
Sejauh ini aku masih merenungi nasibku, aku merasa bahwa diriku sangat malang. Ingin curhatan, tapi pada siapa? Aku tak tahu, siapa yang mampu menenangkan hatiku yang gundah. Ku lirik jam dinding berkali-kali. Berharap waktu berhenti seketika.
Mungkin jam dinding bisa ku hentikan...
Tapi tidak dengan matahari yang semakin membenamkan diri, di belahan bumi barat.
Itu mustahil...
"Fathin, kamu sudah ganti baju sayang"
Suara ibu di balik pintu disertai ketukan dari jarinya. Aku menghela nafas kasar sebelum melangkah kearah pintu.
"Kau belum ganti baju? "
Tanya ibu setelah melihat penampilanku yang masih sama seperti tadi. Tanpa menjawab aku langsung menghambur ke pelukan ibuku. Kegundahan yang kurasakan seketika pecah menjadi tangisan, tangan ibu membelaiku.
Berusaha untuk menenangkan ku. Tapi rasanya tetap sama, aku gelisah, takut dan bingung. Sebenarnya ibu tak memaksa ku, tapi mengambil keputusan sendiri itu bukan suatu yang mudah...
Bagaiman mengungkapkan ucapan menolak tanpa menyakiti, jika menolak bagaimana dengan janji itu. Aku menyayangi ayah. Tapi tak meminta wasiat terakhir nya yang seperti ini...
"Tenanglah fatin"
Aku masih dalam kondisi sesegukan, memeluk ibu hingga erat.
"Aku takut"
Inilah di pikiranku merasa takut, bagaiman seorang gadis yang belum ingin di lamar apalagi menikah. aku tak mau, jika bisa memilih aku ingin pergi ketika tamu itu datang, dan pulang ketika mereka sudah pergi dari rumahku, tapi itu bukan suatu pilihan yang tepat, karena aku tak ingin membuat ibu malu.
Seharusnya aku bisa bersikap lebih dewasa dan bijak. Ibu melepas pelukanku, dan mataku menatap adik ku yang berdiri depan pintu dengan tatapan bingung. Aku yakin dia belum tahu apa-apa soal ini. Kecuali nanti tepat rombongan keluarga tante melody datang.
"Cepat, kau ganti pakaianmu, apa pun nanti keputusanmu ibu akan selalu mendukungmu, jangan sedih nak, kau membuat ibu menangis, putri kecilku sudah tumbuh menjadi gadis. Aku yakin kau mampu berfikir bijak" Ucap ibu sambil membelai kepalaku.
Aku hanya mengangguk. Mengambil gamis yang tergantung di dekat pintu. Setelah usai sedikit berdandan. Aku duduk di tepi ranjang. Mata ku menatap layar ponsel yang menampilkan hasil screenshot dari irtifa.
Aku tau ini berat, tapi aku akan tetap perjuangkan. Orang lain mampu memilih semuanya, aku pun pasti mampu, mewujudkan mimpimu...
Bismillah..
Saat aku membuka pintu kamar, tepat tamu ibu datang. Aku yang tak tau mau ngapain memilih berjalan ke arah dapur.
"Mbak, ini mau ada acara apaan sih"
Suara fathan membuatku terkejut. Apalagi dia berdiri di dekat jalan masuk ke dapur.
"Bisakah jangan buat Mbak ku ini jantungan dan cepat tua" kataku sedikit kesal. Tanpa menjawab pertanyaan fathan aku meninggalkannya. Namun adikku masih membuntuti layaknya seekor anak itik pada induknya.
"Fathin, kenapa kamu tak ke depan"
"Bu Fathin di sini saja ya.. " Kataku pelan takut kedengaran dari luar, pasalnya dapur dan ruang tamu dekat, di batasi ruang kecil untuk tempat santai.
"Kenapa? Itu gak sopan namanya kamu"
Perkataan ibu membuat aku menghela nafas.
"Kau bawa minuman untuk menutupi rasa malu mu itu" Ucap ibu lagi.
Fathan yang mendengar sebenarnya kepo, tapi dia memilih diam, dari sorot wajahnya yang menatapku ada banyak pertanyaan yang ingin terlontar. Tapi ibu mendadak memerintahkan fathan untuk membawa kue kering ke ruang tamu. Dan aku menyusul di belakang fathan.
๐๐
setelah meletakkan minuman aku duduk di dekat tante melody, ibu masuk ke dapur lagi. kepalaku masih tertunduk, seolah beban berat menimpa leherku.
ku lirik adikku yang ikut menghilang, namun tak lama muncul bersama ibu. kini para orang tua sedang berbincang, aku yang tak tau apa-apa hanya diam.
"jangan diam sayank, ayo makan" ucap tante melody. aku sedikit mendongak. dari tadi aku tidak memperhatikan tamu ibuku. namun kini mataku menatap sekeliling yang hanya terdapat dua wanita baya dan satu pria baya juga.
tante melody yang menatapku, membaca raut wajahku kini bersuara.
"maaf, ini anak-anak tidak bisa ikut, tapi tidak mengurangi kesungguhan niat kami mengkhitbah mu nak" ucap tante melody mengusap ku, aku hanya menjawab dengan senyum kamu.
acara sudah di mulai, hati ku sedikit tenang karena pria yang melamarnya tidak hadir, biasanya jika di lamar orang sang pemalamar tidak hadir, bagaiman perasaan kalian? sedih apa bahagia
aku bahagia, karena tidak perlu menahan rasa malu, meski tak ada rasa bukan berarti aku tak punya malu.
pria baya yang tak lain adalah ayah tante melody mulai menyampaikan niat baik keluarganya untuk melamar ku. dan kini ibu yang menjawab.
kini segalanya yang menentukan adalah aku, setelah jawaban ibu menggantung, aku menatapku dan aku menatapnya.
bismilah dengan izin Allah, ku berharap apa yang di ucapkan dari mulutmu adalah jalan terbaik yang ku pilih.
"aku...., sebenarnya aku masih ingin melanjutkan kuliah, aku ingin mengapai mimpiku, selain itu fathin belum ada menginginkan nikah, tapi karena ini janji ayah pada tante melody, fathin bisa menerima ini asalkan fathin di izinkan untuk lanjut kuliah.. " ucapku dengan pasti, dan entah kemana rasa keraguanku yang tiba-tiba lenyap seketika.
tante melody merangkul ku dengan bahagia, mencium keningku layak putrinya yang dia rindukan. kini wanita baya itu menatapku dengan mata berkaca-kaca. bibir nya mengucapkan rasa terimakasih berkali-kali.
"aku yakin putraku, menerima permintaanmu itu, itu suatu yang tidak sulit. aku bahagia"
ucapnya sambil memeluk ku lagi. dengan ragu aku membalas pelukan tante melody.
inikah namanya membuat orang lain bahagia, meski kebahagiaan ini bukan harapanku...
bersambung...
jangan lupa like vote dan komenโคโค