
Bagaimana cara mengikis jarak diantara kedinginan yang membisu..
Membiarkan ku dalam suasana hati yang
tak menentu…
Jika tidak dapat menyatukan dua hati untuk
saling bertemu, setidaknya biarkan aku lepas dan memilih hati yang baru...
“kak kenapa kita ke apartemen?”
tanyaku.
Namun kak nidhom hanya menatap ku dingin tanpa menjawab. sorotan matanya mengatakan bahwa aku terlalu banyak bertanya.
Aku ingin marah tapi tak tahu tempat untuk melampiaskan, akhirnya ku putuskan untuk mengikutinya yang sudah berada di depan lift, apartemen kami di lantai 24, jujur jika di suruh memilih aku lebih senang tinggal di rumah nenek kirana dan kakek adam.
Langkah nya panjang, apa dayaku yang memiliki kaki pendek mengikutinya, aku tidak bisa menyamakan langkah kami kecuali aku berlari kecil.
“minta lah pada temanmu untuk mengizinkan absen hari ini?”
aku mengernyitkan kening. Dia memintaku untuk
bolos kuliah hari ini, bukankah begitu maksudnya.
“jika yang kakak bicarakan hal penting bisakah kita bicarakan nanti setelah pulang kuliah, atau saat ini dan setelah itu aku berangkat” kataku.
Kak nidhom menatapku dingin, mungkin dia tidak suka aku membantah.
“maaf” ucapku, aku sadar berkata keras di dekat suami bukan lah suatu yang benar.
“kita masuk terlebih dahulu” ucapnya,
aku melirik ke kanan kiri berharap tidak ada orang yang melihat apa yang
sedang ku lakukan tadi.
Aku mengikuti kak nidhom. Dia duduk di sofa dan aku segera ikut duduk di sofa depannya.
Sejenak dia diam, sepertinya ada hal yang penting ingin di sampaikan.
“ini mengenai kita”
“aku tahu” jawabku sambil merunduk bagaikan bunga layu.. dalam pikiranku sedang menerka.
“mama sudah tiada, dan dia….”
“aku tahu apa yang harus kita lalukan, kakak lakukan saja tapi tolong jangan katakana apapun saat ini….”
“aku belum selesai bicara”
“aku tah butuh pembicaraan kakak jika ini tentang perceraian, kakak hanya ingin katakana itukan masalah pernikahan kita..”
Aku segera membungkam mulutku ketika dia menatapku tidak suka, perkataan ku tidak salahkan, aku sangat menyakini bahwa hal itu yang ingin di sampaikan. Jujur aku menantikan hal itu tapi aku takut, apa yang harus ku katakan pada ibu, aku takut ibu kecewa dan mendapatkan olokan tetangga. Bahwa pernikahan putri yang dibanggakannya telah gagal.
Kak nidhom menghela nafas, diikuti tubuhnya yang berdiri, aku masih menunduk.
“mungkin kita bicarakan lain waktu, dan mengenai apa yang kau pikirkan tadi, tolong jangan bahas lagi”
Kak nidhom menoleh sejenak, namun dia kembali melangkah keluar dari pintu tanpa kata.
Di sinilah air mata ku pecah, bukankah itu
maunya. ..
Akhirnya aku lebih memilih merenung di kamar, mungkin masih ada waktu banyak untuk kuliah, tapi keadaanku yang tak memungkinkan. Kegalauanku pasti sangat berpengaruh pada materi itu.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, pagi menjadi siang dan seterusnya hingga malam, dia pergi setelah pertengkaran kecil kami. Kami tak pernah saling kenal, tak pernah saling jatuh cinta, dan
tiba tiba menikah, mungkin ini sebuah harapan yang ku sematkan dalam diary ku,
tapi bukan ini ceritanya…
...Aku percaya bahwa cinta datang datang...
...tanpa diminta, tanpa harus mencari, hingga takdir mempertemukan dua hati dalam ikatan...
...yang suci…...
Sepertinya kata-kata itu sudah tak berarti, mengubah segala pandanganku ketika aku di pertemukan oleh hidupnya. Menjadi bagian dari hidupnya tapi bukan sebagian hatinya…, aku tahu tak ada satupun rasa itu, meski dia tak pernah lepas dari tanggung jawabnya pada ku…
Usai solat isyak aku masih merenung, tapi tak adapun satu solusi yang terlintas di kepalaku. Akhirnya ku putuskan menangis dalam diam tanpa suara isakan namun air mata mampu menjadi lautan…
Aku termenung, ketika lampu tiba-tiba padam, ini bukan apartemen biasa yang sesuka hati petugas listrik mematikannya tanpa pemberitahuan.
Dan kau tahu aku takut kegelapan. Dengan bermodalkan flash dari ponsel aku menyalakan. Tujuanku saat ini keluar dari apartemen dan memastikan bahwa semua aliran listrik memang sedang padam.
Ku buka aplikasi WhatsApp dimana nama akhza tertera disana.
Me :akhza bisakah kamu jemput aku,
apartemen sedang mati lampu aku takut
Kulihat akhza online, tapi dia tidak segera menjawab.
Me : kumohon
Akhza : tunggu aku di sana.
Me : baiklah
Aku segera menghampiri sofa dan meringkuk di sana, berharap akhza datang atau kalau tidak lampu menyala.
Suara langkah kaki terdengar dari luar, dan tak lama terdengar sebuah ketukan keras. Aku segera lari dan membuka pintu, namun mulutku langsung tersumbat oleh sebuah benda, perlahan pandanganku kabur, namun masih bisa menangkap sosok bertopi hitam yang tak tahu seperti apakah
wajahnya…
Ya allah tolonglah aku..
Dalam kesadaran yang tinggal sedikit, ku rasakan tubuhku melayang, bersama suara langkah yang pergi…
bersambung...
VOTE,LIKE, KOMEN🥰🥰
salam dari ku semoga suka dengan ceritanya