
hari-hari berat yang telah kulalui...
aku menatap gemerlapnya kota, yang membuat dadaku sedikit lega...
sambil memejam mata, hatiku berdo'a bahwa ini adalah pengalaman terakhir yang tak ingin terulang kembali.
"kita sampai.."
suara kak nidhom menyadarkanku, aku segera membuka mata, mentap sekeliling memastikan bahwa tempat yang medarat helikopter adalah tempat yang aman.
aku masih termenung, tanpa kusadari pintu helikopter terbuka dan tangan kak nidhom meraih tanganku.
"kita lupakan kejadian kemarin" ucapnya pelan namun masih bisa kudengat, aku hanya mengangguk sebagai tanda mengiyakan. namun mana mungkin peristiwa buruk itu mudah ku hapus, bagaimanapi itu akan menjadi minpi terburuk sepanjang hidupku.
kak nidhom membawa ku kesebuah toko, yang terpanjang beberapa pakaian di boneka manekin, yang ku yakin i adalah sebuah butik. kak nidhom menghampiri wanita tua berambut pirang yang tengah duduk, mereka melakukan pembicaraan yang tidak aku ketahui sama sekali.
" kia!" panggilan kak nidhom membuyarkan lamunanku yang tengah asyik mengamati panjangan beberapa gaun cantik.
"ha, iya" jawabku spontan, sambil memandang wanita muda yang sudah di dekat ku.
"ikut lah dengannya, aku akan menunggu di sini" ucap kak nidhom, membuat aku menatap dengan tatapan tak percaya, aku masih ketakutan, apalagi bersama kesuatu ruangan bersama orang lain.
"tidak akan terjadi apapun lagi" ucapnya, yang menangkap sorotan kekhawatiran ku.
"hemm, tapi jangan kemana-mana" jawabku sambari mengikuti wanita muda tersebut.
tak membutuhkan waktu lama, kini penampilanku sudah berubah, begitupun kak nidhom. kini kami jauh lebih baik dari sebulumnya.
setelah kami keluar dari pintu butik, sebuah mobil suf hitam berhenti di depan kami. seorang pria tengah baya keluar menghampiri kami dan membungkuk sesaat.
lagi-lagi kak nidhom melakukan percakapan yang sama sekali tak ku mengerti dan tak lama pria baruh baya memberikan kunci sebuah kunci kepada kak nidhom.
"kia!!"
"ayo kita pergi" ucap kak nidhom sambil menggandeng tanganku, dan aku hanya pasrah mengikutinya.
"kapan kita pulang?" tanyaku, setelah sekian lama diam membisu. kak nidhom menoleh sekilas sambari tersenyum sebelum mengeluarkan suaranya.
"saat ini"
"benarkah?" tanyaku tak percaya.
"bagaiman dengan barang-badang kita?"
kini kak nidhom membelai jilbabku dengan tangan kanan nya.
"ada, asisten pribadiku, kamu tak perlu memikirkan itu"
aku hanya mengangguk-angguk, meski dalam hatiku bertanya-tanya sebenarnya siapakah suamiku itu. mengapa dia begitu mudahnya melakukan hal ini dan itu.
mobil suv mewah membelah jalan raya, tak membutuhkan waktu lama kami sudah sampai di sebuah stasiun kota veronika, ya, tanpa aku sadari kami sudah kembali ke kota itu. rencana-rencana yang sempat ku rancang saat itu, kini sudah tak menjadi prioritas utama lagi. hal yang ingin kulakukan saat ini aku segera pulang dan memeluk ibu dan fathan.
"kenapa kita tidak langsung kebandara?" tanyaku.
"kita perlu menikmati sedikit kebersamaan kita di kota veronika buka." jawabnya.
aku mengernyitkan dahiku, menurutku lebih cepat pulang, akan lebih baik kita menikmati kebersamaan kita, tidak harus dengan kota ini, atau mungkin kota ini spesial karna dia pernah tinggal disini.
"baiklah"
kini tangan kak nidhom menggandeng ku dengan erat, kami berdua berjalan beriringan menuju ke gerbong kereta. tak lupa sebelum masuk tadi kami membeli sekantong cemilan sebagai teman perjalanan.
bersambung....