I'M On Your

I'M On Your
Chapter 22



🌡🌡


Diruang bernuansa pastel, itu kamarku. Di atas meja belajar aku berkutat pada buku catatan. Meski sekali-kali tanganku menyentuh layar ponsel. Beberapa link masuk di WA ku. Pesan dari irtifa, kemarin dia berjanji untuk membantuku mencari kampus, sebenarnya dia menyarankan ku untuk kuliah satu kampus dengannya. Tapi ku tolak, aku mana mampu kuliah satu kampus dengannya.


meski ada beasiswa itu mungkin kesempatan lolos kecil...


Dalam waktu dua jam, aku berdiam diri di kamar. Merancang tujuan setelah lulus SMA, karena sebentar lagi ujian. Tak terasa baru kemarin aku duduk di kelas X.


"Fathin ayo makan.. "


Panggilan alam telah datang, suara ibu bagaikan titah raja yang harus di taati. Segera ku letakkan bolpoin di atas meja, dan bergegas keluar kamar.


Ibu dan fathan sudah menunggu ku, bahkan hidangan pun sudah siap di atas meja.


"Akhir-akhir ini ibu masakin enak dech? " Tanyaku merasa curiga.


"Kamu butuh gizi, buat belajar"


Tak ada yang salah dari perkataan ibu. Semua itu benar, tapi tak biasanya ibu tidak menghamburkan uang hanya sekedar untuk makanan. Pikiranku yang tidak baik berkelebat di kepala. Mungkinkah ibu habis di sukai orang, punya bapak tiri donk aku..


"Bu, apa ada pria yang menyukaimu? "


Tanyaku yang sudah tak bisa ku bendung.


Ibu yang mendengar pertanyaan ku mengernyitkan kening. Begitupun dengan fathan yang tersedak oleh air liurnya. Kini ganti adikku yang menatap ibu seolah meminta penjelasan.


" Jangan sembarangan bicara, kau tau ibu paling setia dengan ayahmu, ibu masak enak karena murni untuk kalian" Ucap ibu membuat hati kami berdua lega.


" Tapi inikan pemborosan.. "Protes ku, meski pada akhirnya makanan itu ku nikmati.


" Mbak, kalau makanan ini uang dari calon bapak tiri kita gimana? "


"Astaghfirullah fathan, jangan mulai. Ya sudah sini kalau tidak mau makan"


ibu menarik piring anak bungsunya yang bikin kesal. Namun fathan segera mencegah.


"Ibu jelek kalau lagi marah, sama kayak mbak fatin"


Kini cowok satu-satunya penghuni rumah itu dapat Pelototan dua wanita yang beda generasi. Siapa lagi kalau bukan aku dan ibu.


Setelah makan malam aku kembali masuk ke kamar menyelesaikan acara belajar, dan memutuskan rencana ku. Akhirnya ku memutuskan untuk mencoba daftar di tiga kampus negeri yang disarankan irtifa. Kini aku belum membicarakan pada ibu. Tenang rencana kuliah ku, aku ingin memberikan kejutan setelah aku lolos seleksi beasiswa.


🌹🌹


Sejak itu sampai saat ini aku dan adiba masih dalam mode sama, bicara penting, jika tidak ada kepentingan hanya diam. Biasanya mendekati hari ujian semester dia mendatangiku hanya untuk mengucapakan kalimat penyemangat, tersenyum cerah yang membuat kelas kami silau.


Kehilangannya membuat tanda tanya seluruh penghuni kelasku. Aku bukan merasa kehilangan tapi hanya saja itu membuat ku tak nyaman.


"Lo masih belum baikan sama Adiba ya ir"


Tanya fatin kepadaku.


"Kami tidak baru saja bertengkar, hanya saja canggung"


Jawabku malas, sehingga irtifa tak bertanya lagi. Kini kelas mulai sepi, pasalnya seorang guru baru saja masuk, tentu kalian masih ingat pada guru yang membuat seisi kelas jadi horor.


Ya hari ini pelajaran bapak Subroto, beliau di awal masuk langsung menyerahkan lembaran kertas berisi soal-soal latihan. Dia bilang untuk latihan mempersiapkan ujian yang sudah di depan mata.


