I'M On Your

I'M On Your
Chapter 63



menghembus udara bebas di bawah langit Singapura, ketika satu bulan kurang lebih aku dikurung dalam kamar rumah sakit, meski luas, namun tak sebebas ini, aku menoleh kebelakang menatap wajah tampan kak nidhom yang tersenyum kearah ku.


ini pertama kalinya dalam hidupku keluar negeri, melangkah jauh dari rumah dan ibuku.


"kak boleh aku pinjam ponselmu" pintaku, tanpa pikir panjang dia meletakkan benda pipih di tanganku.


"terimakasih" ucapku, tak lama aku tertuju pada camera, dan mengabadikan sebuah gambar yang terbentang indah di depan mata.


kak nidhom merebut ponselnya.


"biar aku fotoin" ucapnya, membuat bibirku tersenyum simpul, bagaimanapun aku tak bisa berekspresi selain tersenyum kikuk kearahnya.


"coba aku lihat" kataku tak sabaran, sambil menggerakkan kursi rodaku.


"hmm, bagus, tapi aku kok jelek" kataku, namun segera ku tutup mulutku.


"hmm kamu cantik kok"


katanya, mana mungkin aku percaya, apalagi dengan menggunakan piyama panjang dengan tangan kiri di perban.


ini namanya wisata tanpa persiapan, tapi seandainya aku tak sakit, apa aku akan sampai kesini ya, monolog ku. tanpa ku sadari aku menatap kak nidhom sambil melamun.


"hey"


"eh, iya" sadar ku.


"kakak, tak perlu bohong, menurutku jalek ya jelek"


dia malah tersenyum aneh mendengarkan kataku.


"apapun kamu di mataku cantik"


sungguh, tapi aku merasa minder jika bersanding dengan kakak jawabku dalam hati.


"hmm makasih" dan malah menjawab dengan senyuman kikuk dengan tatapan tak percaya.


kini dia kembali mendorong kursiku hari ini seharian kita akan jalan-jalan mengelilingi kota singapura, pertama tama kak nidhom mengajakku keliling arab street, entah mengapa semenjak aku sakit, dia loyal sekali kepadaku, meski dalam hatiku ingin bertanya, tapi lebih baik ku urungkan.


"ada yang ingin kau beli? "tanyanya.


aku tidak ingin sesuatu, bagiku sikapmu padaku sudah mewakilkan seluruh keinginan ku


aku menggeleng menjawabnya.


" belilah sesuatu, agar nanti pulang tidak menyesal, aku tak mau repot-repot mengantarmu kesini kembali" ucapnya, membuat aku cemberut.


"aku tidak tahu keinginanku" jawabku. saat ini memang tidak ada satupun yang terlintas di kepalaku selain makanan.


"emm, aku lapar" ucapku spontan, padahal tadi sudah makan sebelum berangkat.


kak nidhom mengusap jilbabku.


" hmm, baiklah kita makan, kasian koalaku yang kurus ini" ucapnya membuat aku menatapnya dengan sebal, bagaiman istrinya yang kalem ini disamakan dengan seekor koala.


tak lama kami sudah sampai restoran, kak nidhom memesankan beberapa makanan namun dia tidak makan, dan hanya menatapku. sungguh aku malu dilihatin, tapi perutku lapar dan aku harus menurunkan rasa gengsi ku.


"benar tidak mau makan? " tanyaku memastikan, bagaimana aku akan menghabiskan makanan ini sendirian.


dia hanya menatapku sekilas dengan anggukan dan kembali fokus pada ponselnya.


baiklah, tak masalah dia tak makan, biar ku habiskan sendiri...


batinku memotivasi diri.


perutku terasa buncit, aku berasa mengisi energi penuh, untung aku tidak jalan dan hanya duduk manis. apakah akan mempengaruhi daya dorongnya ketika beratku bertambah, hanya tambah sedikit, aku yakin tangan kokohnya itu masih mampu mendorongku, bukankah dia ahli bela diri, sekalipun aku naik 20 kg, dia pasti kuat membopongku...


hahaha..


usai makan kami kembali melanjutkan perjalanan, di sebuah ruko boneka kak nidhom berhenti mendorongku, sebenarnya aku kasian padanya..


"kau ingin boneka? " tanyanya.


"aku tidak suka boneka"


"kenapa? "


"tak tahu, tapi dari kecil aku tak punya boneka"


"oh" jawabnya singkat, namun pada akhirnya dia mendorongku masuk kedalam ruko itu.


"kenapa kita kesini? " tanyaku, tak kala sudah masuk kedalam. kak nidhom hanya terdiam, dan meninggalkan ku menuju rak boneka.


"bagaimana dengan ini? "


"hmm lumayan" jawabku, sebuah boneka koala di tangannya itu cukup lucu.


tapi siapa yang dibelikan, bukankah dia tidak punya keponakan cewek yang masih kecil.


