
Bubur ayam, makanan yang saat ini terhidang sederhana di meja kecil kamar hotel di temani wajah tampan kak nidhom yang duduk membeku.
Ya...setelah menikmati senja di pantai, sejenak sholat magrib, kemudian kami berkeliling untuk mencari makanan yang dapat membungkam cacing ku yang mulai berdemo.
"Mari makan" Ucapku bersemangat dengan memegang sendok yang sedikit terangkat. Aku tersenyum senang tapi tidak untuk kak nidhom. Dia hanya memandang datar bubur lembek yang tidak menggoda sama sekali. mungkin dia tidak berselera...
"Kakak tidak suka? "
Pertanyaan macam apa yang ke luar dari mulut, sudah jelas dari tatapannya dia tidak berselera. Belum sempat dia membalas, dering ponselnya berbunyi. Kak nidhom meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh darinya, kemudian pergi. Entah mengapa kini aku merasa kecewa, dengan gerakan pelan aku mengaduk bubur ku.
Tadi dia memintaku untuk memilih makanan untuk malam ini, dan pilihan ku tertuju pada bubur ayam yang di jual di pinggir jalanan. Aku tahu dia tak pernah memakan makanan yang seperti ini.
Kini suapan demi suapan masuk kedalam mulutku, menyendok bubur tanpa semangat dengan pandangan mata ke arah balkon hotel, dimana kak nidhom tengah mengobrol dengan seseorang.
" Kalau masih kurang kamu bisa makan punyaku" Suara yang muncul mendadak membuat aku tersadar jika aku makan sambil melamun. Ku tatap mangkuk ku yang sudah kering, setelah tanpa sadar aku memakannya. Kak nodhom menyodorkan mangkuk yang berisi bubur miliknya.
"Tidak, aku sudah kenyang" Tolak Ku.
"Aku tidak suka makanan lembek, jadi makanlah saja" Ucapnya.
Entah mengapa katanya sedikit membuat hatiku sakit, sejak sore tadi kini aku merasa terlalu sensitif dengan perkataannya.
"Kapan kita pulang? " Pertanyaan spontan dari mulutku.
"Malam ini"
Dan jawaban nya kini membuat mataku membulat, baru tadi pagi kita berangkat dan malam ini pulang, padahal tahun baru pun masih kurang empat hari lagi.
"Kenapa mendadak" Tanyaku sambil menatapnya.
"Sudahlah, kamu makan dulu" Ucap kak nodhom sambil menyendok kan bubur ke depan mulut ku, aku melirik sekilas sebelum membuka mulut. Setelah menelan bulat-bulat makanan itu aku kembali bertanya.
"Kenapa kita pulang malam ini? " Kak nidhom meletakkan sendok-nya yang sudah terisi penuh makanan itu, kini tangannya mengusap lembut jilbabku.
Jelasnya membuat aku sedikit mengerti.
"Maaf, aku tak bisa mengantar mu pulang, malam ini aku akan memesankan tiket, dan meminta akhza untuk menjemputmu" Lanjutnya membuat aku terbengong kembali.
"Memang kakak mau kemana? " Tanyaku cepat.
"Malam ini aku langsung terbang ke italia kia, dan aku tidak bisa mengantarmu"
"Aku ikut" Jawabku tanpa berpikir, kini kak nidhom menatapku dengan heran.
"Tidak, kau akan tetap pulang ke ibukota"
"Tapi aku takut naik pesawat sendirian" Jelas ku, ku dengar dia mendengus.
"Kau sudah dewasa kia, dan di pesawat banyak orang, jika perlu aku akan menyewa orang untuk menemanimu" Jelasnya, aku menggeleng pelan, entah mengapa aku tak mau, selain aku mabuk aku juga sedikit takut ketinggian. lagian orang yang di sewa itu tetaplah berbeda dengan orang yang kita dekat...
"Aki ingin ikut kak" Pintaku, layaknya bocah yang di tinggal papanya, perasaanku mengatakan aku ingin kemana dia pergi di situlah aku berada.
"Aku banyak urusan, dan aku mana sempat mengurusi mu" Ucapnya dengan sedikit penekanan, diriku yang sedang sensitif kini mulai kembang kempis, air mataku mulai membendung di kelopak mata.
"Baik, aku akan pulang sendiri" Ucapku pelan menahan sesuatu yang menyesakkan sebelum aku mengis di depannya, segera aku bangkit dari duduk ku. Di susul suara ponselnya yang kembali berdering.
Dalam kamar mandi aku menangis sesegukan, tak seharusnya aku se cengeng ini. mana fathin yang dulu yang tak pernah menangis. Ku ambil air pada keran, dan membasuh wajahku, sekaligus aku mengambil air wudhu, berharap perasaanku sedikit membaik. Benar apa yang dikatakannya, aku sudah dewasa tak seharusnya aku penakut.
Usai keluar kamar mandi aku sedikit melirik balkon, di sana kak nidhom masih berdiri dengan ponsel di dekat telinga, memang sepertinya dia memiliki urusan penting dan mendadak. Dari pada memandangnya uang membuat dadaku nyeri, ku putuskan ambil mukena dan sholat isya'.
bersambung....
jangan lupa like komen dan vote🥰🥰🥰