I'M On Your

I'M On Your
Chapter 56



Hari ini adalah uas pertamaku, meski tadi malam tak sempat belajar, tapi materi kemarin aku masih ingat, bagaiman tidak dosen mendadak mengadakan uas padahal dia bilang masih ada satu pertemuan lagi. kini aggy yang ngedumel gak jelas, aku tahu apa permasalahan, meskipun sangat jelas wajah-wajah anak seluruh ruangan sedang merutuki dosen yang tengah duduk tanpa merasa berdosa.


"ihhh, mengapa sih ada uas juga" teriak aggy, setelah dosen keluar ruangan, dia bertingkah aneh dengan meninju dan menendang udara, seolah tendangan dan tinjuan nya akan tersampaikan ke bapak dosen melalui angin.


sudah seperti lagu rindu saja...


"udahlah gy, yakin aja mata kuliahnya lulus, biar lancar di semester depan"


"ya kamu enak fa, gak belajar, memory otakmu itu seperti kaset yang mudah di putar ulang, ini kalau isi otak gue kan yang ada kaset rusak"


"bersyukur gy"


"hehehe, iya fa, aduh bu ustadzahnya bapak nidhom terhormat berceramah" celoteh aggy membuat aku tersenyum, namun tak lama segera memudar. aku menatap aggy yang masih belum sadar akan ucapannya. namun setelah dia menoleh melihat wajahku ada mimik penyesalan atas ucapnya tadi.


"apa yang kamu katakan tadi gy"


"apa sih fa, aku lupa? "


"gy"


"sudahlah fa, yuk kita pulang, mungkin kamu salah dengar" ucap aggy sambil menyampirkan jaketnya.


"aku gak salah dengar, aku yakin dengan pendengaran ku sendiri"


belaku, aggy mendengus pelan menatapku dengan diam.


"kau mengenal kak nidhom, tidak kau mengenal karena kalian satu club karate dan dia seniormu,"


"lebih tepatnya, kamu mengetahui pernikahan kami kan" lanjutku, sambil menelisik netra aggy.


"ya aku tahu" jawabnya datar.


"kenapa kamu diam jika tahu gy"


"apa penting buat aku tahu dan tidak"


aku menghela nafas atas ucapan aggy.


"iya itu penting bagiku gy, tapi aku kecewa" ucapku mengakhiri dan meninggalkan aggy, ku pikir teman seperti aggy tidak akan menyembunyikan suatu hal dariku, tapi aku salah ternyata dia tahu banyak hal dimana diriku sendiri pun tak tahu.


"fa tunggu" teriak aggy yang menyusul di koridor kampus.


"aku minta maaf fa"


"kamu tidak salah, tapi aku kecewa" ucapku di ikuti isak tangis, aku tidak pernah selemah ini, aku tak semarah ini, semenjak dia hadir dalam hidupku, entah mengapa hatiku selalu di buat kesal.


meski ku sadar, dia tak sepenuhnya salah, itu keputusanku dulu, namun mengapa aku kecewa, ayah, kia tak ingin menyalahkan ayah dalam membuat janji, tapi kia menyalahkan diri kia karena tak mampu menempati janji ayah, dalam kondisi kecewa dan marah sebuah keputusan dalam otakku untuk melepaskan diri darinya sudah menjadi bulat.


aku tak ingin hidup dengannya maupun mencintainya, apa daya ku mempertahankan jika dalam hidupku akan terus berdosa karena tidak bisa mencintai suamiku, dan suamiku tidak bisa di percaya, aku tak bisa mempercayainya...


"tolong tinggalkan aku sendirian gy" ucapku dalam wajah tertelungkup.


"tapi fa"


"tolong, jangan buat aku marah padamu" ucapku, tak lama kudengar langkah aggy yang menjauh, setelah suara itu menghilang barulah aku mendongakkan kepala, menghapus air mata yang sudah terlanjur jatuh, tak seharusnya aku mengorbankan mimpiku hanya untuk pernikahan ini, aku berharga, namun tak di hargai...


kini aku turun menggunakan tangga, mengulur waktu pulang dan menenangkan diri, sampai lantai bawah, akhza tengah berdiri di dekat mobil.


"bagaiman uasmu? " tanyanya.


"baik" ucapku sambil masuk kedalam mobil.


dalam perjalanan akhza hanya diam meski sekali aku melihat dia yang melirikku sekilas.


"pulang kerumah nenek atau apartemen? " tanyanya dengan mata fokus mengemudi.


"apartemen saja" jawabku.


tak lama mobil membelok ke apartemen, aku segera turun, namun tak lupa mengucapkan terimakasih. setelah mobil akhza menghilang barulah aku masuk kedalam apartemen.


kini aku ingat bahwa kevin tahu banyak tentang suami ku yang tak banyak ku ketahu, dia temannya dekat, tapi apa mungkin dapat di percaya. ku tatap ponselku yang tertera nomer kevin yang belum sempat ku simpan, entah berapa panggilan yang tidak terjawab darinya.


ting tung


bel berbunyi, aku segara mendekati pintu, mimpi yang seperti kenyataan dulu membuatku trauma, jadi sebelum membuka ku lihat dari layar dekat pintu siapa yang datang, ternyata kurir.


