
Hari menjelang petang, dari balik kaca yang tembus pandang aku dapat menyaksikan satu persatu lampu di hidupkan. Sungguh indah pemandangan kota dengan pemandangan klasik indahnya bangunan Colosseum.
Usai sholat magrib aku masih termangu diam setelah mengabiskan setengah juz membaca alquran, mataku melirik pintu, namun orang yang aku harapkan belum menampakkan batangnya hidung-nya.
Tok tok tokk...
Suara ketukan yang berasal dari pintu membuat bibirku terangkat, menampakkan senyum indah. aku segera melangkah dengan cepat, berharap kak nidhom yang datang, dengan cepat ku tekan kata sandi untuk membuka kunci, namun tak lama raut wajahku yang awalnya berseri kini sedikit demi sedikit menampakkan rasa kecewa, setelah ku dapati seorang wanita petugas hotel yang membawa troli makanan.
"Le ho portato la cena, signorina.. " (saya mengantar makan malam anda nona). Ucap nya menggunakan Bahasa italia yang tidak sama sekali aku mengerti, tapi aku mengerti apa maksudnya, aku mengangguk memberikan akses jalan dan membiarkan wanita tersebut mendorong trolinya.
"Divertiti, mi dimetto" (Selamat menikmati, saya undur diri) Ucapnya dengan membungkuk sopan, sedangkan aku hanya mengangguk saja.
"Kapan kak nidhom pulang" Ucapku setelah wanita tadi keluar, sekilas ku tatap makanan yang masih tertutup tudung saji dengan helaan nafas.
Tentu bosan, seharian berdiam diri di kamar, seandainya dapat keluar, itu yang sudah akan aku lakukan sedari tadi. tapi itu tidak terjadi karena aku takut jika tersesat, bahkan aku pun tak tahu kondisi dimana saat kami masuk ke hotel ini, yang kutahu ketika terbangun dari tidur sudah berada di atas kasur empuk.
Kak nidhom tidak meninggalkanku bukan?
Pertanyaan yang terbesit di pikiranku, aku menggeleng sambil meraih ponselku, mencari namanya didalam aplikasi wa, dan dia baru saja online empat jam yang lalu.
"huhhh, Apa aku tanyakan kapan dia pulang saja ya? , tapi aku takut mengganggu nya, seharusnya aku mendengarkan apa katanya saja kemarin, pulang ke ibu kota, mungkin tak sebosan sekarang" gumam ku menyesali keputusan kemarin.
Seiring berputarnya jam, dan bergesernya waktu, aku menanti dia dengan rasa kebosanan, menatap jam dengan lamunan, menghitung detik, namun dia belum datang makan malam pun belum tersentuh, bahkan sejak aku bangun dari tidur aku belum mandi dan belum juga mengeluarkan hajat. Dengan mata sedikit terkantuk-kantuk, aku mendengarkan langkah samar-samat.
"Aaa, astaghfirullah" Ucapku kaget di sertain detak jantung yang berdetak kencang.
"Kau Menganggetkan ku mas" Ucapku reflek, tanpa ku sadari dengan apa yang sedang kukatakan.
Bukannya meminta maaf karena mengejutkan orang, kak nidhom malah tersenyum manis di depanku, sungguh dia mempesona, beruntung sekali yang pernah menjadi kekasihnya..
"Sejak kapan kamu memanggil ku mas" Ucapnya dengan tertawa aneh, seperti kata ejekan. Aku mengerutkan kening ku. Namun setelah mengingat apa yang ku ucapkan tadi baru aku tersadar.
"Maksud ku kak"
Aku mengangguk atas ucapannya.
"Kau masih berantakan, apakah sudah mandi" Ucap kak nidhom sambil mengecup singkat kepalaku, jujur jika ingin kau tahu perasaanku, aku suka atas perlakuan kecilnya itu.
"Hmm belum" Jawabku apa adanya, tapi sesungguhnya aku malu menjadi seorang gadis yang belum mandi, hmm maksudku menjadi wanita karena aku bukan anak gadis lagi. Kak nidhom menatapku heran.
"Sejak siang tadi? "
Aku mengangguk, sebelum membuka mulut dan menjelaskannya.
"Kamar mandinya tembus pandang, aku takut mandi" jawabku, yang membuat dia terkekeh,
adakah yang aneh??
tanyaku dengan memicing kan mata, namun tak lama tubuhku melambung ke udara.
"perlu kah aku memandikan mu"
"tidakkkk... "
tolak ku cepat, namun terlambat...
bersambung
##🌹🌹
Selamat menunaikan bulan puasa🥰🥰
dan saya trimakasih banyak pada readers yang telah membarikan like dan komennya😘