
..."pernahkah engkau tertarik, dengan apa yang di genggam orang lain"...
🌹🌹
sepuluh menit telah berlalu, dan aku masih asyik dengan duniaku, tak peduli kondisi perpus yang mulai ramai di padati oleh siswa, aku masih setia duduk di bangku pojok dekat jendela yang menyuguhkan bangunan megah campus ternama di ibu kota.
"boleh ikut duduk" suara ngebas tapi sedikit tak asing di telingaku. dasar... ternya irtifa yang bersuara.
"bagaimana sudah sama kayak suara kak azzam belum?" tanyanya di susul tawa kecil irtifa.
"gak ada mirip-mirip nya, yang ada aneh jadinya..." komenku dengan pandangan lurus pada buku.
"lain kali akan ku tunjukkan.."kukehnya, sedangkan aku hanya mengangkat bahu tak peduli.
jam istirahat telah habis, sebelum bel berbunyi tanda masuk, aku segera mengembalikan buku di rak, dan menyisakan satu buku yang masih di tanganku. novel yang diberikan adiba padaku.
"kau tau anak ipa yang jadi ketua kelompok kita?"
"siapa?" tanya irtifa.
"adiba itu lo" jawabku.
"oh dia.." jawab irtifa tak semangat, yang membuat tanda kutip di otakku.
"kayak ada sesuatau..nihh?" pancingku, irtifa hanya menanggapiku dengan senyum yang membuat aku semakin curiga.
"hanya sebatas teman di bangku smp" jawab irtifa, tapi dengan sorotan mengingat masa lalu, andai aku tahu gambaran di pikiran irtifa yang tak kasat mata itu.
"kamu naksir?" tanya balik irtifa dengan penuh selidik.
"enggak,,cuma tadi habis ketemu, kayaknya orangnya supel" jawabku seadanya, emang gitu, gak ada sesuatu, emang apa baru kenal ada sesuatu.
"naksir gak papa lah fa, lagian adiba orang asyik kok?" tawar irtifa, tapi ada suatu ekspresi yang sulit ku mengerti, tapi hatiku berkata bahwa mereka pernah ada sesuatu, aku menanyakan pada irtifa bukan karena aku suka, tapi hanya sekedar ingin tahu apakah ia juga mengenalnya.
"buat apa suka, kalau bukan takdirnya nanti" jawabku sambil berjalan mendahului irtifa, sedangkan temanku itu segera mengejar langkahku.
🌹🌹
Unik, antik, setia coba, dimana carinya kalau gak di pasar kloaka. masih setia dengan sepeda ontel yang sama sebagai teman perjalananku, yang ku kayuh memasuki halaman rumah ku.
"assalamualaikum" salam ku, tak ada sambutan. ku langkah kan kaki ku ke arah pintu, namun aku hampir terjungkal ketika ada seseorang menarik tanganku dari luar.
ya allah ku pikir penjahat, ternyata si adik tampanku tapi menjengkelkan yang muncul dari alam ghaib mana, hingga tiba-tiba menarik ku kearah pohon mangga di dekat pagar.
"mbak cepat dech," katanya masih dengan tangannya memegang lenganku.
"jawab salam dulu ta tan"
"ihh nanti dulu,,,"
"jawab gak..." kekeh ku
"ihh syutttt" bisiknya sembari meletakakan telunjuk di bibirnya.
"Fathan!" ancam ku dengan mata melotot,
"ih iya-iya mbak,,,Waalaikumsalam, udahkan" ucapnya dengan nada jengkel, tapi matanya tertuju ke arah rumah mbak monika.
"mbak perhatikan halaman rumah mbak monika penuh sama motor" katanya yang membuat aku mengernyitkan kening seperti orang bodoh.
"aku baru tau kalau mbak monika anak geng motor"
" lah terus emangnya kenapa?" tanyaku.
"perlu kita lapor gak ke pak RT" tanya Fathan meminta pendapatku, ku dorong kepala Fathan yang hampir membentur batang pohon mangga.
" emang dari dulu Fathan,,, kamu ihh baru tau,, Gak penting kali kita sembunyi-sembunyi kayak maling, hanya karena ngurusi tetangga"
"tapi mbak aku kepo, nanti kalau mereka maksiat di lingkungan kita, kan kita juga yang kena azab.."jawabnya.
"udah ah, aku masuk" jawabku meninggalkan Fathan yang masih berdiri di bawah pohon mangga, kukira tadi apaan,
"ya allah adik ku, ..."kataku setelah sampai dalam sambil memukul jidat dan putar kembali keluar.
" aduhhh mbak....."
Hampir tengah malam para teman tetanggaku pulang, dan suara ramai-ramai rumah seberang jalan mengganggu konsentrasi belajar, berapa kali aku menyibak tirai untuk melihat rumah di seberang jalan itu. pantesan kemarin-kemarin para emak-emak pernah negur mbak monika. tapi nyatanya juga di ulang, sebenarnya itu hak mereka, tapi setidaknya hargai sekeliling jika bertamu di rumah orang dengan tidak berisik, atau tertawa-tawa keras sehingga menggangu orang yang tinggal di sekitar.
suara kegaduhan motor seolah menggema di jalan gang se RT, karena aku belum tidur, yang lebih tepatnya tidak bisa tidur melihat teman-teman mbak monika pulang, ada yang menggunakan motor yang di modifikasi sehingga menimbulkan suara yang sungguh berisik dan sebagian kecil menggunakan mobil. sungguh mereka orang-orang kaya, tapi memang tetangga seberang jalan itu kaya.
