I'M On Your

I'M On Your
Chapter 9



🍁🍁


Pertikaian mengenai siapa yang pantas untuk jadi pasangan ku antara irtifa, aggy, dan wildan sampai di bawa ke kantin. sesuai dengan janji aggy di jam istirahat dia mentraktir ku makan bakso, yang hanya berlaku untuk ku seorang.


"fa,, loe gak akan terpengaruh dengan traktirannya aggy kan?" tanya irtifa yang menggangu selera makan ku,


"apa an loe ni ir, itu mulu yang di bahas kayak abang loe itu gak laku, aja,,,,fathin itu udah ada yang naksir,,," timpal aggy yaang duduk di kursi depanku, sedangkan irtifa ada di sampingku.


"ehh kalian buat calon bini gue kesel aja" tambah wildan, yang sebenarnya aku agak sulit menelan daging bakso karena mendengar ucapan mereka.


"loe itu plin-plan apa gimana sich wil, kemari gue sekarang fatin, besok irtifa, jadi cowok kok gak konsisten banget.."


ucap aggy.


"gue sichhh,,, fatin masokk, loe masuk,,,irtifa masokk,,,semua gue embat, bila perlu cewek seangkatan gue punya seorang..."kata Wildan sambil melebarkan atapnya.. eh tangannya


"dasarrrr, titis buaya low..."


" eh kalian berdua ngatain emak gue buaya ya" ucap Wildan gak terima pada aggy dan irtifa. bahkan saking terlalu asiknya mereka mengabaikan bakso yang mereka pesan, sedangkan di mangkok ku sudah tandas tanpa sisa.


" sudah-sudah gak usah bertikai, makan tu makanan kalian" ucapku sekedar untuk mengingatkan.


"oh kau benar fa, bercecok dengan mereka butuh tega" jawab irtifa sambil menyendok makanannya di susul mereka berdua.


    aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, namun mataku menatap sosok tubuh tegap yang masuk kedalam kantin bersama seorang siswa cowok yang mungkin temannya. entah mengapa jika aku memandang wajahnya membuat rasa bahagia di hatiku, hingga membuat sudut bibirku terangkat sedikit. meski saat ini yang menjadi alasanku tersenyum tak pernah memandang ku...


" makasihhh, fatin paling cantik,paling manis, paling terbaik,,,,"ucap aggy dengan tangan mempermainkan pipiku yang mungkin di anggap squishy.


🍁🍁


    aku hanya menunjukkan wajah tidak suka. ya kalian tahu, apa maksud aggy saat mentraktir ku tadi, hanya untuk menggantikan dia rapat setiap mingguan yang di ruang OSIS yang diselenggarakan setiap hari sabtu. dan si wildan juga sudah menghilang, dauble troubel maker itu begitu kompak, ingin ku anugerahkan mereka berdua sepasang borgol, agar tak menghilang dan sedikit sadar akan tanggung jawabnya.


"satu mangkok gak cukup buat rasa terimakasih mu itu,,," sahut irtifa, tapi yang di ajak bicara sudah menghilang di telan bumi.


" aku duluan..." ucapku pada irtifa.


"ehhh, tapi nanti loe pulangnya gimana,,?"


"gpp, gue bisa naik angkot" jawabku sambil meraih tas ku.


"hati-hati,,, assalamu'alaikum" ucapku meninggalkan irtifa yang masih sibuk membereskan bukunya.


"Waalaikumsalam hati-hati juga, jangan lupa jaga hati juga"


samar-samar aku masih mendengar ucapan irtifa, tapi tak ingin menanggapinya dan lebih memilih meneruskan langkahku. di koridor sekolah aku segera bergabung siswa kelas lain yang memiliki tujuan sama denganku.


"hayyy,,,," sapa siswa yang menyamakan langkahnya denganku,


"oh hay juga" balasku, ya tentu saja itu adiba anak jurusan IPA yang kemarin aku temui di perpustakaan.


"ohh, aku belum selesai membaca, tapi aku sangat tersentuh oleh isinya" jawabku apa adanya,


    ya novel karangan penulis terkenal itu memang selalu mengesankan dan aku mengaguminya, meski belum pernah aku membeli satupun karyanya, karena jika memiliki sedikit uang akan ku gunakan kebutuhanku yang paling terpenting terlebih dahulu.


    tak terasa perbincangan dengan adiba melupakan kami bahwa sudah di depan kantor OSIS. kami berdua pun segera masuk dan mencari tempat duduk, oh ya ingin ku katakan bahwa sekolahku adalah sekolahan umum jadi mungkin biasa jika siswa cowok dan cewek duduk bercampur, bahakan siswi yang menggunakan jilbab dapat di hitung dengan jari.


