I'M On Your

I'M On Your
Chapter 18



🍊🍊


Seragam abu-abu, namun planning kedepannya sedikit-demi sedikit sudah kupikirkan, akan kemana setelah lulus.Melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya adalah sebuah impianku. Namun sebuah kampus ternama sebagai tujuan belajar itu tidak harus. Aku cukup mencari beasiswa di kampus biasa saja, kuliah yang tidak terlalu padat pelajaran agar bisa kerja sampingan juga. Selain itu, aku ingin menanamkan sebuah pandangan pada adikku, untuk tidak putus harapan dalam menggapai cita, bukan cinta. Karena keduanya punya jalan yang berbeda.


“tanamanku, kamu pangkas habis-habisan ya fa” tanya ibu setelah aku duduk di kursi kayu yang telah usang tapi membuat aku betah untuk duduk di atasnya. Apalagi di suguhi nasi goreng buatan ibu,


tambah betah aku lama-lama jika pengangguran.


Bukannya menjawab pertanyaan. Aku malah mengambil piring.


“fa,,”


“iya buk, masalah bunga, kemarin mbak monika membelinya, mungkin penting, jadi fatin terpaksa jual…”


“tumben…” respon ibu.


Fathan yang baru datang langsung melingkarkan lengannya pada leherku. Bila ini di tempat umum dikira adikku kekasih ku, ya janganlah,, di dunia ini belum punah cowok tampan. Mau adikku itu tampan gak juga di embat pula.


“mana bagian ku, mbakkk…” ucapnya dengan


mata di buat-buat semelas –melasnya. Ini adik bukan di dikasihani malah ingin ku gambrat, tapi dengan uang.


“ni, buat tambahan, lain kali kalau udah gede jangan lupa di kembalikan ya” ucapku sambil memasukkan uang dua puluh ribuan di saku kemeja fathan.


“gal ikhlas bangett..” jawabnya sambil


mengambil uang dua puluh ribuan.


“makasih ya mbakku tersayang, bakal


fathan kembalikan jika ingat” ucapnya membuat aku memutar bola mata. Sebenarnya tak seserius itu, aku emang sering bercanda gitu, nyatanya kalau fathan masih dapat uang lebaran juga gak dikasih aku buat bayar utangnya.


“bilang sayangnya jika pas ketiban uang


aja, biasanya enggak..”


Ucapku, fathan yang baru saja duduk hanya


cengengesan.


 “fa, nanti seusai pembelajaran, kamu masih ada


kegiatan sekolah gak”tanya ibu ragu.


“enggak buk kayaknya, tapi kalau ada rapat dadakan gak tau sich,,,” kata ku sambil memikirkan. Kan kadang adiba suku buat, pengumuman dadakan kalau mau rapat, yang banyak menggagalkan rencana kegiatan lainnya.


“ya udah dech sore aja, jam tigaan ke kios bunga akong ya, ada temen ibu mau ketemu kamu”


“siapp” ucapku, masih sambil menikmati makanan yang bentar lagi kandas.


“fathan gak di ajak,,,”


“kamu udah gede, Fathan di rumah aja”


jawab ibuku.


“ya nanti, kalau teman ibu kasih uang saku, kan mbak fatin aja yang dapat”


Kudengar suara ibu sedikit tertawa kecil, ingin ikut ketawa takut ke selek.


“mana ada kasih uang saku, kamu dah gedhe,


udah dilihat kanan kiri, depan belakang, gak bakalan kelihatan kayak anak SD”


ucapku menimpali, sambil meraih tangan ibu.


“aku berangkat” kataku sambil melewati Fathan, tak lupa tanganku mengacak rambut adikku yang sudah rapi.


“kak Fatin,,,!!” teriaknya.


Aku segera keluar dan meraih sepedaku….


🍊🍊


Dari jam pelajaran pertama sampai akan istirahat kelas terasa hening, hari ini ada pelajaran bahasa Indonesia, gurunya galak minta ampun, dan kelas seketika jadi horor, bila materi puisi bukannya


menghayati karya-karya indah yang di bacakan yang ada malah aneh.


Huhhh, suara helaan nafas mereka bertiga serempak setelah pak subroto keluar.


“dulu bapaknya salah jurusan kali pas kuliah gak ya”


Baru saja keluar pintu gurunya, aggy udah langsung bersuara.


“kali dulu dia dukun sunat” suara wildan di belakangku ikut menimpali.


Dari kelas satu sampai kelas tiga sekarang, posisi duduk kita tetap sama, aku dan irtifa di bangku nomer dua samping kanan, wildan di belakangku dan aggy di belakang irtifa. Mereka bilang,


biar kegoblokan nya tertutupi, jika lupa ngerjain tugas ada yang mau contekin,,gak perlu jauh-jauh mencari. Alasan yang Membagongkan.


“emang dukun sunat horor,,,” ucap irtifa ikut nimbrung juga.


“mana gue tau, kan gue perempuan..”


jawab aggy. Padahal yang bilang tadi dia.


“tumben lurus..” jawab wildan, yang disusul suara keplakan aggy ke bagian tubuh wildan entah yang kena kepala, apa pipi, aku gak tau karena lagi fokus baca grup OSIS.


Ku sodok lengan irtifa yang tubuhnya


menghadap depan tapi kepalanya kesamping.


“ada apa?”


“ni” kataku, sambil memperlihatkan layar hp.


“ohh, aku lagi  ni ya” katanya. Aku hanya mengangguk. Jika ada pengumuman dari bapak ketua OSIS maka, irtifa yang akan menyampaikan


pengumuman, maklumlah suaranya aga cempreng sedikit terdengar dari pada suaraku.