🌹🌹
Gerimis mengguyur pagi, dari subuh hujan sampai sekarang masih menyisakan gerimis lama. rasanya malas berangkat, tapi gak ingin di absenku tertera huruf A merah. akhirnya ku langkahkan kakiku ke halaman setelah mendapatkan pesan dari irtifa bahwa dia akan menjemput ku. para emak-emak menggerombol. membeli sayur tak jauh dari jalan rumahku. samar-samar aku mendengar mereka berbincang-bincang mengenai topik peristiwa tadi malang, dengan sentuhan sedikit drama.
sebuah mobil toyota putih berhenti di depanku. spontan para emak-emak yang asyik bergosip berhenti seketika, berpaling ke arahku sekilas, dan melanjutkan aktivitasnya kembali. aku langsung masuk ke dalam ketika irtifa memintaku. ku pikir tadi yang mengemudi ayah atau supirnya, tapi ternyata kakaknya irtifa.
"sudah.." tanya kak azzam yang duduk di kursi kemudi. aku hanya diam karena irtifa sudah menjawabnya.
"kamu sudah lama fa, kerja di kios bunga?" tanya kak azam membuka percakapan.
"oh, itu sebenarnya aku hanya sekedar membatu pekerjaan ibu" jawabku apa adanya, irtifa yang berada di sampingku sudah memasang ekspresi senyam -senyum dengan menggerak-gerakkan alisnya.
"tumben avang tanya, biasanya kalau ada teman cewek irtifa kerumah di cuekin, naksir ya sama teman gue yang satu ini ya bang..." ucap irtifa, sambil tubuhnya condong ke depan melihat kakaknya yang fokus mengemudi.
"kamu gak boleh bilang gitu dek,, aku cuma tanya doang,,,gak ada maksud lain"
"gak ada maksud, apa ada maksud, ggp loe kak, mumpung fathin lagi jomblo,, iya kan fa"
ku pandang irtifa yang mulai bicara nglantur, ni anak buat suasana gak nyaman aja.
"apa sichh,, gue masih anak sekolah" jawabku sekenanya.
"aku berharap begitu,,,kalian cocok kok, aku juga suka kalau punya kakak ipar kayak kamu fa,," ucapnya sekali lagi bikin rasanya inginku supel mulut irtifa, lebih baik aku diam dan tidak menanggapi ucapnya sebelum mengeluarkan kata-kata yang bikin canggung saja, sedangkan kak azzam juga diam saja.
tak lama mobil berhenti dan keluar, tak lupa ku ucapkan terimakasih pada kak azzam sebelum melangkah memasuki gerbang bersama irtifa.
"benar loe gak suka abang gue fa? ya setidaknya kriteria mu gitu?" tanya irtifa mengiringi langkah kami di koridor sekolah. aku hanya tersenyum menanggapinya dan melanjutkan langkahku ke dalam kelas.
"bener loe gak suka abang gue fa?' tanya irtifa sekali lagi, dia itu bersikukuh sekali menjodohkan aku dan kakaknya. wildan yang kepalanya di tidurkan di atas bangku langsung duduk, dan memandang kami.
"eh low mau jodohkan calon bini gue irrr ke abang loe yang biasa itu, enak aja" timpal wildan
"siapa-siapa yang jadi jodoh kakaknya irtifa" sahut aggy yang baru datang.
"itu si fathin calon bini gue,,,"
"gak boleh,,,gak boleh..." tolak aggy, yang membuat wildan dan irtifa menatap curiga ke arah aggy.
"kenapa?" tanya aggy yang di tatap aneh membuat ia merinding, jangan bilang mereka berfikir bahwa dia menyukai fathin.
"maksud ku gue udah ada kandidat buat jodohin dia" ucap aggy meluruskan
"pilihan loe itu gak sesuai , gy, yang ada nanti loe jodohin teman gue sama preman pasar" timpal irtifa menolak ucapan aggy
"kemana-mana fatin itu cocoknya sama gue,,," sambung wildan.
aku hanya menghela nafas, ia kira aku gak laku apa sampai di jodoh-jodohin segala, dan wildan dengan pedenya.
"udah-udah, pagi masih hujan, dan aku masih pengen sekolah, di pikiran kalian kayak aku itu prawan tua aja" lerai ku.
"pliss, abang gue" bisik irtifa, yang ku tanggapi dengan melirik sinis temanku yang paling manja.
"eh nanti gue traktir ke kantin " ucap aggy mengalihkan pembicaraan
"jangan bilang loe mau nyoggok gue"
"gue gak mau di sogok"
timbal wildan dan irtifa saling bersamaan.
Bersambung....
Jangan lupa like, komen dan vote...
❤❤