
Hancur...
itulah kata yang dapat diungkapkan pada seorang anak yang harus kehilangan ibunya di depan mata. namun dia tidak bisa berbuat banyak hal ketika tubuh seorang yang mengasihinya selama ini harus jatuh dalam ketinggian beberapa meter.
"kia...."
di situasi, yang sungguh membuat dia menjadi sosok pria yang tidak berguna ketika dua wanita yang sama-sama dia sayangi. kini nidhom menatap istrinya yang tiba-tiba saja pingsan setelah melihat bagaimana ibunya terjatuh setelah mendapat luka tembakan.
kini, tangannya mengepal kuat, menatap pria didepannya dengan wajah tanpa dosa, andaikan dirinya tak mengkhawatirkan wanita di sisinya, saat ini dia akan melangkah tanpa rasa takut dan membunuh pria di depannya.
"bagaimana hadiahnya, kau suka putra ku..."
nidhom masih diam, mentap pria didengannya dengan amarah dan sesak dada, kini dia sungguh membenci, bahkan kata itu belum bisa mewakilkan.
"kau akan berterimakasih pada ayahmu ini, yang telah memmbantumu untuk membangkitkan luka mu,,,aku mengerti apa yang kau rasakan, tapi sudahlah,..."
"aku akan membunuhhh mu..." ucapnya dengan tatapan tajam, seolah ingin mecabik ayahnya.
"kemarilah, aku menunggu hari itu tiba...., aku snagat bahagia jika kau adalah alasan kematianku hahaha"
pria di depannya sungguh gila, bagaiman dia bisa berharap untuk mati ditangan putranya.
"kau gila..."
"aku sudah gila dari remaja, ibu bukan apa-apa, bahkan aku bisa membantai keluargaku sendiri..."
"psikopat\,\,\,\,br*ns*k..."
segala umpatan ingin rasanya dia lontarkan, namun kini kesadaran nidhom masih ada, andaikan tidak ada fathin yang tengah pingsan, dia tanpa menunda akan membunuh pria didepannya saat ini juga. dia tidak akan gegabah yang akan membahayakan istrinya.
"aku akan mengikutimu, namun biarkan aku membawanya pergi..." ucapnya dengan kata penuh penekanan karena dadanya sungguh terasa sesak.
"baiklah..., jika kau bisa keluar dari sini, akan membiarkan kekasihmu itu berafas..."
***
cahaya remang masuk dalam indra penglihatanku, hal yang pertama kulihat adalah kak nidhom yang berantakan. kini air mataku luruh, ketika kesaranku kembali, peristiwa yang baru sja terjadi berputar di otakku.
"bagaiman mama kak?" tanyaku pertama kali pada pria yang tengah memangku kepalaku.
pria yang ada di depan mataku itu hanya terdiam, mengabaikan pertanyaanku membuat aku semakin terisak, perirtiwa ini sungguh membuat mentalku down.
aku segera bangkit dari pangkuannya, berdiri dan melangkah kesemberang arah.
"kia, kau kemana?" tanya kak nidhom yang sudah mengenggam tanganku.
"melihat mama" ucapku dingin
"iklaskaan mama..."
seketika aku menatap kak nidhom dengan tajam, bagaimana ucapannya terkihat begitu ringan.
"dia mamamu kak, stidaknya kita lihat kondisi mama..."
"itu mustahil kia, mama terlah berkorban untuk kita..."
"tapi mam.....hiks.." ucapku terhenti ketika dadaku terasa nyeri, pandanganku kabur karena air mata yeng mengenang dipelapuk mata.
"jangan siakan pengorbanan mama, kita harus pergi dari sisni" jawabnya lemah, gengagam nya yang longgar kini mengetat, dan menarikku dari arah berlawanan dari apa yang kutuju.
aku yang tak berdaya, kini pasrah....mengikuti langkahnya.
sepertiya keinginan pergi, tak semudah apa yang di bayangkan...
kak nidhom menatapku, dia mengambil sesuatu dari balik bajunya.
"bawa ini, untuk melindungimu" ucapnya setelah sebuah pistol kecil berada di telapak tanganku yang membuat aku gemeteran. apa yang bisa ku lakukan dengan benda ini.
"jangan pergi..." aku mnghentikan langkah kak nidhom.
"percayalah, mereka tak akan melukaiku"
kini aku hanya bisa mengangguk dan melepaskan tangannya.
hidup dengan sederhana, ketenangan itulah yang selalu ku jalani, namun ketika mengenal dia semua berubah. apa yang tak seharusnya ku lihat kini harus ku saksikan. ingin rasanya memejam mata namun aku harus mencegahnya karena harus waspada, bagaimanapun hal yang tak terduga bisa terjadi kapan saja.
kini aku menatap kak nidhom yang menghajar mereka dengan membabi buta, percikan darah terciprat di wjah dan tubuhnya.
"kak!!" pekik ku tak kala dia di serang dari seseorang dari belakangnya.
"tidak!!!!" teriakku.
dor
sebuah peluru meluncur begitu cepat. membuat aku melepaskan benda yang tergenggam di tangaku di ikuti tubuh seseorang ambruk. kini tangaku bergetar hibat.
tidak!! aku telah membunuh seorang pria yang akan memukul kak nidhom dari arah belakangnya.
aku pembunuh....
"kak aku pembunuh" ucapku ketika kak nidhom sudah di depanku.
"tenanglah kia, kau tidak sengaja"
"tapi aku telah membunuh" ucapku sambari menutu wajhku denag tangan yang telah membuat aku telah menjadi pembunuh.
"lupakan, anggaplah itu tidak terjadi" ucap kak nidhom menenangkanku dengan memelukku sebentar.
"ayo kita pergi"
ajaknya sambil meraih tangaku, denan tubuh lemas aku melewati beberapa orang yang tergeletak.
akhirnya kami menemukan pintu, namun sayang pintu itu menuju sebuah tebing yang menghadap laut lepas.
"kita balik" belum sempat kami melangkah. suara tawa dari arah pintu yang kami lewati tadi muncul pria yang sama.
"apa aku akan melepaskan kalian dengan mudah setelah membunuh sebagian kecil pekerjaku" ucap pria itu yang di dampingi dua bodyguartnya.
kini aku menatap pria yang saling memiliki tatapan tajam denagn wajah yang begitu mirip, hanya saja beda versi tua dan muda. namun kini aku melihat sorotan amarah yang begitu besar dari kak nidhom, dan sorotan tenang dari pria didepannya yang tak lain ayahnya.
"bukan kah kehilangan bawahan mu sedikit itu bukan maslah besar" ucap kan nidhom dingin.
dan pria paruh baya itu menjawab dengan tawa terbahak-bahak.
"kau benar, tapi gadis kecilmu itu juga membunuhnya, dan dia harus mengganti nyawa yang telah di rengutnya"
kini tubuhku bergemetar, dan tanganku tak berhenti berkeringat dingin tak kala melihat pistol yang di tujukaan pada diriku, namun ketika pelatuk itu di tarik bersaaman itu juga tubuhku melayang bebas....
haruskah kami mati bersama....