
tidur tadi malam sungguh nyenyak, aku segera menghadap cermin memastikan bahwa kelopak mataku sedang baik-baik saja.
dan hamdallah mampu ku ucapkan dalam bibirku, ku senyum kan bibirku berharap hari ini semuanya lancar. tadi ada yang berbeda dari diriku.
"kemana jilbabku?"
tanyaku memandang ke arah ranjang, namun tidak kutemukan. benda itu malah berada di atas meja belajar kak nidhom. semalam aku tidar tidur sambil berjalankan? sudahlah lupakan, aku segera masuk kedalam kamar mandi mengambil wudhu sebelum waktu sholat subuh habis.
"selamat pagi"
sapa ku pada seluruh anggota keluarga. namun ada yang berbeda, siapa gadis yang memakai seragam putih abu-abu di samping akhza.
gadis itu menatapku penuh tidak suka.
"oh ini ya istri kak nidhom" ucapnya penuh merendahkan.
aku hanya senyum menanggapi perkataan gadis yang menatapku penuh sinis itu, coba salah aku di mana? kami tidak pernah bertemu bukan.
aku segera duduk di samping adiba karena hanya kursi itu yang tersisa. sedangkan gadis itu duduk di antara adik kakak.
"fathin bagaimana rasanya tinggal di apartemen?" tanya nenek yang berada di samping adiba, lebih tepatnya adiba sebagai pemisah kami.
sepi hening, kayak rumah kosong nek
"lumayan nek, tapi berasa sendiri saja" jawabku
"benar juga pasti kamu kesepian"
aku hanya tersenyum simpul.
"makasih" kataku ketika adiba meletakkan air putih setelah sia ambil dari teko. dan tingkahnya tak luput dari sorotan gadis berseragam SMA itu.
"nek, gak yanya bagaimana sekolah baruku?" tanya gadis itu. yang membuat nenek dan kakek ketawa.
"oh kau ini rara, sudah pasti nenek tahu bagaiman sekolah barumu"
ya siapa yang tidak tahu sekolah ****, bahkan kakek pemilik yayasan. aku tidak tahu apa motif gadis itu bertanya. dan sepertinya gadis bernama rara itu adalah siswa baru di yayasan kakek.
"oh, fathin kenal kan dia rara, tetangga depan rumah kita, rara ini kak fathin isti kak nidhom"
ucap nenek memperkenalkan kami. aku hanya tersenyum simpul saja, sedangkan gadis itu acuh tak acuh dari sikapnya sudah tahu bahwa dia tidak menyukaiku.
"salam kenal rara" kataku yang hanya di jawab dengan senyuman sinis.
usai makan, aku segera keluar setelah pamitan dengan kakek nenek dan seluruh penghuni meja makan. aku menatap ponselku yang menunggu notifikasi dari salah satu aplikasi ojol.
"hay kak" suara seorang gadis membuat aku menoleh kearahnya. gadis itu menatapku dari atas ke bawah.
"ya ada apa?"
"kenapa kamu mau nikah sama kak nidhom?"
"asal kakak tahu ya, kakak itu kak selevel sama kak nidhom, dari ujung mana pun dilihat kakak gak pantas buat kakakku"
jujur perkataan gadis yang masih menginjak bangku SMA itu bikin hati memanas, tapi aku mampu menangani emosiku dengan senyum simpul.
"mungkin benar di mata manusia kami tidak cocok, tapi takdir allah lebih tahu mana yang terbaik untuk kami" ucapku santai, yang membuat gadis itu malah melengos dan masuk kedalam mobil akhza. ya tentu aku tahu jika gadis itu merengek minta di antarkan akhza ke sekolahannya di hari pertama.
"mau sekalian bareng" ucap akhza dari dalam rumah.
"enggak, aku naik ojol aja, sudah pesan ni kasian kalau di cancel " kataku yang di angguki akhza.
ya aku tahu diri gadis jelas sangat gak suka jika aku ikutan meski arah sekolah dan kampus satu arah.
belum akhza menghilang adiba muncul dari belakang dan bikin jantungan.
"astaghfirullah" ucapku reflek yang membuat pemuda dengan wajah bersih itu tersenyum.
"mau bareng gak? gue ada kuliah jam pertama"
"enggak makasih, terlanjur pesan ojol"
"lo cancel aja, hitung- hitung hemat biaya"
"hahaha, anak kos apa aku"
"ya udah dech gue cancel lagian lama gak datang-datang"
segera aku cancel dan mengetik pesan permohonan maaf. setelah itu aku melangkahkan mengikuti adiba. namun sudah membuka pintu mobil gerakan ku terhenti.
"kau berangkat bareng aku, ada yang ingin ku bicarakan" suara itu yang berbicara sambil menyalakan mobil miliknya.
"lain kali aja aku nebeng ya, makasih atas tawaran nya" kataku pada adiba sebelum menutup pintu dan reflek melambaikan tangan.
aku segera masuk mobil kak nidhom, untuk menghindari kecanggungan kami aku memilih duduk di belakang.
"depan masih kosong" katanya seperti sebuah kode untuk ku pindah, dalam hati menghela nafas meski tak sampai keluar, jika kau tanya kesal tentu jawabannya iya.
setelah duduk di depan barulah mobil berjalan. ini sudah lima menit tapi dia belum mengeluarkan suara, tadi bilang ada yang ingin dikatakan namun sekarang malah diam.
"kak, tadi..."
"nanti, kita bicara di apartemen"
aku tercengang, ingin merutuki suamiku tapi takut dosa...
ya allah jika kau izinkan, aku ingin melampiaskan kata-kata indah ini untuk suami ku....
bersambung....