I'M On Your

I'M On Your
Chapter 35



kak Nidhom dan Akhza bagaikan angka 11 dan 12. sekilas hampir mirip, tapi jika di amati banyak perbedaan.


aku menatap pria yang tengah duduk di belakang pengemudi. memastikan bahwa aku tidak salah lihat. ya benar, saat ini yang menjemput ku pulang ganti kak Nidhom.


"Akhza sedang ada urusan, jadi aku menjemput mu"


jelas kak Nidhom pada ku, seolah tau apa yang sedang ku pikir kan.


"hmm iya"


kini udara dingin seolah berputar di dalam mobil, pertama kalinya saat menikah kami semobil, anggap saja kami akan jalan jalan.


aku sedikit menempel pada pintu mobil ketika kak Nidhom meletakkan dompetnya di dashboard mobil, tak sengaja mataku menatap sebuah kertas yang terlipat terselip di sana, dan terjatuh di bawah kaki ku.


tak asing,


dan aku teringat tentang surat yang berisi penyataan perasaan ku...


ya Allah itu surat ku... jeritku di dalam hati..


dengan segera aku mengambilnya, tapi kertas itu sudah di tangan kak Nidhom, dan apesnya kepala ku dan kepalanya terbentur yang membuat kami saling terkejut, dan sedikit mengaduh.


kenapa kak akhza seceroboh itu meletakkan barang berharga bagi ku


batinku sudah menjerit-jerit, menampilkan wajah panik.


"ada apa? " tanya kak Nidhom yang terlihat mengamati ku. dan aku bernafas lega setelah dia mengembalikan kertas tersebut ke asalnya. untung gak di baca.


"hmm gak apa-apa kak"jawabku.


"jangan lupa pakai sabuk pengaman mu" ucapnya sebelum menjalankan mobil.


kini di pikiranku yang berputar-putar adalah bagaimana cara mengambil kertas itu dan melenyapkan nya. meski ku tahu di dalam kertas itu tidak tertera nama ku. tapi jika sampai di baca orang aku yang malu.., contohnya hari ini aku mendadak panik ketika kertas itu di bawa kak Nidhom.


"bagaiman ujian mu? "


tanyanya, membuat aku menoleh sebentar ke arahnya.


"alhamdulillah lancar"


"oh"


respon yang cukup dapat di Terima. setelah itu kami kembali hening hingga rumah.


***


siapa yang tak bahagia, ketika sekian lama aku meninggalkan rumah di mana banyak kisah hidupku di jalani di sana. akhirnya, sebelum kesibukan kuliah akan mulai, kak Nidhom mengajakku untuk berkunjung ke rumah ibu.


jika di pikir sudah tiga minggu lebih aku menikah, dan nanti sore dia berjanji pada ku untuk tidur di rumahku. lebih tepatnya mengatakan sih, karena itu tidak bisa di katakan sebagai janji, karena kapan saja bisa batal jika dia sibuk...


fathin berdoalah, bahwa hari ini hidup suami mu banyak waktu...


menanti sore seolah menanti tahun depan, lama karena adanya rasa yang dinamakan rindu, ya karena rindu itu membuat waktu terasa lama jika berjauhan, dan akan terasa cepat jika bertemu...


"fa, nenek lihat dari tadi wajah mu bahagia"


nenek yang baru saja keluar dari kamarnya menatapku. aku yang di tatap hanya mampu mengembangkan senyum bahagia. biarlah di mata nenek aku terlihat aneh.


"yang mau kunjung rumah"


suara itu tiba-tiba muncul dan ikut nimbrung. siapa lagi kalau bukan kak Akhza, eh Akhza pangkatnya udah hilang sejak aku menikah dengan kakaknya.


"benarkah? sepi donk kalau hanya  nenek yang wanita sendiri di rumah"


"aku belum tahu nek? " jawabku.


"aku harap gak lama" ucap nenek sambil berjalan ke arah dapur.


aku menatap Akhza yang berdiri di dekat tangga. jarinya sibuk mengetik sesuatu di atas ponselnya. manusia tampan itu berubah menjadi menjengkelkan.


"dari mana kau tahu?" tanyaku.


"aku punya indra ke enam" jawabnya ngasal, sambil menghampiri sofa panjang di sampingku.


aku yang ingin bicara lagi, ku urungkan ketika adiba masuk dari pintu depan dan menatap kami sekilas. di rumah ini hanya dia yang menjadi manusia ter sinis terhadapku.


"ada apa?" tanyaku ketika akhza tiba tertawa kecil.


"tidak, hanya saja di rumah ini terlihat hawa hawa perseteruan perasaan"


ucapnya yang membuat aku mengernyitkan kening. namun aku paham betul apa maksudnya, dia tengah menyindirku. tapi dengan dugaan apa? aku yakin kak akhza tak tahu kejadian beberapa bulan yang lalu di raja ampat kan? atau adiba pernah curhat.


kini aku diam mengingat kejadian yang tengah lampau, dan seingat ku, aku tak pernah bertemu dengan akhza, atau memang aku tak tahu. apalagi mengingat dia juga anggota keluarga pemilik yayasan.


dari pada mengingat kejadian itu, akhirnya ku putuskan untuk meninggalnya yang lagi ngegame di ruang keluarga.


***


jam 5 sore kak nidhom sudah pulang, aku yang melihatnya langsung berbunga-bunga. tapi buka karena ketemu sang pujaan hati lo ya...


"jam setengah enam  bangunkan aku" ucap kak nidhom yang tengah menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang. aku yang tadi berbunga- bunga akhirnya layu seketika. aku takut jika rencana ini gagal, perasaanku selayaknya anak burung yang berusaha terbang tapi terhempas angin, jika samapi hari ini gak jadi.


ku tatap kak nidhom yang bernafas teratur, sepertinya dia cepat sekali terlelap. mengingat itu aku jadi gak bisa egois, bagaimana pun juga dia kelelahan.


tiga puluh menit bukan lah waktu yang lama, azan magrib pun sudah di kumandangkan. aku segera kembali ke kamar, mengingat pesannya tadi. namun orangnya sudah menghilang. terdengar air dari kamar mandi.


mengingat kejadian di awal pernikahan. aku segera melangkah kelar, namun tak jadi.


"fathin"


kak nidhom memanggilku, tahu aja jika aku di dalam kamar.


"iya kak" jawabku.


"ambilkan bajuku di atas ranjang"


suaranya yang masih sayup-sayup aku dengar. ku tatap kaos oblong yang tergeletak di atas ranjang.


segera ku sambar pakaian tersebut, namun setelah berada di depan pintu kamar mandi jantungku jadi lari maratonan.


"kak, ini bajunya" ucapku sambil mengetuk pintu namun tubuhku memunggunginya. tapi hal bodoh yang tak aku sadari, yang membuat tubuhku limbung tanpa keseimbangan setelah pintu di buka.


mungkin kepalaku akan membentur lantai jika, kak nidhom tidak sigap menangkap bahuku, tapi karena mendadak dan lantai cukup licin tubuhku mendorongnya hingga ke bawah shower yang masih menyala.


"maaf" kataku, dengan cepat ku tutup mataku, dan mengabaikan air yang tengah membasahi seluruh tubuhku.


"lain kali hati-hati" ucap kak nidhom.


"kau mandi dulu saja" lanjutnya,


"kakak selesaikan saja, aku akan keluar"


ucapku dengan langkah masih menutup mata. tapi sebuah tangan menghentikan ku, disusul sebuah suara permintaan maaf, tapi bukan darinya..


Bersambung