I'M On Your

I'M On Your
Chapter 88



Sepintas pertanyaan yang terlintas di kepalaku. laki-laki pendiam yang berhati dingin yang selama ini yang ada dalam pikiran merupakan sosok pria yang penyayang saat ini.


"haruskah ku katakan"


aku menganggukkan kepala dalam gendongannya.


"aku ingin mendengar dari mulut mu, meski mama sepintas pernah menyinggung nya.. "


ucapku sambil menatap wajah pria yang menjadi suamiku.


kak nodhom berhenti perjalan, sedikit mengangkat tubuhku yang sedikit melorot kebawah.


"aku tak tahu mengapa aku mencintaimu..., tapi sejak mama memperlihatkan foto gadis manis yang katanya putri sahabatnya, sejak itu aku tertarik padamu... "


"sejak kapan? "


tanyaku yang timbul dari rasa penasaran.


"sejak di bangku SMA.. "


" berarti kakak sudah mengenalku... "


"sekedar di foto... "


"Lantas bagaimana kak bisa tahu jika akan menikah denganku.. "


"itu karna aku yang meminta... "


ucapan kak nidhom membuat aku terbungkam dengan sudut bibir terangkat yang berusaha menahan senyum bahagia....


"makasih.. " ucapku begitu saja keluar, dengan tangan mengerat memeluk leher kak nidhom.


"untuk? " tanya kak nidhom dengan kaki yang masih setia melangkah.


"telah mencintaiku selama itu, jika dari awal aku tahu aku akan membalas perasaan kakak di awal pernikahan kita... "


"aku yang seharusnya berterimakasih. tapi kau tidak tertekan kan...? "


"hmmm di awal sih begitu, apalagi saat ku tahu kak nidhom menjalin hubungan dengan kak harmonika, saat itu aku merasa pesimis... "


"maaf.. " ucap kak nidhom sambil membelai tanganku yang melingkar di lehernya.


"itu tak akan terjadi lagi.. " ucapnya, dengan bibir tersenyum, namun katanya terlihat sendu.


"tak apa, semua sudah berlalu, dan aku tahu bahwa kakak benar- benar menyayangiku.. "


***


entah saat ini jarum jam menuju angka berapa, yang pasti langit memperlihatkan tanda-tanda cahaya fajar. saat ini kami memasuki sebuah pemukiman yang sangat sepi.


"kak, ini mengambil melik orang? " tanyaku setelah kak nidhom mengambil sebuah selendang yang terjemur di pekarangan rumah orang.


"nanti kita kembalikan"


kini aku sudah turun dari gendongan suamiku, melangkah mengikuti langkahnya yang sedang memakai kemeja putih lusuh itu.


"sekarang kita dimana? " tanyaku sambari memandang kesegala penjuru.


"aku tak tahu, mungkin di pedesaan terpencil"


"sekarang kita kemana? " tanyaku penasaran.


kita tangan kak nidhon mencubit bibirku dengan tatapan yang sangat manis, baru aku sadar aku memiliki suami setampan itu....


"jangan cerewet... " ucapnya dengan senyum menawan yang memperlihatkan deretan gigi rapinya.


"hmmm, baiklah... "


setelah melangkah jauh di bawah langit malam, yang ku pikir sudah fajar itu, akhirnya kami menemukan sebuah telepon umum.


kini aku lebih memilih diam dan memperhatikan apa yang di lakukan suamiku terhadap benda itu.


setelah beberapa menit di berbicara dengan seseorang di telfon, kini kak nidhom menghampiriku.


"aku sudah mencari bantuan, mungkin dua jam lagi mereka akan datang, kamu tidak apa-apakan"


"seharusnya aku yang banyak berterimakasih padamu kak"


"itu tanggung jawabku, lagian ini juga masalahku, aku yang harus nya minta maaf"


aku tak lagi menyahuti perkataannya, hanya senyum simpul yang ku tunjukkan bahwa semua yang terjadi bukan kesalahannya namun takdir kami begitu.


setelah sekian lama terdiam, tak lama muncul sebuah suara bising, aku mendekatkan tubuhku sedikit. peristiwa yang baru saja terjadi membuat tubuhku merespon waspada.


"tenanglah, mereka bantuan yang akan datang membawa kita pergi dari sini"


ucap kak nidhom membuatku sedikit tenang...


bersambung