I'M On Your

I'M On Your
Chapter 67



Musibah yang membawa berkah...


sebuah kata yang saat ini ku alami, jika jalan ceritanya aku tak pernah mengalami kecelakaan mungkinkah sikap kak nidhom akan tetap cuek dan dingin...


hanya allah yang tahu, apa yang ku alami bulan kemarin semua sudah di atur, ku hanya bisa usaha pasrah dan berdoa sebagai harapan, agar rumah tangga kami langgeng, meski ada kerikil yang sempat menghalangi langkah kami...


" ghemm yang dia antar misua" suara irtifa membuka suara ketika pantat ku belum sampai menyentuh kursi. aku hanya meliriknya sekilas tanpa ada minat untuk menanggapi.


"gy, hasil semester kemarin ip mu bagaimana, bagus gak? " tanyaku pada aggy yang duduk, dia menatapku sedikit cuek, tapi aku mahlum karena sudah mengenalnya.


"fa, kok aku di cuekin sih, malah perhatian ke aggy"


"soalnya lo ngeselin sih" sahut aggy


"biasa fa, ip ku gak jelek jelek amat juga gak bagus, bagus amat" lanjut aggy.


kini irtifa sedikit menyeret kursinya ke dekatku. sambil tangannya menyentuh lenganku.


"fa, mata kuliah pak nicko nilai gue jelek, dapat B- lagi.... terus semester ini ada mata kuliahnya tiga sks,.. "


"terus apa hubungannya sama fathin, yang jelek kan nilai lo... "


"eh, gy lo tu gak ngerti sih, pak nicko itu kalau jelasin kelewat batas kepintaran kita, terus kasih soalnya itu cuma satu tapi jawabnya bisa seluruh buku, gue stres sendiri punya dosen begituan, andai kamu di kelas ku, mungkin arogannya itu dapat turun meski 0,0001 %"


"mana ngaruh" jawab aggy cuek


"ihhh lo tu.., fa kamu bilang sama suamimu itu, jika ngajar kelasku jangan galak-galak, bosan gue lihat muka kulkasnya... , terus jangan pelit kasih nilai mahasiswa... "


"kenapa gak bilang sendiri, lo mau manfaatin pertemanan sama fathin karena nilai.... "


"ih kesel gue dari tadi sama lo, gy.. udah pergi sono, gue dari tadi kesini mau minta penjelasan fathin gak jadi karena lihat muka lo, lo nempel mulu sama fathin"


"kan gue bodyguard nya"


"udah ah, aku lapar dari tadi kalian makan omongan terus"


"itu sih, fa aggu nyolot mulu"


"tu kan gue salah terus... "


"udah, kita makan dulu... " ucapku meleraikan.


inilah susahnya jika punya teman beda sudut pandang dan jalan hidup, keseharian beradu mulut terus udah kayak tetangga yang lagi ribut..


"fa, kamu sudah janji mau cerita sama aku, hari ini aku gak mau di tunda lagi"


"hmm" jawabku di sela makan.


usai jam terakhir aku langsung bergegas ke basemen kampus, irtifa sudah berdiri di samping mobilnya.


"mari masuk nyonya denandra" ucap irtifa layaknya sopir pribadi. aku hanya mendengus kesal kepadanya.


"jangan menjahiliku" ucapku sebelum irtifa menutup pintu mobilnya.


"kau sudah izin pak nicko, fa?, "


"belum" jawabku. namun tak lama sebuah notifikasi pesan masuk dalam ponselku.


kak nidhom: pulang jam berapa?


me : aku pulang bareng irtifa kak, mungkin nanti sampai rumah agak sore


ku tatap pesan yang sudah centang biru namun tidak di balas.


"bagaimana? "


"aman" ucapku yang di sambut senyum irtifa.


"ok dach kita berangkat!!!, "


tak membutuhkan waktu lama mobil yang di kemudi irtifa melesat membelah jalan raya. sebuah mall terbesar di ibu kota menjadi tujuan utama.


