I'M On Your

I'M On Your
chapter 30



🌹🌹


semenjak kehadiranku di rumah ini, aku belum melihatnya. selama itukah di pergi ke bandara. apalagi, sekarang sudah pukul sembilan malam.


“sudahlah…” ucapku.


meski kami sudah menikah, aku tidak tahu menahu tentang dia.


grup Squid Bar-bar


wildan : hello guys


pesan pertama semenjak kami lulus, mengisi grup tersebut. ku tatap foto wildan yang berlatar belakang patung merlion.


Me : moga sukses ya@wildan


Irtifa :@wildan songong


agg:@ tu belakang mirip loe


Wilda: @irtifa@aggy lo pada sirik


wildan :@me makasih ayang, tunggu gue sukses , langsung ke rumah lo


Aggy:ngapain?


Wildan : OTW ajak pelaminan


aggy: gue yakin udah duluin orang..


Irtifa: @me punya abang gue..


aku yang membaca pesan mereka, malas membalas. andai mereka tahu jika aku sudah menikah. bagaimana coba respon nya.


suara pintu yang terbuka mengalihkan pandanganku, kak nidhom menatapku yang duduk di atas ranjang. aku yang ditatap hanya menunduk dan menatap ponsel di tanganku.


“ini sudah malam, tidurlah”


katanya sambil meletakkan koper yang dia bawa di dekat pintu.


“iya” kataku sambil merosot memposisikan diri untuk tidur, kutarik selimut sampai atas kepala.


***


tidur ku cukup nyenyak untuk malam pertama kami, ku katakan ini sebagai malam pertama meski bukan sesungguhnya.ku lirik sofa panjang yang tak jauh dari ranjang, ya tadi, ketika aku bangun ku temukan kak nidhom telah terlelap di situ. kini aku memilih merapikan selimut. memikirkan pernikahan ini akan semakin membuat diriku dilema.


clekk,,,


dug…


nafas ku seketika berhenti, namun setelah kesadaran ku terkumpul aku segera keluar kamar dan menutup pintu.


ya tuhan, mataku tercemar, untung gak sampai teriak teriak aku, ku tangkupkan telapak tanganku di wajah. malu, ya aku malu. padahal seharusnya bukan aku yang malu. dia yang keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk saja, itu membuat aku reflek keluar, seharusnya kak nidhom bilang jika tidak bawa baju ganti.


di pagi hari aku sudah mematung di depan pintu kamar dengan pipi merona, dan hal yang buat aku tambah malu. ketika empat mata pria yang keluar dari pintu kamar masing-masing.


sejak kapan mereka melihatku tanyaku pada diri sendiri, namun tatapan ku tertuju pada pria itu. kak akhza yang awalnya bertampang penasaran berubah jadi acuh tak acuh dan melenggang pergi.


Ghemmm


adiba yang mendengarkan deheman kak akhza pun segera putar balik masuk kedalam kamar. aku yang masih mematung di depan kamar pun segera masuk, tapi dengan langkah mundur berharap kak nidhom sudah memakai pakainya.


“kau sedang apa?” ucapan bariton itu mengejutkanku. apalagi tanganku yang masih memegang gagang pintu pun ikut terkejut setelah mendapatkan tekanan dari tangannya. pintu pun terbuka, dan sebelum aku menjawab dia telah keluar.


selesai dengan kegiatanku aku segera menuruni tangga, membantu bibi memasak di dapur cukup menghibur dari kebosanan. sebulan ke depan hidupku pasti tambah malas jika tidak melakukan sesuatu, hidung yang sederhana dan kerja keras ekstra kemudian mengalami perubahan drastis membutuhkan kesabaran. dulu aku bisa ke sana kemari, tapi hari ini tak mungkin. jika aku ingin tentu aku harus meminta izin suamiku….


“nona sudah bangun”sapa bibi.


“iya, bik yang lain kan juga sudah bangun” ucapku, namun yang kutemukan keheningan.


“bik, kemana lainya?” tanyaku penasaran.


“ohh, tuan sama nyonya keluar kota tadi malam, terus den adiba belum keluar dari kamar, kalau den akhza kayaknya lagi joging, dan den nidhom pergi, entah bibi juga tak tau pergi kemana”jelas bibi.


aku hanya mengangguk.


“eh bik kita belum kenalan”


“aku tahu nama nona, non fatin kan”


aku hanya mengerutkan kening, panggilan itu bikin aneh di dengar di telinga


“panggil fatin aja bik”


“ya gak bisa gitu non, kan nona juga majikan aku”


“tapi, fathin kan gak kasih gaji bibi” kataku membela.


“nona kan istrinya den nidhom”


“yaudah dech, dari pada di panggil nona, lebih baik bibi panggil mbak aja, soalnya aku gak nyaman hehehe”


“siap dech non, ehhh mbak maksud ku”


“bibi, siapa namanya?” tanyaku.


“lastri, panggil mbok lastri juga boleh”


“mbok lastri kalau gitu, fathin bantu masak” ajakku dan di anggukin sama mbok lastri.


selain mbok lastri, ada pembantu yang sedikit lebih muda dari pada mbok lastri yang tak lain mbak lala yang bertugas nyuci baju sama bersihin rumah.


hari ini aku masak sayur sup,  menggoreng ayam, dan sambal bawang.


“non fatin pinter masak ya” ucap mbok  lastri, namun tatapanku mengingatkan nya.


“eh mbak fatin, bibi tua cepat lupa”


kata bibi yang membuat aku tersenyum simpul.


“mbak fatin tau makanan kesukaan den nidhom?”


“nggak mbok, kan aku baru kenal sehari” jawabku apa adanya.


“mbok kasih resep dah, kalau suami mbak fatin yang paling ganteng itu suka makan sejenis seafood,  tapi gak suka sayur, kalau den akhza sukanya nasi goreng sama lalapan”


sama donk kayak aku batinku


“kalau den diba, apapun suka asalkan enak, eh terus kalau pagi minumnya den nidhom kopi tanpa gula, terus nak akhza biasanya gonta ganti kadang air putih, kadang jus kadang kopi, kalau den adiba tiap hari juss mulu” kata mbok lastri menjelaskan dan aku hanya mengangguk paham.


belum lama orang yang dibicarakan hadir, kak akhza yang datang dari pintu depan dan adiba yang menuruni tangga sambil bawa buku. tu orang udah kayak kutu buku.


jika disuruh milih, si kutu buku dengan kacamata minusnya yang terlihat smart atau si cool, terus tampan dengan penampilan kasualnya apalagi baru olah raga? team kutu buku atau ketua  voli, sayang semuanya dilarang pilih, pasalnya udah ada misua…


di meja segi empat dengan empat kursi kami menempati posisi masing masing. adiba di depanku dan kak akhsa di samping kiri. aku ikut duduk diam di sana karena mbok lastri memintaku untuk tidak membantunya.


“aduh, aduh pagi pagi udah lihat yang cantik dan segar” goda mbok lastri di tengah keheningan kami, aku hanya tersenyum simpul dan yang lainya memasang muka lempeng. ya cowok wajar karena mukanya banyak mengandung hormon testosteron makanya gak se lentur wajah cewek.


“ayuk di makan den” ucap mbok lastri.


kami segera mengambil alat makan masing masing. benar kata mbok lastri, kak akhza mengambil nasi goreng dan si adiba mengambil makanan sesukanya. aku masih diam menunggu mereka selesai terlebih dahulu.


namun, suara gesekan lantai dan kursi menyadarkan kehadiran orang ke empat di antara kami.


dan kami bertiga langsung memandang sosoknya…


 bersambung...