
sakit, perih, namun aku hanya mampu berbaring lemas di atas aspal, rintik hujan membasahi tubuhku, diantara kesadaran ku yang mulai menurun, aku melihat bayangan pria yang muncul di dekatku, dia terlihat sangat panik, suaranya yang pelan sedikit bergetar mengucapkan kaya maaf berkali-kali.
air hujan yang membasahi rambutnya berjatuhan mengenai wajahku, pandanganku buram tapi aku tak akan lupa dengan aroma parfumnya.
"ka, k kak.. "ucapku, terputus tak berdaya menahan perih, disinilah aku mulai memejamkan mata, diikuti teriakan yang menyatu dengan derasnya air hujan.
" kia, tolong bertahanlah!!! "
***
dalam kabur aku memandang siluet tubuh yang gagah tengah berdiri di depan jendela, tirai putih yang terkena cahaya dari luar menyilaukan pandanganku...
mungkinkah aku di surga...
tapi rasanya sungguh sakit, tubuhku kaku tak dapat ku gerakkan..
"kamu sudah sadar" ucapnya sambil menyentuh kulitku, kini aku sadar aku masih didunia, pria yang tengah berdiri di dekat jendela itu suamiku, dan kini sudah berada di depan mataku ketika pandanganku sudah jelas.
aku hanya mampu terdiam, tak kala hidungku terdapat selang oksigen. namun bukan itu yang ingin ku pertanyakan dalam otakku.
mengapa dia tampan sekali ketika senyum...
batinku, hanya mampu terucap dalam pikiran. dalam kondisi sakit, aku masih bisa mengaguminya,
"syukurlah kamu sudah bangun" ucap kak nidhom sambil tersenyum, tangannya menggenggam jariku, ini pertama kalinya aku melihat senyum tulusnya, seketika kejadian lampau tengah hangus begitu saja.
"di mana?"tanyaku berusaha untuk bersuara meski lemah.
"rumah sakit" jawabnya.
"sebentar aku panggilkan dokter" aku mengangguk, namun mataku menelusuri bangunan rumah sakit yang seperti villa. apa bisa dikatakan ini rumah sakit.
setelah kak nidhom memencet tombol, tal lama seorang dokter wanita datang. dokter memeriksaku, dia mengatakan baik-baik saja menggunakan bahasa Inggris kepada nya.
tak lama selang oksigen di lepas, aku sedikit leluasa, tinggal infus, dan...
aku baru menyadari jika tangan dan kaki kiriku sedang diperban. kak nidhom mendekatiku. menatap ku dengan tatapan sulit ku artikan antara sayang atau kasihan.
"kita akan di sini, sampai kamu sembuh".aku mengangguk.
" bagaiman dengan ibu? "tanyaku, mengingat kejadian malam tadi aku kepikiran ibu yang pasti khawatir.
" aku sudah memberitahunya kemarin,"
aku kembali menatap kak nidhom penuh tanda tanya. dia malah tersenyum, yang membuat hatiku menjadi berdetak tak beraturan.
"kamu baru bangun, setelah koma dua hari sayank" ucapnya, yang menampar pikiranku, bahwa peristiwa itu terjadi tadi malam,
"oh" jawabku, di susul pipiku yang bersemu, entah kata terakhir darinya atau kerena suatu yang lain, entah hujan turun dari mana di cuaca yang panas ini.
"apa ingin video call dengan ibu? " perkataan kak nodhom membuyarkan lamunan ku, kepala ku reflek mengangguk.
tak lama kak nodhom memberikan ponselnya, aku tersenyum ketika barang berharga miliknya dapat di sentuh, entah mengapa aku sebahagia ini.
"makasih"
tak lama aku melihat wajah ibu yang tersenyum haru melihat ku, beberapa kali dia menyentuh ujung kelopak matanya dengan jari.
"assalamu'alaikum fa"
"Wa'alaikumsalam bu"
"bagaimana kondisimu di sana? "
"baik-baik saja, ibu kapan kesini" tanyaku yang membuat ibu tersenyum kecut.
"nidhom bilang ibu gak perlu kesana, kamu tahu fathin..,ibu takut naik pesawat"aku mengerutkan kening, perkataan ibu membuat aku menatap kak nodhom penuh tanda tanya.
"kita di Singapura" jawabnya,
pantas saja dokter yang merawat ku tadi berbicara menggunakan bahasa Inggris.
