I'M On Your

I'M On Your
Chapter 11



happy Reading ❤❤


irtifa berjalan melewati ku, aku segera mengikutinya. pertanyaan yang ku lontarkan tadi seolah angin lewat saja. baru sampai koridor kelas irtifa berhenti dan menatapku dengan wajah cemberut.


"kenapa sich?"


"kertasnya kok masih loe bawa?"tanyaku. sedangkan irtifa masih memasang muka cemberut yang malah terlihat cute.


"di tolakkk" jawabnya.


dahi ku berkerut, mengekspresikan ketidak mengertian ku. bukanya tadi aku meminta untuk mengumpulkan kertas itu, bukan untuk menembaknya kan.


"ihhh fatin, emang kamu gak denger apa ucapan kak akhza.." suara geram irtifa mengingatkanku bahwa aku tidak terlalu fokus, meski jarak kami berdiri tidak terlalu jauh, seharusnya aku dengar buka?


"ya allah, maaf gue gak dengar"


"dasar sich kamu ngelamun"


"kak akhza meminta kita ngumpulin di ruang osis, dia bilang kita gangguin latihannya, lebih parahnya dia ngatain gini ...emang di ruang osis gak ada  orang, lihat dulu kondisi gue,,ngerepotin aja" lanjut irtifa.


"masak sich, kak akhza bicara sebanyak itu hanya marahin kamu ir" tanyaku memastikan


"iyya" jawabnya mengangguk tapi imut


kamu sich di bilangin tadi gak percaya batinku yang berlain arah dengan bibir ku.


"ayok kalau gitu ke ruang osis" ajakku.


🌹🌹


minggu ini kegiatan pembelajaran tak seaktif hari-hari sebelumnya. karena hati H dies natalis hampir dekat, jadi kegiatan kami berdiskusi menguras segala ide-ide kami untuk di salurkan.


lagian untuk yang ikut lomba juga harus mempersiapkan diri, sedangkan yang lain berkontribusi untuk mencari bahan yang akan di isi di stand kelas kami. hal yang membuat aku sangat-sangat lelah adalah menjadi PJ kelas dan  ikut pula lomba cerdas cermat.


"gue sport elo dari belakang depan samping, pokoknya gue sport" ucap wildan. ini anak bukan buat aku senang tambah tambahin beban aja, harusnya dia itu cowok jadi PJ bukan gue yang harus wara-wiri keruang guru untuk menemui wali kelas kami atau keruang osis ketika di cari.


" yang namanya fathin,,,di suruh keruang osis.." suara siswa lain yang berhenti di depan kelasku.


tukan belum juga aku omongin, udah muncul aja...


"irr yukk" ajakku pada irtifa.


"ogah ah fa, males ketemu kak akhza.."


ya elah si irtifa di marahin dikit udah trauma aja, memang tampang ketua osis kita horor apa.


"yukkk gyy" ajak ku pada aggy.


"gue ngantukk fa.."


ku tatap wildan yang duduk di sebelah aggy.


"ahhh gue, anti masuk keruang osis"


fix finally aku sendirian ke sana.


sampai depan pintu ruang osis aku segera mengucapkan salam dan masuk kedalam. kutemui anggota osis yang cuma ada empat orang salah satunya kak akhza yang duduk di kursinya. kemarin ketika aku dipanggil kak ayu yang ku hadap, tapi sekarang kok gak ada orangnya.


"kak apa benar aku di panggil kesini?" tanyaku pada siapapun yang mau menjawab pertanyaan ku.


"fatin ya, langsung aja.."kata kakak osis yang dekat dengan pintu menunjuk ke arah kak akhza. yang benar aku menghadap dia batinku bermonolog, ya gak biasanya sang ketua langsung mengurusi masalah stand kelas, biasanya anggotanya yang bekerja.


Ku beranikan diri untuk melangkah meski ada rasa gak nyaman pada hatiku..


tolong hati jangan berdegup kencang, biasanya kan normal-normal aja, antara takut atau ada sesuatu pada hatiku yang jelas itu sangat tidak nyaman.


"kakak cari aku" tanyaku memastikan dari pada nanti salah.


"ya, duduk" ucapnya lebih tepatnya perintah.


'ini rancangan kelas kaliankan?" tanyanya sambil menyodorkan kertas di depanku. kau tau posisi ini udah kayak aku di wawancara sama bos aja mengenai tugas yang dikerjakan.


"ini rancana kalian mau buat stand kedai kopi, karena sebelum kelas kalian, sudah ada kelas lain yang mengajukan ide itu, saya minta untuk ganti saja" ucapnya ringan tanpa beban, sedangkan kata 'ganti' sudah membuat kepalaku tersambar petir di siang bolong.


