
đčđč
pandangan ku kini menatap sebuah ponsel yang terjatuh di lantai, dan sang pemilik segera mengambilnya.
âada apa diba?â
tanya tante melody, pada pemilik ponsel.
âgak apa-apa mbakâ
jawabnya, namun mata kami saling berpandangan, aku juga sedikit terkejut dengan kehadiran adiba di antara kami. sedangkan adiba sendiri juga terlihat terkejut melihatku.
âkau baru lihat wajah keponakan baru mu ya, aku rasa kalian sudah saling kenal bukanâ
perkataan tante melody hanya dijawab dengan keheningan kami. sebenarnya di antara kami tidak ada permasalahan, hanya saja kejadian di raja ampat itu membuatku dan adiba canggung.
seandainya adiba tak bersikap begini, mungkin aku akan biasa saja. tapi kini lihat dari tatapannya, ada sebuah kekecewaan. ku harap dia tidak berharap lebih pada ku.
âkalian kok diamâ
âoh iya tan, maksud ku mama kami saling kenalâ jawabku yang sedikit grogi.
âgitu donk, jangan diamâ
acara makan belum dimulai, sedangkan aku sedari tadi tidak nyaman. berhadapan dengan adiba yang pernah menyatakan cinta dan berdampingan, meski terhalang fathan dengan orang yang pernah singgah, lebih tepatnya masih singgah di hatiku. dan, pria yang kehadirannya baru saja datang adalah pasanganku.
takdirâŠ, begitulah, seperti teka-teki yang sulit di teba,..
âkak, kau makan yang banyakâ
fathan yang sedari tadi diam, mulai bersuara, dengan perhatian adikku mengambil kan ku lauk.
âmakan yang banyak sayankâ
ucap mama mertua yang hanya ku senyumin dan anggukin. ku lirik fathanâŠ
âkau ingin, membuatku obesitas ya thanâ bisik ku pada adikku, pasalnya lauk di makanan ku sudah menumpuk.
âsekali-kali kak makan enakâ bisik fathan.
yang membuat aku mendadak tersedak. tapi bukan tersedak oleh perkataan adikku, melainkan dari ibu mertuaku.
âkapan kalian Honeymoon?â ucap mama mertua dengan wajah berseri.
aku yang tersedak, mendadak dihadapi tiga gelas air putih dari ketiga penjuru. dari adikku, dan dari adiba yang ada di depanku, dan terakhir dari kak nidhom.
âmbak kalau makan pelan-pelan dechâ ucap Fathan sambil membantuku minum.
âmaafâ ucapku menahan malu.
ya bagaimana gak malu, kes sedak nya pas ketepatan mama mertua bilang honeymoon, sedangkan di pikiranku tidak sampai kesitu.
âlain kali aja ma, aku masih sibuk akhir-akhir iniâ jawab kak nidhom membuat aku lega, setidaknya aku gak perlu honeymoon dan apalah sejenisnya.
âyaudah, tapi jangan lupa kunjungi mamaâ ucap mama mertua yang dilanjutkan dengan berbincang-bincang dengan ibu ku.
đčđč
hal yang paling menyedihkan, ketika keluarga yang telah menemani dan menjaga kita dari kecil, sampai  dewasa, harus melepaskan mu dengan kehidupan barunya. di sinilah aku merasakan pilu, aku ingin tetap tinggal bersama mereka tapi tak mungkin lagi, karena sejak aku sudah terikat dalam ijab kabul, sejak itulah diriku bukanlah milikku sendiri.
â semoga kamu bahagia sayankâŠ,,em,, udah itu ajaâ ucap ibu ketika akan masuk ke dalam taksi yang akan mengantar pulang.
ibu ingin banyak membicarakan sesuatu, namun aku menangkap kesedihannya sehingga mengurungkan niat awal.
âsabar ya sayangâ ucap mama melody menenangkan ku.
namun tak lama mama pamit untuk bersiap, karena beliau juga akan langsung ke prancis di mana tempat tinggalnya.
kini aku duduk di dalam mobil yang di kemudi oleh kak akhza, karena kak nidhom harus mengantarkan mama ke bandara.
âaku baru tahu jika yang dijodohkan kakakku adalah kamuâ
ucap kak akhza membuka pembicaraan di tengah di fokus menyetir.
âaku juga baru tau ituâ jawabku pelan.
âselamat ya, semoga kedepannya kamu bisa menghadapi sikap kakakkuâ ucap kak akhza membuat keningku mengerut.
âmemang kenapa?â
tanya ku yang mulai penasaran.
ânanti kamu tahu sendiriâ jawaban kak akhza yang sekarang jadi adik ipar ku ini membuat aku semakin penasaran.
rasa penasaran dan pertanyaan yang bermunculan membahas suami baru ku itu. membuat aku tak sadar bahwa mobil sudah terparkir rapi di garasi.
âkamu gak turunâ ucap kak akhza yang sibuk melepaskan sabuk pengaman, sedangkan aku yang baru tersadar segera melakukan kegiatan yang sama. kak akhza masuk dalam rumah aku pun juga membuntutinya.
di depan pintu kami sudah disambut satu asisten rumah tangga. ketika melihat pembantu yang sepertinya sudah siap mengambil bawaan ku, di situlah aku tersadar bahwa aku hanya membawa tubuh dan pakaian yang kupakai saat ini.
âkak akhza, koperku tertinggalâ ucapku padanya.
sedangkan orang yang ku ajak bicara santai, tentu dia santai karena itu bukan barangnya, lalu bagaimana dengan nasib koper dan ponselku yang masih di dalam kamar hotel.
âkamu tenang dulu, aku akan hubungi kak nidhom untuk mengambilnyaâ ucap kak akhza sambil melihat layar ponselnya, namun belum berapa langkah berjalan kak akhza kembali menghampiriku.
âtolong ingat baik-baik mbak, panggil aku akhza saja, sekarang kamu telah menjadi kakakkuâ
ucap kak akhza dengan senyum simpulnya yang membuat jantungku seperti roller coaster, tentu aku hanya diam kerena senyumnya dan mengabaikan perkataan nya.
ya allah ini gak benar...
kataku mencoba membenahi hati..
âbibi tolong antar kan , mbak ku ke kamarnyaâ
pintanya pada asisten rumah tangga yang stand by di dekat kami. aku segera mengikuti bibi tersebut yang menaiki tangga.
ânon, paling ujung itu kamarnya den nidhom, silahkan beristirahatâ ucap bibi sambil menunjuk kamar nomor tiga. dengan ragu aku melangkah ke kamar tersebut dan membuka nya.
hal pertama yang kulihat adalah kamar yang bernuansa minimalis perpaduan warna putih dan abu-abu yang terkesan bersih dan rapi. tak semua pria bisa memiliki kamar se rapi ini. aku yang masih memegang gagang pintu tapi belum berani masuk menoleh kesamping. ku temukan adiba yang muncul dari arah tangga dan menuju kamar nomor satu.
jika itu kamar adiba, berarti kamar tengah adalah milik kak akhza batin ku.
aku segera masuk dan mengusir pikiranku,,,
aku sudah menikah dengan kakaknya tak pantas jika aku memikirkan adiknya...
bersambung...
silahkan kasih kritik dan saran agar penulis mendapatkan sebuah inspirasi dari saran-saran kalian....â€â€
di sini mana tim akhzaâ€nidhomâ€adiba