk sekedar menikmati jalan-jalan kita bisa melakukannya setelah sampai Indonesia bukan?"
"hmm iya, tapi kita tak tahu sedetik kemudian apa yang terjadi, bila saat ini bisa dilakukan kenapa harus menunggu nanti sampai pulang, apalagi naik kereta di tempat kelahiranku jarang kulakukan, aku hanya ingin merasakan sekali saja naik kereta"
"kita bisa melakukan berkali-kali naik kereta jika sudah sampai di rumah" ucap ku.
kak nidhom hanya membalas dengan anggukan.
" kamu haus?" tawarnya, sambari mengambil botol mineral di kantong plastik yang dibeli tadi.
"nanti saja" jawabku sambil memandang penumpang sebelah, dengan perasaan tak nyaman. dua remaja yang sedang duduk bergurau mesra ditempat umum. tentu hal ini wajar di luar negeri, bahkan di negri sendiripun mulai menjadi hal biasa.
"aku haus" ucapku, meralat perkataanku tadi, kak nidhom meyodorkan sebotol air yang sempat ku tolak tadi.
"minumnya pelan saja-saja" ucapnya sambil menatapku. aku sekilas tersenyum, namun entah mengapa perasaanku kembali tak enak.
"ini gak ada racunnya kan" tanyaku. membuat suamiku tersenyum menertawakan ku, meski tak bisa terpingkal-pingkal.
"jika itu yang kau pikirkan, mungkin sudah sejak awal aku meracuni mu kia.."
"ya kurasa begitu...," ucapku dengan cemberut.
"jangan manyun, aku jadi tak tega meninggalkan mu pergi"
"ya ku harap begitu, jangan pergi, apalagi terlibat dengan hal yang seperti kemarin..." kataku menatap kak nidhom. namun pria itu membalas dengan senyum hambar.
" ada apa?" tanyaku curiga.
"tidak.." jawabnya singkat sambil menghindar kontak mata.
dalam diriku ada perasaan yang tak enak, aku gelisah, memikirkan hal buruk yang akan terjadi lagi.
tidak, ini mungkin hanya perasaan ku saja..
batin ku , mencoba menenangkan diri sendiri. ku teguk air dalam botol di tanganku, berharap pikiranku jernih kembali.
entah mengapa mataku tiba-tiba sangat berat.
"ada apa?" tanya kak nidhom gang mungkin terusik oleh tubuhku yang bergerak mengusir kantuk.
"aku tiba-tiba merasa kantuk"
ia kembali mengusap kepala ku yang membuat kantuk semakin menjadi.
"tidurlah sayank, tubuhmu butuh istirahat" ucapnya dengan nada manis.
"kau tak memasukkan sesuatu kedalam minuman itukan?" tanyaku, entah mengapa aku curiga pada minuman. kak nidhom hanya terdiam, namun senyumannya menyeringai menakutkan.
"maaf kia, kehidupan ku tak sesederhana yang kau bayangkan, mungkin lebih baik kita melupakan dan memilih jalan masing"
"kau tak bisa seperti itu kak" ucapku dengan nada tinggi, begitupun dengan tubuhku yang sepontan berdiri. para penumpang dikereta menatapku namun aku acuh, apalagi kantuk yang menyerang membuatku terhuyung. sebelum jatuh tersungkur, kak nidhom menarik ku dan aku mendarat tepat dipangkuannya.
"tapi kau yang memulai rasaku" jawabku menatapnya dengan sendu.
"maaf" katanya. tak lama sebuah sapu putuh membungkam kesadaranku. padahal ada banyak yang inginku pertanyakan?
mengapa dia memilih pergi? bukankah keadaan sudah baik" saja, bagaimana dengan pengorbanan ibu ?
haruskah kisah kami berakhir seperti ini? sedangkan hatiku mulai mengenalnya, dan perasaanku mulai tumbuh padanya, sesingkat itukah?
tak bisakah dia bertanya dulu tentang perasaanku?
ππ
cahaya silau membangunkan ku, aku terlalu lama tertidur, tanpa memikirkan sang pemilik bahu.
mimpi itu terlalu nyata untuk ku alami, mungkin karena aku terlalu banyak pikiran dan cemas.
"kak aku minta maa..." ucapku terhenti saat kusadari ternyata yang duduk di samping ku bukan sosok suamiku, melainkan seorang wanita cantik dengan rambut pirangnya. mulutku segera ku bungkam dengan mata melotot ketakutan.
"nona sudah bangun?" tanyanya. ternyata wanita bule itu bisa berbahasa Indonesia.
"siapa anda? dan mana suamiku?" tanyaku bertubi. wanita itu mengulas senyum simpul sambil menatap jam tangannya.
"tuan nicko telah keluar 5 menit yang lalu, saya diperintah untuk mengawal anda sampai ke indonesia, dan ini titipan dari suami anda" ucap wanita tersebut sambil mengulurkan lipatan kertas. dengan cepat aku membuka, namun segera kututup kembali.
aku baru sadar kereta api sedang berhenti, sebelum melaju kembali aku ingin bergegas turun. namun wanita itu mencegah pergelangan tanganku.
"lepaskan aku, aku ingin turun"
wanita itu hanya diam, namun genggaman nya cukup kuat mencengkeram pergelangan tangan ku.
" ku mohon mengertilah.." teriakku, tak peduli dengan pandangan para penumpang. dengan sekuat tenaga aku melepaskan. namu saat berhasil keadaan sudah berbeda. kereta bergerak pelan bersama kaki ku yang melangkah mencari pintu keluar.
"Signorina, non le Γ¨ permesso aprire la porta. Γ molto pericoloso!!!" (nona, anda di larang membuka pintu. itu sangat berbahaya!!)
teriak petugas, yang tak ku tahu artinya. dia menarikku dengan keras.
"vuoi morire!!" teriaknya lagi. aku hanya mampu menangis sesegukan.
"please, stop this train sir...my husband is left there." (tolong, hentikan kereta ini pak...suamiku sedang tertingal disana.) ucapku memohan, meski tak mungkin dilakukan. kini wanita yang duduk bersama ku tadi menghampiri. berbicara dengan petugas kereta sebentar, kemudian menarik tanganku.
"ayo kita kembali ketempat duduk"
aku hanya mampu pasrah dan mengikutinya.
"menurutlah, dan pulang dengan selamat, jangan membuat kegaduhan konyol, anggap saja suami membuangmu"
ucapnnya sungguh melukai hatiku. benarkah begitu? aku telah dibuang...
ku tutup mataku dengan telapak tangan sambil menghela nafas, ku pikir kami akan bersama...ternya dia meninggalkanku sendirian...
dari balik kaca kereta kutatap senja yang mulai malam sambil meratapi mimpi yang nyata...
memori peristiwa di veronika tak akan kulupakan, sepanjang sejarah hidupku sungguh itu pengalaman yang menyakitan seumur hidupku yang akan terus teringat....
tamat...
Jangan lupa baca karya ku yang satu ini" LOVE STARTS ONLINE " TERIMA KASIH β€β€