
masih pagi suasana sudah membeku, mungkin kerena sinar matahari belum sempurna menyinari bumi. aku merapikan tempat tidur, dan dia seperti kegiatan biasanya. menghadap leptop tanpa terusik dengan keberadaan ku.
"kak, kemarin kenapa meminta ku kesini?"
"ingin" satu kata mewakili jawabannya.
"oh"
aku pun tak mau kalah, sebelum aku ikut membeku di dalam kamar lebih baik ke dapur dan membantu mbok lastri masak.
waktu yang tepat, ketika aku keluar, kedua pria itu juga keluar. apakah mereka membuat perhitungan sekian detik untuk melangkah kaki dari pintu.
"selamat pagi"
sapaku lalu berlalu sebelum mendengar kan jawaban mereka.
"sudah bangun sayank"
sapa nenek ketika melihat ku menuruni tangga yang di ikuti dua pemuda tampan.
anak gadis sendiri di sini selalu jadi prioritas, apalagi aku cucu mantu pertama dari cucu pertama.
"sudah nek"
"bagaimana ceritanya tadi malam ada tikus di kamarmu"
ucap nenek sambil senyum dan aku hanya bengong. perasaan tadi malam tidak ada seekor tikus.
"emmm, maksudnya nek"
"kata nidhom ada tikus yang masuk dalam selimut kalian"
"oh, itu"
jawabku mengangguk kayak orang bodoh, ternyata tikus karangan suamiku. tapi apa jadinya jika mereka tahu alasanku menjerit. mungkin jadi tanda tanya bukan? bahwa saat ini aku adalah seorang gadis meski berstatus bersuami.
***
hari ini tidak ada kuliah, tapi aku sudah janjian keluar dengan aggy dan irtifa. setelah mendapatkan izin aku langsung di antar akhza atas perintah kakaknya. aneh bukan kenapa tidak dia?.
"akhza, kau turun kan aku di sini saja" pintaku.
akhza langsung menepikan mobilnya.
"makasih" ucapku lalu segera turun.
tempat untuk menjadi pertemuan kami tidak jauh, jadi sedikit aku berjalan ke cafe itu.
"hay, sudah lama kalian?" tanyaku pada aggy dan irtifa yang ternyata sudah duduk manis.
"baru saja"
jawab mereka serentak. seperti janji irtifa tadi pagi kami akan bersenang-senang untuk merehatkan pikiran dari tugas tugas dan tugas....
"lo udah makan fa?" tanya aggy.
tumben anak ini perhatian, biasanya cuek, eh tapi kalau sama aku beda ya.
"udahlah,"
"ibu masak apa?" tanya irtifa yang membuat ku terdiam. aku baru ingat aku belum menghubungi ibu sejak kemarin.
"ya masak yang bisa di makan" jawab ku yang malah mendapat bogeman dari tangan irtifa.
"aku ingin bermain kerumah mu fa"
"boleh, sekarang juga boleh" jawabku enteng.
"adek lo di rumah gak?"
"lo suka brondong ya ir?" tanya aggy membuka suara.
"kenapa gak, adik fathin la tampan"
hahahaha tawa kami bersama.
"nanti siang kita kerumah mu ya?"
"baiklah" ucapku.
aku yakin kak nidhom mengizinkan ku. tapi sebelum itu aku mengirim pesan untuknya.
me : aku izin kerumah ibu hari ini.
makhluk yang sedang online itu tidak segera membalas pesanku, tapi tak apa? aku yakin dia mengerti.
sekian lama kami nongkrong, tak terasa hari semakin siang. kami yang sibuk membahas tugas dan dosen galak di prodi kami Masing-masing.
ting...
sebuah notifikasi masuk ke ponselku.
akhza : aku antar.
aku mengerutkan kening. ya aku lupa itu pesan dari kak nidhom meski nama masih akhza.
me : jangan, aku bersama teman ku.
akhza : oh ya sudah.
aku kembali mengerutkan keningku, jawaban macam apa yang hanya menggantung dan membuatku tak mengerti.
me: maksudnya kakak mau antar aku apa gimana?
akhza : gak jadi
me : oh
setela membalas barulah aku mengganti namanya,
'mysterious husband' gak masalah begitu bukan jika aku memberikan nama itu ini sesuai kenyataan yang ada.
"kita ngapain kerumah fathin?" tanya aggy.
"ya ngapaelin adeknya lah..."
"males gue, gak selera brondong"
"ngomong gak selera, buktinya mana doi lo"
"buat apa doi, gak penting banget"
"haduhhh gy, tangan keras" lanjut irtifa, ya wajah aggy kan ahli olah raga, ahli bela diri juga jadinya daging aggy lebih keras dari daging gadis lainya.
"fa.."
"ya..."
"bang azzam udah lulus s2, dia mau magang jadi dosen di kampus kita" celoteh aggy di belakang kemudi. ya gadis ini sekarang sudah di izinkan naik mobil sendiri.