" tapi apa salahnya stand kedai kopi dua, kan gak masalah kak" protes ku, aku harus berani bersuara di depan nya meskipun dia ketua OSIS kita, karena teman-temanku sudah mempersiapkan bahan, kan gak mungkin kita putar arah ke ide yang lain sedangkan semuanya sudah siap.


"masalahnya sudah ada dua, dan mereka lebih dulu dari kalian, saya gak mau tau"


"gak ada cara lain apa kak?"tanyaku, lebih tepatnya seperti memohon, sedangkan di depanku hanya diam sesaat.


"kami sudah siap, bahan dan alat sudah di persiapkan, gak mungkin kan kita mengeluarkan budget lagi, kakak taukan kelas kami rata-rata anak beasiswa.."entah kekuatan dari mana aku bisa mengatakan sekeras ini.


"baiklah, mungkin aku terima rancana kalian, ketika kalian mampu mencari solusi agar tidak sama dan memiliki perbedaan pada kedai kalian dari yang lain" katanya memberikan solusi tapi juga membuat kami harus memutar otak kembali.


"hmmm, bolehkah aku melihat rancangan dua kelas yang mengajukan kedai kopi" kataku ragu-ragu, mana ada kau meminta rancangan orang lain, tapi jika aku tak lihat mana aku tau perbedaan dan persamaannya.


"baiklah,  sebentar" ucap kak akhza membuat hatiku kegirangan.


ku foto lembar kertas yang di letakkan di meja kak akhza.


"makasih kak" ucapku tulus.


"ok, dan tolong jangan bilang pada siapapun" ucapnya membuat aku sedikit tersentuh, sepertinya kami telah melakukan kecurangan secara diam-diam. ku toleh sekeliling ruang osis yang ternyata sudah tidak ada siapapun kecuali kami. dua orang lawan jenis yang berdua-duaan yang ketiga adalah setan. sebelum syetan datang menggoda kami, ku putuskan untuk pamit dan beranjak pergi.


"terimakasih banyak kak" ucapku sebelum pergi.


🌹🌹


Hari yang kita nanti telah tiba, segala upaya pikiran dan tenaga kami sumbangkan sebisa mungkin. jika minta yang sempurna itu sebuah kemustahilan sebaik apapun rencana kita, itu tak luput dari kekurangannya. Aku berlari kecil setelah selesai lomba bersama ketiga teman kelasku, sedangkan untuk mengatur stand kami,  ku pasrahkan pada aggy. setidak tidak bertanggung jawabnya dia pasti ada rasa untuk di percayai.


"bagaimana?" tanyaku pada teman-teman yang sedang bergotong mempersiapkan stand kami.


"ada yang kurang fa, mesin kopinya gimana?" ucap wildan.


" katanya irtifa yang mau bawa  kemarin" jawabku


"sudah, tapi sulit di operasikan" jawab wildan


" coba dech lagi" kataku langsung mengikuti wildan ke tempat alat tersebut. ya masalah buat coffe nanti adalah tanggung jawab wildan, karena dia yang bisa mengoperasikan.


"katanya mantan barista, gitu aja gak kelar" ucap aggy yang lebih tepatnya mencemooh wildan. sedangkan wildan masih sibuk mengotak-atik mesin.


"ini lagi genting-gentingnya, loe malah bikin emosi aja, besok aja kalau ajak debat" timpal wildan gak terima.


ini orang masih sempat berkelahi aja batinku. aggy yang awalnya hanya diam di belakangku akhirnya menyusul wildan.


"sini biar gue coba?" ucapnya, membuat wildan sedikit memberikan tempat.


karena aku gak paham tentang mengoperasikan mesin itu lebih baik menonton, biar mereka yang menyelesaikan.


"pantesan gak bisa hidup, la kabelnya ada yang putus,,,"


"terus gimana ni, kita panggilkan tukang elektronik,,,"tanyaku pada mereka.


"aggy mungkin bisa jadi babang pelistrikan..." timpal wildan di susul jeritannya karena di tabok aggy.


"loe kira kue tukang PLN apa? ,,sorry fa aku gak bisa, aku cuma tebak aja kemungkinan ada kabel yang putus, coba dech tanya irtifa?" ucap aggy, yang membuat aku bertanya-tanya.


"irtifa emang bisa ?"


"maksudku gak gitu fa, kita tanya dulu ni mesin nya masih layak gak,  siapa tahu lama gak di gunakan..." jawab aggy yang membuat aku mengerti apa maksudnya.


"ohhh, ya udah gue tanya dulu, nanti kalau emang rusak kita bawa ke tukang elektronik, tapi kalau memang ada solusi lain, kita cari mudahnya aja gak usah pakai mesin juga bisa" jelas ku pada mereka.


aku segera keluar dari stand untuk mencari irtifa, namun terkejut ketika aku hampir mau menabrak seseorang yang akan masuk kedalam stand kami.


" ehh, maaff" ucapku spontan


bersambung..


🌹🌹