Semua kelas bersyukur hari ini, tidak harus mendengarkan penjelasan. yang jika kamu terdengar, terdengar begitu mistis, seolah pelajaran di sampaikan layaknya cerita horor.


Penghuni bangku belakang akhir-akhir ini sangat tenang, tidak ada kegaduhan dari perdebatan mereka. Absensi nya juga tidak bolong-bolong seperti tahun kemari. Pakainya yang awalnya amburadul kini rapi. Hampir tertawa aku jika melihat penampilan Wildan dengan rambut klimis nya, jika sampai ada lalat menempel langsung terpleset terpental ke ujung dunia. Hiperbola lagi..


"Shut shut"


Siulan dari belakangku yang terdengar bagaikan desiran angin pantai melewati telingaku. Belum lama aku memuja sudah mulai berulah. Aku hanya mendengus pelan, setelah konsentrasi ku membaca soal cerita panjang terusik oleh Wildan.


"Ada apa? "


Tanyaku pelan, yang tak kalah pelan dari siulan Wildan tadi.


"Soal no 5 aku tak paham"


Belum sempat aku menjawab pak subroto menghadap ke arah ku. Meski aku tak tau pandangannya kearah mana, sejak kapan guru bahasa Indonesia yang angker mukanya itu pakai kaca mata hitam.


Sedang belekkan kah?


Tanyaku dalam hati, pasti di hati para siswa ingin tertawa tapi tekanan batin, ingin bertanya tapi mulut membungkam. Penampilan guru yang satu ini bikin konsentrasi jadi pecah gara-gara pikiran mencari rumusan-rumusan permasalahan apa yang membuat pak subroto berkaca mata hitam.


🐸🐸


Di jam istirahat kami berkumpul di taman belakang sekolah. Keseharian kami di sekolah tidak ada yang spesial selain belajar bagaikan kuda untuk mempersiapkan ujian, saat ini kepalaku di isi rumusan persamaan dasar akutansi, yang berputar putar. Si ibu negara kelas kami membawa empat es jeruk dari kantin. Akhir-akhir ini irtifa jadi seorang Darmawati.


"Gitu donk, tambah sayank aja aku kali gini"


Ucap Wildan ambil berdiri menghadang irtifa yang baru datang.


"Uang bertindak, doi datangi. Ini menunjukkan bahwa cowok juga mata duitan"


Ucap irtifa sadis. Tapi bukan namanya Wildan kalau sampai tersinggung, tu satu anak malah cengengesan gak jelas sambil merebut satu gelas dari tangan irtifa.


"Rencana ini kalian mau ngapain? " Tanya irtifa setelah duduk.


Aggy yang mendadak jadi anak kutu buku masih diam fokus dengan rumusan matematika. Dan si Wildan bolak-balik buka buku sejarah, kayaknya buku kalau ada mulutnya sudah berteriak protes minta di turunkan.


"Kok pada diem aja , lagi gak punya masa depan ya? "


"Kampus sebelah" Jawab aggy enteng.


"Kalau lo" Tanya irtifa pada wildan yang garuk-garuk kepala.


"Pinginnya ambil sastra bahasa di sini saja, tapi si bapak suruh kuliah ke Singapura ikut kakak perempuan ku" Jawab Wildan bingung.


Ohhh...


Jawab irtifa, tak perlu tanya tentang diriku. Karena irtifa sudah tau planning ku mau kemana.


Ya wajar bagi ketiga temanku, kemana pun, mau apapun mereka pasti di dukung. Aggy yang bapaknya anggota TNI, irtifa papanya seorang pengusaha, dan Wildan anak pemilik diler motor. Jadi masalah dana tak perlu memikirkan, asalkan sungguh-sungguh belajar ke perguruan tinggi ternama pun boleh boleh saja. Beda sama aku yang penuh perhitungan dan rancangan.


Tapi jangan lupa bersyukur, apa yang di berikan kepada Allah saat ini entah kecil entah besar itu sesuai kebutuhan kita. Kehidupanku yang sederhana dengan kekayaan yang pas-pasan itu sesuai dengan takaran kebutuhanku... Simpel itu saja pikirnya...