“hello guys,, tolong perhatiannya sebentar”


“langsung ke intinya aja ya, …karena


semester ini akan di adakan study toor, jadi setiap kelas silahkan mengajukan satu lokasi wisata, jadi menurut kalian enaknya kita kemana, keluar negri


boleh, dalam negri boleh..”ucapan irtifa langsung di sambut antusias.


nyatanya tadi adem ayem, sekarang jadi berisik.  Informasi sedikit, untuk tahun ini ibu Negara kelas kami irtifa, tahun lalu setelah aggy, itu aku. Jadi kesimpulannya kelas ini dari periode ke periode


di pimpinan oleh para cewek, entah kemana cowoknya,,,pada menghilang semua…


Dalam waktu sepuluh menit, setelah berdiskusi dan mempertimbangkan pilihan akhirnya kita mengajukan study tour ke raja empat. Yang mungkin pilihan kami masih mendapatkan seleksi dari dewan anggota OSIS dan kepala sekolah serta bapak ketua yayasan.


Sepulang sekolah aku langsung menuju kios bunga akong, karena ibu menungguku di sana.


“udah makan fa” ucap ibu yang sibuk


merangkai bunga. Aku hanya menggeleng.


“yau dah, yuk iku ..” kata ibu sambil


merangkul bahuku, tak lupa ibu pamit akong terlebih dahulu.


“bu, kita kemana?” tanyaku.


“ke sana, tante melody sudah tungguin kamu”


Ucap ibu, kami langsung berjalan kearah caffe yang tak jauh dari toko akong.


“dia teman SMA ayahmu dulu..” kata ibu


kembali, aku hanya ber oh ria saja menanggapinya.


Sampai di dalam, aku memandang di sekiling caffe yang terlihat instragamable ya, terlihat cocok sebagai tempat tongkrongan anak muda. Dan aku baru kali ini mau masuk caffe ala hitz. Ya


sedikit kuper aku sich, sebenernya irtifa atau aggy sering ajak nongkrong , tapi aku yang malas keluar rumah malam-malam.


Wanita yang terlihat seusia ibuku berdiri dari tempat duduknya, wajahnya terlihat masih muda, khas wanita eropa dengan warna mata abu-abu, dan kulit putih bersih. Aku yang muda berasa iri, tapi bukan iri dengki. Sebagai seorang remaja baik alangkah baiknya aku menyalaminya, namun yang ku dapat pelukan hangat mendadak.


“hay sayang,” ucapnya.


Aku yang terkejut masih mematung, sedangkan wanita itu seduh main cipika cipiki di pipiku, seolah kami pernah bertemu sebelumnya.


“udah besar aja kamu, wow makin cantik aja” katanya.


“he, iya tan” kataku kaku, aku tak bisa bersikap biasa pada orang yang baru ku kenal.


“putrimu, sungguh cantik dari pada fotonya, seperti aku melihat aura harist pada masa itu” ucap tante melody.


Ku lirik ibu yang tak jauh dari ku.


Seolah tatapanku mengatakan kapan ibu


kasih fotoku ke orang tanpa seizin ku.


“ahh, kau berlebihan melody” ucap ibu, mengabaikan tatapanku.


“mari duduk sa’da, ayuk sayang duduk,,”


(sa’da nama ibuku)


Tante melody masih merangkul ku, seolah


aku akan kabur, dia juga menarikan kursi dudukku sehingga aku tidak nyaman, seharusnya itu aku yang melakukan. Apalagi wanita yang di bilang sebagai teman ayahku, berjalannya sedikit kesulitan, seperti pernah mengalami kejadian kecelakaan di masa lampau.


Hampir satu jam, aku mendengarkan kedua


wanita yang sedang membicarakan satu pria, yaitu almarhumah ayah. Aku disini hanya sebagai panjangan yang mendengarkan cerita tentang ayah. Hingga ku pikir dua perempuan ini adalah dua istri satu pria namun menjalin hubungan harmonis.


Tidak, kenapa aku berfikiran tante melody juga istri ayah.


tidak...


Hanya ibu satu-satunya wanita yang ayah cintai, aku tak mau punya ibu lain, meski baik. Tapi perlakuan tante melody, terhadapku membuat aku merasakan memiliki dua ibu, tatapannya padaku, seperti ia menatap putrinya sendiri.


Mungkinkah aku anak ayah ku


dengannya,,,,


Sebuah pertanyaan terselip di pikiranku, dan aku langsung menepisnya. Meski aku tak mirip ibuku, aku juga tidak mirip tante melody, kenapa aku kepikiran itu.


“fatin ayo makan makananmu” ucap tante


melody.


Tangannya mengusap-usap punggung tanganku sedari tadi hingga aku tidak bisa berkutik.


“iya, tan” kataku, sambil mengambil cake coklat.


Hal yang ku tunggu datang, aku dan ibu berpamitan untuk pulang. Sedangkan tante melody sudah di jemput putranya.


“kapan-kapan main ke rumahku ya”


Ucap tante melody, dengan kedua tangan menggengam jari ku, aku segera mencium punggung tangannya.


“kami duluan ya mel” ucap ibu.


Aku pun segera melangkahkan kakiku, mengikuti ibu, namun ku urung kan setelah tante melody memegang tangan ku


“fathin….” Panggilnya,


Membuat aku terdiam menunggu, kalimat


selanjutnya…


Mata teduh penuh kasih sayang itu menatap ku dalam...


Bersambung...


jangan lupa vote like dan komentar😘