"la terus apa hubungannya?" sahut aggy
"ya gue nawarin fathin, mau daftar jadi calon gak mana tahu ketrima"
"udah gak usah nawarin, kayak kakak lo gak laku aja"
"ihhh aggy nyebelin dech kamu, sana keluar aja bikin bete"
aku hanya menghela nafas melihat percecokan mereka, andai irtifa tahu kalau aku udah nikah...
tak lama kami sampai rumah, aku sudah ngabarin ibu jika aku mau main ke rumah, tepat pas mobil parkir di halaman rumah di situlah adek ku baru pulang sekolah, ya adik ku sayang sudah di bangt SMA.
"tukan adik fathin sayank, udah tambah tampan, kayaknya pantes dech kalau gue pacarnya"
"halu lo" sahut aggy yang di balas tatapan sewot irtifa.
"hay dik" sapa irtifa sok cute, ketika turun dari mobil. fathan hanya mengangguk, kan tahu dia pemalu kalau sama perempuan, beda kalau sama mbaknya yang berubah jadi makhluk menjengkel kan.
ibu menyambut kami dengan senang, belum masuk pintu hidungku sudah mencium aroma masakan.
"ibu masak nasi goreng?" tanyaku.
"belum salim udah tanya makanan" jawab ibu, aku hanya cengengesan gak jelas sambil meraih tangan ibu di ikuti mereka berdua. dan adik ku sudah menghilang dikamar.
belum lama kami duduk, ibu mengajak kami untuk makan siang,
"kia, panggil adik mu" aku segera berdiri dan melangkah ke kamar fathan.
"dik ayuk makan, jangan hibernasi terus nanti kurus rasain"
ucapku sampil mengetuk pintu, tak lama kepala fathan nyembul dari pintu yang sedikit terbuka.
"mbak malu aku sama temen mbak, aku makan nanti saja!"
belum aku berkata adik menyebalkan ku menutup pintu.
"fathan makan nanti bu" ucapku sambil duduk di kursiku.
"takut kali dia sama tampang aggy" canda irtifa yang mendapatkan bogeman dari aggy.
"aduhh, gy, nanti kalau gue lecet gimana"
"bukan urusan gue"
ibu yang mendengar pertikaian dua gadis itu hanya tersenyum.
gak malu apa coba mereka bertikai di rumah ku.
"fa, boleh main di kamarmu gak?" tanya irtifa
"iya gak papa" ucapku. sambil mengajak mereka kearah kamarku. sedangkan ibu keleuar setelah makan siang tadi.
aku segera membuka pintu tanpa fikir panjang, dan setelah melangkah aku baru ingat sesuatu.
"kenapa fa?" tanya irtifa ketika aku kembali menutup pintu.
"sebentar ya aku lihat dulu kamar ku rapi apa gak?"
irtifa mengernyitkan kening,
"gap papa kok, kita kan cuma mau lihat aja"
"ih kepo kali lo ir sama kamar fathin kayak gak punya kamar aja"
"udah lo diam aja"
"bentar gue beresin dulu, setelah itu masuk" ucapku segera masuk kekamar dan menutup kembali.
sampai dalam aku segera mengambil panjangan foto pernikahan yang ibu pajang di kamarku karena aku gak mau di pajang di ruang tamu. setelah beres aku sekera membuka pintu kamar lebar-lebar.
"sialah kan masuk di dunia mimpiku" ucapku.
"ih aneh, mau masuk aja pakek mastiin kamar aja, kayak gak perpernah pakai kamar tidur lo aja fa" celeomet irtifa sambil masuk kekamarku.
"kali aja fathin tidur saman ibunya" jawab aggy datar yang membuat aku melotot.
"bener ir, kamar lo kayak gak pernah lo pakai"
"enggak lah, aku tidur di sini kok"
irtifa berjalan menelusuri ruang kamarku menatap beberapa agenda ku di saat masih SMA yang ku tempel di dinding.
"ih kamu suka buat catatan ya fa, aku dulu males pantas saja peringkat pertama terus"
aku hanya tersenyum.
"eh mana buku kuliah mu fa?" pertanyaan irtifa membuat aku terlonjak kaget dalam hati, irtifa udah kayak wartawan tanya-tanya mulu.
"udah dech lo duduk ir, bikin sepet pandangan aja" ucap aggy nyelonong di antara kami.
"eh, kamarmu unik fa, udah kayak kamar sederhana di film-film gitu" komen aggy, mengalihkan pertanyaan irtifa.
"eh mingkin iya" jawabku.
"kapan kita pulang, gue mau latihan karate sorenya basket" ucap aggy ke irtifa.
"pulang ya pulang gak usah ajak gue, gue mau lama-lama di kamar fathin"
"eh tadi yang ajak naik mobil lo siapa, udah tanggung jawab anyerin gue ke cafe"
irtifa memanyunkan bibirnya,
"nyesel ajak bareng lo"
akhirnya dua teman ku itu berpamitan untuk puleng.
"nanti kali udah anter gue, balik kesini lo gak papa" ucap aggy yang melihat irtifa cemberut.
bersambung...
ada yang mau kasih masukan...