Tapi jangan lupa usaha.. πŸ’ͺπŸ’ͺ


πŸ’πŸ’


Ujian berakhir, beban dalam pikiran mulai berkurang saja, bukan hilang. Seorang pelajar yang berkutat dalam pendidikan yang mulai bosan pada materi dan praktik yang tak menghasilkan cuan tentu lelah.


Lelah mikir tugas, mikir gaya, mikir doi pula...


Setelah makan malam, aku berkutat pada ponselku. Menanyakan kabar mengenai daftar beasiswa ku, pada irtifa melalu via WhatsApp, aku penasaran apakah aku di Terima atau tidak.


Ting


Sebuah pesan masuk di ponselku setelah beberapa jam ku tunggu, aku gak sabar dengan hasil nya. Sesuai jadwal, hasil seleksi akan di umumkan pada hari tanggal dan waktu pada saat ini.


"Bismillah" Dengan mata tertutup aku menghidupkan ponselku, dengan mata yang sedikit terbuka aku melihat pesan dari irtifa. Dan hasilnya sungguh mengejutkan yang membuat aku rasanya ingin menangis berdarah.


Ku bungkam wajahku di bantal, dengan teriakan bahagia tapi terdengar tidak jelas.


"Ya Allah aku lolos" Ucapku sambil sujud syukur di atas kasur, ingin rasanya aku berjingkrak-jingkrak di dalam kamar tapi aku urungkan. Masa fatin yang kalem jadi pecicilan.


Setelah aku puas menangis yang berdarah-darah, berair-air bahagia aku segera mengusap. Ingin ku berlari menuju kamar ibu secepat nya dan memberitahu kabar baik ini.


Belum lama batinku terdiam. Sebuah suara dari pintu terdengar di susul suara ibu.


Ibu tau aja kalau aku lagi bahagia...


"Fathin, sudah tidur nak? "


Aku segera menata selimut yang acak-acakan akibat tingkahku tadi.


"Belum bu"


Jawabku, sambil bangkit menuju pintu.


"Ibu masuk ya" Ucap Ibu, aku hanya mengangguk. Sudah ku persiapkan kejutan bahagia di malam ini, ibu pasti bangga padaku.


"Ada yang ingin ibu katakan"


"Fathin ingin sampaikan sesuatu"


Ucap kami bersamaan.


Aku hanya tertawa kecil setelah mendengarnya, tapi ku urungkan niatku untuk menyampaikan kabar baik. Dan meminta ibu untuk bicara duluan.


"Apa yang ingin ibu katakan? " Tanyaku penasaran.


"Kau dulu fa" Ucap ibu


"Tidak ibu saja duluan"


"Kau tak apa-apa jika ibu yang duluan"


Tanya ibu memastikan, aku mengangguk mantap. Kini ibu masih diam, hanya helaan nafas yang terdengar. Aku yang diam menatap ibu, jadi penasaran. Kini tatapan ibu menelisik ke wajahku, dia menatap dengan cemas dan keraguan. Seolah apa yang akan di sampaikan sebuah kabar buruk.


"Tapi kamu jangan syok ya fa"


Ucapan ibu yang penuh teka- teki. Membuat aku penasaran.


"Bu ayo katakan, jangan biarkan putrimu ini mati penasaran"


Aku menambah sedikit lelucon agar tidak tegang. Jangan bilang ini prank.. Coba ku ingat hari lahir ku. Ohhh tidak ini bukan hari kelahiran ku, masih kurang tiga bulan, jika ini prank acara ulang tahun.


"Sebenarnya ibu ingin katakan bahwa,.... "


Aku menatap serius ibu, ucapnya berbeda membuat jantung dag dig dug tak karuan..


Bahwa... ?


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen ya... ❀❀


Untuk para pembaca terimakasih atas kerelaan hati jempolnya...


Makin cinta dech aku


Happy reading untuk chapter selanjutnya... πŸ˜‡πŸ˜‡


Akan update setiap malam jika gak sibukk.. πŸ™πŸ™