"ini kediaman mbak fathin"


"iya saya sendiri"


"ada paket untuk mbak"


"saya tidak pesan barang mas"


belum sempat aku menjawab, ponselku berdering,


"assalamu'alaikum"


diseberang sana sayup- sayup ku dengar suara kevin, ternyata paket itu dikirim darinya, setelah menerima aku segera masuk, saat ku buka ternyata sebuah undangan.


"bagaimana, sudah kamu buka"


"ya sudah" jawabku.


"untuk apa kakak mengundangku di acara keberhasilan kakak" tanyaku, aku baru tahu jika kak kevin yang kukenal selama ini adalah pengusaha muda. dan hari ini aku mendapatkan undangan di acara ulang tahun perusahaannya.


"kau ingin tahu banyak hal tentang suamimu kan?, jika kau datang nanti malam, kau akan menemukan jawabannya, selamat bertemu nanti malam" ucap kak kevin yang membuat aku semakin penasaran.


ku pandang undangan, yang acaranya akan di mulai pukul delapan malam nanti...


setelah sholat isya aku dilema, haruskah aku datang ke acara itu, atau hanya diam diri dirumah. aku sangat penasaran dengan kata kak kevin, tapi apakah aku harus bilang kak nidhom, jika aku keluar malam tanpa seizinya, berdosakah aku..., akhirnya kuputuskan untuk memberi pesan kepadanya.


me: kak malam ini aku keluar sebentar


ku tatap nomer yang dalam mode online itu, tak lama sebuah pesan jawaban masuk dalam ponselku.


kak nidhom: iya, jangan lama apa perlu kusuruh akhza menjemputmu.


me: tidak perlu, hanya sebentar.


setelah itu aku bergegas mencari baju yang layak untuk ku gunakan, ini acara perusahaan setidaknya aku tidak memalukan.


acara akan di mulai pukul delapan, namun aku masih diperjalanan, taksi yang aku tumpangi terjebak macet, seharusnya sampai gedung hanya membutuhkan waktu dua puluh menit, dan ini memakan waktu setengah jam lebih.


setelah aku turun dari taksi kini aku bingung, mataku menatap undangan yang berada di tanganku, sambil menimang, haruskah aku masuk atau pulang saja.


"eh fa" suara tak asing mengejutkanku.


"kau disini? " tanya irtifa membuat aku bingung.


"iya" jawabku sekenanya.


"oh, dapat undangan dari kak kevin juga ya, ternyata kamu juga kenal, ya udah yuk kita masuk"


akhirnya kami berdua melangkah bersama, untung tadi bertemu irtifa, jadi aku sedikit mengenalnya.


"mana undangan kamu ir" tanyaku gadis itu malah cengengesan di depan petugas, irtifa mendekatkan bibirnya di telingaku.


"sebenarnya, aku kesini karena membuntuti kak azzam, jadi tolong ya fa, aku nebeng jamu"


aku hanya mampu tersenyum simpul, masih ada orang yang membututi abangnya sendiri.


"baiklah" ucapku pelan.


setelah memberikan bukti berupa undangan kami berdua masuk.


ini pertama kali dalam hidupku menghadiri acara resmi, dari banyaknya orang aku melihat kak kevin yang sedang menyapa tamunya. sepertinya tamu-tamunya bukan orang biasa.


kini aku dan irtifa duduk di pojok ruangan, mata irtifa jelalatan kemana-mana karena sedang mencari abang tersayang, sedangkan aku mencari sosok dia yang belum kutemukan. mungkinkah kak nidhom tidak datang ataukah kak kevin sedang membohongiku.


aku mengambil minuman di yang terdapat di depan meja, namun irtifa segera merampas.


"kenapa? " tanyaku penuh tanda tanya.


"kau jangan sembarangan makan di acara seperti ini, kai tak tahu ini minuman apa? " ucap irtifa sambil menggoyang goyangkan gelas yang ku sentuh tadi. aku hanya menggeleng.


"kau pintar dalam pelajaran, tapi kau sembrono, ini anggur fathin"


"oh" jawabku enteng, kemudian aku ingat bahwa minuman itu mengandung alkohol.


"astaghfirullah, Untung kau cekatan"


"siapa, irtifa gitu low" ucap irtifa membanggakan diri, namun kegiatannya berhenti seketika, ketika matanya menemukan sosok abangnya.


"kak azzam di sana, aku harus membuntutinya, kau ikut apa di sini fa? "


"emm, disini saja" jawabku, aku malas untuk mengikuti kemana perginya irtifa.


"baiklah aku akan segera kembali, takut calon kakak iparku di bawa orang" candanya sebelum pergi. aki hanya mampu tersenyum simpul.


setelah kepergian irtifa, kini aku berdiam disini, tak berani mengambil hidangan di atas meja, aku takut salah makan saja, lagian aku tak begitu tahu tentang kak kevin. dia seorang Muslim atau non muslim.


belum lama kepergian irtifa, kini mataku menangkap kedatangan seseorang,...


bersambung....