
Ini bukan sebuah mimpi yang diharapkan, tapi kenyataan...
peristiwa yang ku alami sedikit mengguncang jiwa ku, tubuhku tak terhenti bergetar, bukan karena kedinginan, bukan karena kesakitan, tapi aku takut, sungguh takut pada sosok di depan yang tengah mengobati kakiku.
Entah mengapa aku menjadi takut padanya, setelah melihat sisi lain darinya.
"apa sakit? " tanya kak nidhom, aku hanya menggeleng pelan, saat ini tubuhku yang terasa hanya mati rasa, rasa takutku lebih besar dari pada luka pada kaki ku.
sekilas ku lirik tangannya yang terluka, dan sedikit membiru, yang membuat aku kembali memutar kejadian beberapa menit yang lalu.
"tolong jangan sentuh aku!! " teriak ku ketika tangannya yang membawa handuk hendak mengeringkan rambutku. kak nidhom menatapku dalam yang membuat aku menutup mata, ketika melihat wajahnya kejadian tadi terus memutar di otakku bagaikan kaset rusak.
"tenanglah, sudah tidak apa-apa lagi"
aku menggeleng setelah mendengar ucapannya, aku merasa jijik padanya, dia pelenyap seseorang dan aku tak ingin hidup dengan seorang pembunuh.
meski aku menggeleng menolak, kak nidhom tetap menarik ku untuk mendekat dan melanjutkan mengeringkan rambutku yang masih basah.
tadi ketika peristiwa itu, aku sempat melihat akhza, namun ketika bangun dari pingsan, aku hanya menemukan kak nidhom saja.
kini hatiku sedikit tenang ketika dia pergi setelah usai melakukan kegiatannya tadi, dengan memeluk lutut. aku hanya menatap dinding kamar dengan pandangan kosong, ingin menangis tapi air mataku tak bisa jatuh, yang tersisa hanya sesak, beberapa kali aku menepuk dadaku berharap rasa ini hilang.
tanpa ku sadari bayangan dari pintu tengah memperhatikan apa yang tengah ku lakukan.
"aku minta maaf" ucapnya membuat aku terperanjat kaget, kak nidhom menghampiriku dengan nampan di tangannya. hal yang sama terjadi, tanganku kembali bergetar, seolah dia datang hanya untuk melenyapkan ku.
"tolong jangan mendekat" ucapku pelan hampir tak terdengar, yang membuat dia menghentikan langkah, namun kembali mendekatiku dan duduk di sisi ranjang, aku hanya melirik sekilas sambil memeluk lututku.
"kia, aku minta maaf" ucapnya pelan, mengapa perkataannya mengingatkanku pada sosok seseorang..
ayah..
desir ku dalam hati, sesak di dadaku luluh seketika bersama air mataku yang jatuh, kini aku lebih lega dengan menangis sesegukan dari pada tak bisa menangis sama sekali.
tanpa ku sadari aku tengah menelisik pada dada kak nidhom ketika dia memelukku begitu saja, anggap saja dia ayah yang sedang membelaiku ketika aku masih kecil, dengan tangis ku curahkan segalanya, hingga aku lelah dan terlelap...
dari pandanganku yang mulai kabur, aku merasakan kak nidhom tengah menyelimuti, menatapku, dan seketika mataku menutup dalam kantuk yang berat.
***
adzan subuh, sayup-sayup masuk kedalam indra pendengaran, mataku yang masih terkantuk, segera terjaga ketika otakku mulai bekerja, ku pandang sekeliling kamar, namun tak kutemukan sosoknya.
kini ku mencoba mengingat kejadian tadi malam, bukan mimpi, tapi nyata, aku merasakan kedua kaki ku yang terasa sakit, saat ku sibak selimut ku, terlihat jelas kedua kaki ku yang sudah diperban rapi.
kemana dia? tanyaku pada hati setelah tak kutemukan sosoknya, namun aku kembali ketakutan memikirkan dia yang muncul,
" agkkhh"
rintihku, merasakan kepalaku yang sedikit pening, aku yakin tadi malam aku menangis cukup lama hingga rasanya mataku sedang membengkak.
dengan sedikit tertatih aku turun dari ranjang, dan sudah kutemukan sandal yang berada di bawah kaki ku.
sebelum menuju kamar mandi, aku menuju pintu, mencari di mana keberadaanya, namun tak kutemukan di ruang keluarga, aku hanya mampu menatap pintu kamar yang sedang tertutup, dan kembali masuk kedalam.
usai menunaikan kewajiban, aku duduk di tepi ranjang, bersimpuh di lantai membuat kakiku terasa sakit, bahkan sholat tadi aku hanya bisa duduk.
kini mataku menyapu nakas di samping ranjang ku, sebuah kardus kecil tergeletak di sana, sebuah ponsel baru.
aku segera mengambilnya dan menyalakan, ini bukan ponsel lama ku, namun ketika aku membuka sudah terdapat isi yang sama, dari aplikasi hingga berkas-berkas kuliah ku, meski ada yang berbeda, nomernya, ini bukan nomerku, meski dalam wa sudah terdapat grup-grup kelas yang tidak perlu susah aku meminta untuk memasukkan nya lagi...
selain itu di atas nakas ada kartu debit, dan selembar surat.
...Seperti permintaan mu tadi malam, aku akan berusaha untuk mengabulkannya... ...
...gunakan kartu untuk keperluan beberapa hari ke depan, aku juga tengah lancang mengganti ponselmu karena sudah tidak bisa di gunakan, pagi ini akhza akan mengantarkan mu ke rumah ibu tapi untuk sementara, sebelum itu jangan lupa makan sarapan di mu... ...
ku kembalikan ke asalnya, setelah membacanya pesan dari kak nidhom. ku ingat perkataan ku tadi malam bukanlah sebuah mimpi, tapi aku memang mengucapkan nya dengan bibirku ini. aku telah memintanya untuk pergi... , dan dia benar pergi...
setelah membereskan beberapa barang, aku memakan bubur yang sudah dingin di atas meja makan. memakan tanpa selera tapi tandas juga, di pagi hari perasaanku sudah kalut. aku tak mengerti sendiri dengan diriku, aku takut dengannya, meminta dia pergi dan sekarang terjadi aku menjadi galau...
...ketika perasaan kecewaku tangah menguap menjadi benci, disitulah dia datang dengan sejuta perhatiannya... ...
bersambung...