"untuk apa beli boneka? " tanyaku setelah dia kembali dan meletakkan bingkisan di pangkuanku.


kursi roda kembali berjalan, di sepanjang jalan dan di setiap ruko yang di temui, dia membeli sesuatu, dari parfum, baju, sepatu, tas, dan lain-lain, itu pun semua barangku. namun yang di bawa hanya boneka di pangkuanku, barang lainnya di angkut menggunakan jasa kurir.


"aku berasa menjadi anak-anak" kataku, sambil menoleh kebelakang.


"aku rasa begitu" ucap kak nidhom cuek. aku yang mendengar menatapnya penuh tanda tanya.


"aku bukan anak-anak, aku sudah dalam fase remaja menuju dewasa" ucapku membela, meski dia sudah tahu juga.


"benarkah? " tanya sedikit tersenyum aneh, sedangkan aku melengos kearah lain.


bertepatan dengan sebuah mobil hitam yang berhenti di depan kami, kak nidhom segera membantuku masuk setelah membuka pintu, dan melipat kursi.


"saya rasa kamu belum dewasa" ucapnya setelah menutup pintu, dan duduk dengan tenang di sampingku.


aku mengernyitkan kening mendengarkan pernyataannya.


"jika kakak menganggap ku tidak dewasa, kenapa menikah denganku? " tanyaku pelan sambil melirik sopir yang mengemudi.


"karena ingin saja"


jawaban yang cukup lesal, dulu di cuekin di anggap tidak ada, kami mulai dekat sedikit dia sudah menyatakan aki tidak dewasa...


"kurasa kakak yang tidak dewasa" ucapku.


"alasannya? "


"ya itu rahasia" jawabku


karena dulu kamu tidak bertanggung jawab, bermain diluar dengan wanita lain dan mengabaikan istrinya, seandainya kamu mengerti sedikit apa yang kurasakan dulu, ketika di cuekin begitu saja..


"aku punya alasan sendiri" jawabnya, aku terdiam menatapnya dengan melotot. aku sedang bicara dalam hati kenapa dia dapat menjawabnya.


kak nidhom menyapu wajahku dengan telapak tangannya. yang membuat aku berkedip.


"aku tahu aku tampan, tapi jangan sampai melotot juga" ucapnya membuat aku tersipu, dan berusaha menormalkan keadaan.


tak lama mobil berhenti, kerena jarak merlion part tak terlalu jauh, kami duduk di salah satu kursi, dan menatap pengunjung yang tidak terlalu ramai.


"mau es krim" tawar kak nodhom


"aku bukan anak kecil"


"tidak ada hubungannya es krim dan anak kecil"


"tapi kakak menganggap ku anak kecil"


dia tertawa kecil dan Memberantakkan jilbab ku dengan tangannya.


"bagiku begitu meski kamu sudah dewasa, kau tahu aku tak punya adik perempuan, dulu aku berharap akhza akan lahir sebagai perempuan" ucapnya, aku tersenyum kecil membayangkan manusia cool seperti akhza adalah seorang perempuan.


"aku gak bisa membayangkan" ucapku dengan tawa.


"lalu apa aku ini seperti adik perempuanmu kak? " lanjut ku.


"tidak"


aku sedikit kecewa mendengarkan jawabannya.


"kamu istriku kia, jika di mataku anggap sebagai adikku, mana tega aku menikahi mu" ucapnya, membuat aku melayangkan tamparan di pahanya pertama kali, dan dia malah tertawa.


"padahal kakak sudah punya wanita yang lebih cantik dari aku"


"maksudnya? " tanya, aku menatap kak nidhom.


mengapa dia seolah tak mengerti..


"hmm, maksudku kakak pernah dekat dengan model cantik itu " ucapku sambil menerawang depan, mengingat malam itu membuat aku dilanda setitik rasa cemburu.


"itu tidak seperti yang kamu lihat" jawabnya, aku menatap netranya, mencari segala kebohongan yang dapat kutemui, namun dari matanya aku tak menangkap kebohongan sama sekali, atau dia memang telah mahir dalam menyembunyikan segala hal.


"tapi aku melihat deng... "


"sudahlah jangan bahas itu"


"tapi, aku ingin tahu? " kataku tak bisa di pungkiri, karena apapun aku ingin tahu alasan tentang itu, aku tak ingin menjadi orang yang tak tahu apa-apa tentang dirinya, seperti apa yang di katakan ara.


"baiklah" ucap kak nidhom sambil menangkup wajahku dengan kedua tangannya.


apakah aku terlihat semelas itu, hingga dia mau bercerita.


bersambung...


jangan lupa like komen dan vote, memberi saran untuk penulis juga boleh sebagai masukan, 🥰


happy reading😇😇