"suamimu izinin kan fa, takutnya nanti kalau kamu di marahin kena imbas ke nilai gue"


"aku yakin dia gak gitu ir"


"berarti kamu anggap aku yang gak pintar gitu"


"ya gak gitu juga.. "


"ihhh, sekarang kamu jadi nyebelin"


"kamu kali yang sensitif terus"


upss, aku salah lagi, aku pikir irtifa lagi Mestruasi dari tadi bawanya mood buruk aja.


"cepetan ceritain" ucap gadis itu sudah gak sabaran,


"kita pesan makan dulu apa? "


"huh, mas" panggil irtifa pada mas mas pelayan restoran.


"mau pesan apa mbak? "


"apa aja mas, yang istimewa disini, asal bukan daging guling mantan"


"oh siap, " kemudian pelayan itu pergi. aku pikir sekarang irtifa pikirannya lagi absurd.


"cepetan fa" ucapnya lagi. kini aku yang ganti mendengus kesal. kepo banget si irtifa sama urusan ku.


"mulai dari mana ya.. " ucapku sebelum bercerita.


akhirnya mau tidak mau aku menceritakan segala detail awal mula aku menikah dengan pria yang menurut irtifa itu muka kulkas, tapi satu hal aku tak bisa menceritakan sifat buruknya padaku, bagaimanapun juga itu adalah suatu aib yang harus di tutupi.


"terus kamu kok mau sih sama pak nicko"


"ya mungkin aku dan dia sudah takdir"


"ihh pasrah sekali, seharusnya kamu cerita sama aku, jadi aku gak kalah cepat sama aggy"


"aku gak pernah cerita sama aggy ir"


"terus bagaimana dia bisa tahu"


"mana aku tahu"


"terus kamu gak tertekan kan sama sikap pak nicko"


aku terdiam sesaat kemudian menggelengkan kepala.


"kita makan saja ir"


"fa"


"ir, aku tahu kamu peduli, tapi ini urusan pribadi ku"


"aku mengerti" ucap gadis itu dengan tangan menusuk steak yang sudah di pesan tadi.


"aku ke toilet sebentar ya" ucapku ketika perutku sedang merasa sedikit mulas.


"hemm, tapi jangan lama"


tanpa menjawab pertanyaan irtifa, aku langsung bergegas pergi.


pantesan suasana hati ku gampang emosi, hari ini tepat tanggal kebiasaanku, untung benda keramat itu selalu ku bawa kemana-mana. sedia payung sebelum hujan. setelah beres dengan urusan aku bergegas menuju meja makan, terlihat irtifa masih duduk di sana, namun alangkah terkejutnya aku ketika berpapasan dengan orang yang selama ini harus aku hindari.


"e kka.. " belum selesai aku bicara, dia menatapku dingin , meski sekilas. namun tak lama mimik wajahnya berubah seperti orang yang tak pernah kenal. kini aku menjadi sedikit merinding, dengan cepat aku melangkahkan kaki menuju meja kami.


"ir,yuk kita pulang"


"ada apa? makanan nya belum habis"


"kamu habisin aja, aku mau pulang sekarang" ucapku, langsung melangkahkan kaki, aku tak peduli lagi dengan irtifa yang terus memanggilku.


"fa, tunggu." teriak irtifa dengan napas ngos-ngosan. aku yang sudah sampai di luar mall, menghentikan langkah.


"fa kamu kenapa sih, di suruh tunggu malah nyelonong pergi"


"aku mau pulang" jawabku


"oky, aku tahu kamu ingin pulang, tapi santai dikit napa, lagian juga belum ada jam empat"


"mau anterin atau mau ngomel, aku duluan"


"oke, gue anterin"


dalam mobil aku terdiam, meski beberapa kali irtifa menatapku. ya, aku diam karena merasa ketakutan. ku pikir orang itu telah tiada setelah di hajar habis-habisan. kini aku salah menilai jika kak nidhom telah membunuh orang, aku bersyukur sekaligus resah, berharap dia tidak menggangguku, aku tak tahu alasan orang itu mencelakai dan ingin melecehkan ku pada malam itu.


ketika keadaan mulai damai, mengapa masalah selalu datang bertubi, ku harap hal buruk segera ber akhir, mengingat hubungan kami yang mulai tumbuh...


bersambung


ada yang mau kasih saran😘