"ibu gak perlu kesini, kak nishom sudah menjagaku" aku menghadapkan layar ke arah dia. kemudian ku putar kembali ke arahku.
"ya sudah, kau istirahat dulu" ucap ibu, setelah berpamitan dan salam ibu memutuskan panggilanku, padahal aku masih rindu. kak nidhom mengambil kembali ponsel nya dan meletakkan di atas nakas samping tempat tidurku.
dari aromanya sudah menggugah cacingku diperut yang kelaparan selama dua hari.
"aku bisa makan sendiri" ucapku ketika kak nidhom menyodorkan sendok ke mulutku.
"biar aku saja" ucapnya, dan aku mengalah.
ya allah ada apa dengannya, dari tadi dia terus tersenyum menawan seperti itu
"kia" panggil kak nidhom ketika aku tak membuka mulut dan hanya menatapnya dengan bengong
"iy ya" jawabku, disusul mulut ku yang terbuka.
suapan demi suapan ku telan, karena ini bubur aku tak perlu banyak mengunyah, di matanya sekarang aku layaknya bayi, hingga ku sadari ada beberapa bubur yang tidak masuk kedalam mulut, gerakan tangan kak nidhom yang akan mengusap dengan jarinya membuat aku reflek mengusap bibirku dengan baju ku,
baju?
mengingat baju siapa yang menggantikan.. aku yakin, tak mungkin dia, tapi aku penasaran, sambil memakan bubur aku menatap kak nidhom.
"ada yang ingi kau tanyakan" tanyanya seolah tahu apa yang sedang ku pikirkan.
"em em siapa yang.. " potongku menatapnya ragu, kak nidhom hanya mengangkat alis sambil menunggu jawabanku.
"apa suster yang telah mengganti pakainku? " tanyaku gugup.
"aku" jawabnya membuat mataku membulat sempurna, namun aku tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, dan malah wajahku yang memerah.
kak nidhom menjawab tanpa beban, dan kembali menyuapiku tanpa canggung, kini aku yang menjadi malu dihadapannya.
tak butuh waktu lama bubur di mangkok telah tandas, karena aku kalut dengan pikiranku, jadi aku tan sadar jika telah menelannya berkali-kali.
kak nidhom keluar sebentar untuk membereskan peralatan makan, kemudian kembali dengan bungkusan yang tulisannya sebuah restoran.
"kakak belum makan? " tanyaku basa basi.
"ini mau makan" jawabnya dia kembali duduk di tempatnya tadi, dan mengeluarkan makanannya, bau sedap itu tercium di indra penciumanku, yang membuat aku ingin makan.
kini otakku membandingkan ayam krispi miliknya dan bubur lembak yang teksturnya saja sudah berbeda.
aku lapar
batinku berteriak, mana sanggup makan bubur semangkuk yang tak mampu mengganjal perut itu. mengapa kak nidhon tidak memakannya di sofa depan sana, dan malah membawanya di dekatku.
meminta pun tak mungkin, tapi sungguh aku ingin. namun aku lagi lagi menatap arah lain ketika dia menoleh kearah ku.
"masih lapar? " tanyanya, menyulut rasa maluku. aku hanya menggeleng. rasa gengsiku lebih besar dari pada rasa inginku.
namun apa daya ketika makanannya, sudah berada di depan mulutku, aku tak bisa membohongi diriku lagi, dan lebih memilih membuka mulut.
tak lama dia menyelesaikan makannya, dan hanya memberikan aku satu suapan tadi, sungguh makanannya lebih lezat dari pada bubur lembek itu.
kak nidhom segera menghampiriku setelah selesai dengan urusannya.
"kak"
"hmm"
"kapan kita pulang" tanyaku pelan, pria yang berstatus sebagai suamiku itu tersenyum sambil meletakkan tangannya di atas kepalaku.
"jika kamu sudah sembuh"
"apakah lama? "
"mungkin tiga bulanan"
aku mendesah panjang.
"aku minta maaf taj bisa menjagamu" ucap kak nidhom. aku meliriknya, dari wajahnya tercetak jelas rasa bersalahnya.
"coba kau ceritakan kejadian malam itu" pintanya,
jika dia meminta, maka aku akan menceritakan apapun tentang kejadian malam itu, hingga membuat aku tertabrak mobil suamiku sendiri.
bersambung...