 Di depan sana kak akhza sudah berdiri sejak aku masuk tadi, pembawaannya yang cuek, dan berwibawa membuat dia menjadi idola seluruh siswi yang ada di sekolahan. mengingat tentang buang mawar putih, memupuskan rasa kagum ku, apa yang sedang aku pikirkan, aku tak boleh mempunyai perasaan padanya,,,,


"fa..." panggilan adiba membuyarkan lamunanku.


"hmm iya!" sahutku,


"semua siswa mengeluarkan buku catatan fa , apa loe punya daya  ingat yang kuat, untuk menyimpan kata-kata dia.." ucapan adiba menyandarkan ku, bahwa sejak tadi aku memperhatikan kak akhza tanpa memperhatikan apa yang di ucapakan, aku segera mengeluarkan buku catatan dan bolpoin, menulis apa yang bisa aku catat, dan untuk kekurangannya aku melihat catatan adiba. untuk rapat hari ini membahas mengenai dies natalis sekolah yang kurang satu minggu, dan setiap kelas harus mengikuti kegiatan untuk meramaikan acara. dengan mengikuti beberapa event yang di selenggarakan.


🌹🌹


usai sholat dhuhur, aku langsung menginjakan langkah keluar gerbang, gerimis masih mengguyur kota jakarta, sedangkan diriku berteduh di halte bus dekat sekolah untuk menunggu angkutan umum lewat. ku peluk tubuh ku untuk menghalangi angin dingin yang menembus kulitku.


"hayy" suara yang tak asing lagi ku dengar.


adiba berdiri di samping seorang yang tak lain kak akhza. siswa idola para siswi itu berdiri di sampingku yang menjadi pembatas antara aku dan adiba. aku hanya mengangguk untuk membalas sapaannya. tak lama sebuah mobil ferrari berwarna merah  berhenti di depan mereka, kak akhza yang berdiri diseberang ku langsung melangkahkan kakinya menuju mobil , di ikuti adiba yang juga masuk kedalam mobil tersebut.


Apa kah mereka saudara? tanyaku dalam hati.


tak lama setelah kepergian mereka, sebuah angkutan umum datang, aku segera berlari kecil untuk bergabung dengan para penumpang yang akan memasuki angkot tersebut. sungguh sesak karena selain di isi para penumpang dan siswa sekolah lain, angkutan itu juga membawa satu keranjang buah durian, bagaimana kondisi ini, jika kalian di posisiku, belum 5 menit keberadaan ku, rasanya ingin muntah. kepala pening akibat jilbabku yang basah, dan sedikit sesak karena kurangnya oksigen. sungguh malang nasibku, yang tak seberapa dengan para pengamen kecil jalanan di perempatan lampu merah.


"ni di minum mbak..." ucap Fathan meletakkan cangkir yang berisi wedang jahe. aku masih asyik merebahkan tubuhku di kursi panjang ruang tamu dengan seragam lengkap dan kaos kaki masih melekat di kakiku.


" minum mbak, terus mandi sana, nanti tambah masuk angin..." ucap Fathan yang masih duduk di kursi depanku.


"tan, aku pengen pisang goreng, minta ibu buatin donk" pintaku sambil bangkit dan membenahkan posisi duduk ku.


"gak ada pisang di rumah mbak, tapi kalau mau Fathan belikan, aku siap kok.."katanya sembari menyodorkan tangannya. ku letakkan uang angin di telapak tangan adik ku.


"tau mbak mu ini lagi krisis ekonomi" ucapku, tapi dalam hatiku ingin makan pisang goreng di musim penghujan gini.


"udah dech kalau mau sakit , gak usah banyak maunya, sana nggih mandi, bau badan mbak menyengat ke seluruh penjuru ruangan ni"


tak lama Fathan menarik lenganku untuk bangkit dan mendorong ku menuju kamar mandi, dasar adik gak peka sekali, kalau dia sampai sakit, coba siapa yang ngurusin,,,,gerutu ku sambil menyambar handuk yang menggelantung di dekat kamar mandi.


coba apanya yang di sukai dari para cewek yang suka adikku, perhatian enggak, nyebelin iya,,,ya ku akui sedikit tampan, tapi kalau dia dengar aku bilang gitu, kali Fathan langsung terbang ke kayangan saking kepedeannya,,,,,


Bersambung....


happy Reading


jangan lupa vote n like ya.. 😘😘