
"makasih" ucapku ketika turun dari mobil irtifa.
"oke, sama-sama"
aku melambaikan tangan ketika mobil irtifa mulai bergerak menjauh. hari yang mulai senja melukiskan garis jingga di langit. kini jalan mulai sepi, mengingat pertemuan dengan orang tadi aku segera masuk kedalam.
ketika pintu pintu terbuka ruang tamu gelap padahal pintu tidak terkunci, sedikit ku raba tanganku pada dinding untuk mencari saklar lampu ruang tamu.
klikk
lampu menyala dan aku menatap dia yang tengah berbaring di sofa.
"kak" panggilku. namun kak nidhom tak bergeming sama sekali. aku semakin mendekati sofa. menatap wajahnya yang terlelap. tak sadar aku telah berjongkok dan menatap wajah yang nyaris sempurna. tak percaya aku menikah dengan pria yang sungguh tampan. pantas suamiku ini di gemari wanita.
"memang jika bersanding dengan mbak monika dia lebih pantas dari pada aku" gumam ku.
"benarkah"
"ka kak, bukankah.. "
kak nidhom membuka matanya, kini wajahku memerah padam ketika kepergok tengah mengamatinya.
aku segera berdiri ketika dia telah duduk.
"kau masih beranggapan aku memiliki hubungan kasih dengan harmonika? "
"hmm, bukan begitu maksudku"
"terus? "
"aku pernah melihat bergandengan tangan, jadi tak jika aku punya pikiran seperti itu wajar" kataku sedikit takut.
"duduklah" ucapnya dengan menatapku intens. aku segera duduk di sampingnya.
"kau masih berfikiran begitu"
aku mengangguk, bagaimana pun juga aku wanita, dan insting ku mengatakan seperti itu.
"apa perlu aku membawanya kesini dan menjelaskan di depanmu"
"itu tidak perlu" jawabku menolak.
"sebuah penjelasan tak akan menjawab fakta yang sudah terlihat di depan mata" ucapku tegas,
entah mengapa kini membahas hal itu kembali, padahal tadi pulang niatku untuk berlindung di dekatnya dari rasa takut ku pada orang yang baru saja ku temui.
"baiklah, aku tidak menyalahkan penglihatan mu, tapi juga tidak membenarkan, namun yang pasti aku tidak seperti yang kau pikirkan"
"jadi cerita semua hal tentangmu, kakak tahu, aku merasa menjadi orang yang tak tahu apa-apa" ucapku kesal.
kini kak nidhom kembali menatapku, dengan sedikit keberanian aku menatap netra nya, meski rasanya jantung ingin rasanya ingin jatuh karena terlalu cepat memompa darah.
"lebih baik kau tak tahu sama sekali tentang diriku"
"lantas apa arti dari pernikahan ini, bukankan.. "
"cukup fathin, jangan memaksa ku" potong kak nidhom sambil menempelkan jari telunjuknya pada bibirku yang kini ganti sebuah ciuman singkat di kening.
"pada waktunya kamu akan mengerti.. "
"tapi... "
aku ingin tahu saat ini juga, tapi kini dia tengah pergi ke kamar kami. sebenarnya apa yang dia sembunyikan tentang dirinya, hingga aku tak perlu tahu. perlakuannya yang dingin dan berubah jadi manis membuat aku bertanya-tanya. sepertinya alasan rasa bersalah telah menabrak ku bukan sebuah alasan yang tepat.
aku kembali menghela nafas dan beranjak dari duduk untuk mengingkuti nya.
"terus aku tadi bertemu orang yang mau mencelakai ku" lanjut ku.
"siapa? "
"kevin" jawabku
"sebenarnya apa hubungan kakak dengan dia" lanjut ku.. "
"tidak ada"
"bukankah kalian teman? "
"teman? "
"iya" ucapku, kini tanpa mendapatkan jawaban, kini aku tahu jika orang yang bernama kevin itu sedang membohongiku. kenapa aku dulu begitu percaya dengan ucapannya.
"orang yang mengaku teman, tanpa ku perkenalkan berarti dia musuh"
"apa kakak pernah mencelakai orang? "
"tidak" jawabnya diingin, tapi penuh dengan kemisteriusan.
"sudah lah, jangan banyak pikiran"
"tapi aku takut jika dia mencelakai ku lagi"
"rencana yang gagal itu tak mungkin terulang dengan cara yang sama, jadi berhati-hati lah jika tidak ada aku di sampingmu"
"aku tak ingin kemana-mana" ucapku.
"ke marilah"
tanpa pikir panjang aku merinsek ke atas ranjang dan ikut rebahan di samping kak nidhom.
"selagi ada aku, tak akan kubiarkan hal buruk terjadi padamu" ucap kak nidhom.
"terimakasih" ucapku, tanpa sadar aku telah memeluknya.
"bagaimana jika kita liburan sekarang? "
aku yang sedang terdiam memeluk tubuh suamiku kini menatap wajahnya.
"liburan? tapi ini belum waktunya liburan, tahun baru tinggal dua bulan lagi, terus pekerjaan kakak... "
"shutt, kita telah menunda segalanya...,"
"maksudnya??? "
"sudah tidur saja," ucap kak nidhom sambil memelukku, matanya terpejam tapi senyumnya menyiratkan hal aneh...
"ini sudah waktunya magrib" ucapku sambil melepaskan diri...
bukannya melepaskan ku, kak nidhom semakin mengeratkan tangannya.
"kita tunggu sampai iqomah"
"tapi.. "
cup
terpotong sudah ucapan ku...
bersambung....