
Hari ini mood ku sedikit membaik, setelah jajan dan nonton film di bioskop, irtifa langsung mengantarku pulang.
"bye, bye" ucap irtifa sebelum menjalankan mobilnya, aku segera melambaikan tangan untuk membalasnya, setelah kepergian irtifa, kini mataku menatap gerbang rumah tetangga depan. di sana aku melihat mbak monika yang sedang menyalakan mobilnya, disusul pembantunya yang memasukkan koper kedalam bagasi.
"hay, fathin" sapa wanita itu setelah menjalankan mobilnya sampai di dekat jalan.
"mau balik, ke paris mbak? " tanyaku basa-basi.
meski dalam hati, ada sesak jika mengingat malam itu kembali.
sikap mbak monika yang biasa kepadaku, menunjukkan, bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang hubungan kami.
"enggak, fa, cuma ada acara di luar kota" jawabnya.
"duluan" lanjutnya, sebelum melajukan mobilnya membelah jalan komplek.
"iya mbak" jawabku sambil mengangguk.
mengapa harus tetanggaku yang menjadi mantan kekasih suamiku, apa dunia sesempit ini...
monolog ku dalam hati, sambil melangkah ke halaman rumah.
"mbak" panggil fathan bagaikan jelangkung, bagaiman tidak terkejut jika baru saja masuk sudah di suguhi adik ku di samping pintu.
"astaghfirullah fathan, ngagetin aja" ucapku, dia malah ketawa cekikikan...
dasar adik laknut ku...
"mas nidhom kapan kesin mbaki? "
"kamu tanya aja sendiri" jawabku sewot dan bergegas kedalam kamar.
hal yang sama di lakukan ibu, ketika makan malam, yang di tanyakan hanyalah mengenai menantu satu-satunya. mungkin mereka mulai curiga, ketika kak nidhom tak datang menjemput ku.
"kalian tidak sedang ada masalahkan? " tanya ibu disela makan malam kami.
"kami baik-baik saja"
"syukurlah" ucap ibu lega.
"bu, besok fathin ikut pergi ke kios akong ya"
"memang gak kuliah? "
"enggak"
"terserah kamu, asal izin suamimu"
aku hanya menjawab anggukan. mana mungkin aku izin, bahkan beberapa kali aku melihat nomer WhatsApp nya terakhir online satu minggu yang lalu.
***
adzan subuh membangunkan ku dari alam sadar, tadi malam tidurku sungguh nyenyak, namun seketika mataku terbelalak ketika hidungku mencium bau samar-samar yang tak asing, aku hafal parfum ini milik siapa, tapi aku tak pernah menggunakannya.
atau dirumah ini ada yang memilikinya?
tapi mana mungkin, fathan tak punya, apalagi ibu...
"istighfar fatin" ucapku pada diri. mengapa bangun tidur otakku sudah membahas tentang dia..
"selamat pagi bu"
ucapku ketika keluar dari kamar,
"pagi juga fa"
jawab ibu sekilas aku melirik fathan yang mengancing seragamnya paling terakhir di depan pintu kamarnya.
ada aja fathan? pakai baju sampai bawa keluar segala... monolog ku.
aku segera membantu ibu menyiapkan sarapan pagi untuk kami.
"bu, apa tadi malam ada seseorang ke rumah? " tanyaku membuat ibu mengerutkan kening.
"maksudmu fa? "
aku mengamati wajah ibu, dari jawabannya mengatakan bahwa ia tidak tahu ada yang kesini.
apa yang sedang kau harapkan ini fathin..
pikirku
jika dia datang, pasti ibu sudah bilang, dengan kode pertanyaan sepeti itu pasti langsung paham, sekilas ku melirik fathan yang tersenyum padaku, kemudian ku lanjutkan sarapan..
lama tak merasakan suasana dulu, ketika aku berangkat sekolah menggunakan sepeda ontel kesayangan, apalagi kini ranjang penuh dengan bunga mawar hasil panenan ibu
emmm, kini aku sepertinya punya ide, tapi mengingat kondisi apartemen kak nidhom yang gersang akan tumbuhan aku jadi merasa miris..., kapan aku bisa punya rumah asri yang memiliki kebun bunga mawar kesayanganku...
"mat pagi akong" sapa ku setelah meletakkan sepada ku.
"pagi juga fathin" jawab akong sambil fokus menulis sesuatu di kertas.
seperti biasa ketika kesini, aku mulai beraktivitas menekuni pekerjaanku, sebenarnya sekedar membantu namun anggap saja aku sedang bekerja.
"kong, ada lowongan kerja gak? " tanyaku membuat akong sekilas memandangku.
"akong dengar kamu menikah, apa gaji suamimu kurang hingga akong harus membuka lowongan kerja untukmu"
jawaban aku membuat aku tersenyum kecut.
"enggak juga, tapi diam pas gak ada kuliah aku gabut sekali"
jawabanku membuat pria tua itu tertawa.
"hehehe, akong tidak sedang membutuhkan karyawan"
aku hanya menghela nafas kasar.
"tapi akong punya hadiah untuk mu, fathin" lanjut nya
"kemarilah.. " panggilnya membuat aku semangat untuk melangkah kearahnya.
akong memberikan bingkisan berwarna merah berpita keemasan.
"apa ini? " tanyaku setelah melihat sebuah sapu tangan dan benang merah.
"ini merupakan simbul dari keyakinan kami, saya berharap kau dan suamimu seperti layaknya benang merah ini, yang menjadi pasangan yang ditakdirkan, dipertemukan sebagai pasangan sejati, dan tidak terputus layaknya benang ini" jelas akong dengan senyuman.
doa dan harapan akong yang diucapkan dengan tulus itu membuat aku tersenyum kecut, namun segara ku paksakan untuk tersenyum, aku tak ingin dia berpikir aku tak menyukai hadiahnya.
"ya sudah sana, kembali bantu ibu mu"
aku segera mengangguk, dan kembali ke asal ku tadi, tak lupa aku menyimpan bingkisan dari akong.
sepertinya aku melihat mobilnya di seberang jalan sana batinku, tapi aku tak yakin jika itu mobilnya.
setelah itu aku kembali menata bunga-bunga sesuai pada tempat dan jenisnya agar mudah di cari.
"fa, kamu bisa bantu" panggil ibu aku segera menoleh. ku pandang ibu yang tengah membawa buket bunga dari dalam.
"iya bu, bantu apa? " tanyaku. aku segera menghampiri nya dan mengambil alih buket dari tangannya.
"nanti berikan buket ini pada pemesan ya, jangan lupa atas nama nicko, jika bukan itu jangan kasih, ibu mau buat lagi masih banyak pesanan"
"terus uangnya"
"udah di bayar"
"ok bu"
belum lama ibu masuk, seseorang dengan memakai stelan rapi seperti orang kantoran masuk kedalam kios.
"mau ambil mas? " tanyaku. orang itu mengangguk dengan ramah.
"atas nama? "
"bpk. nicko"
sekilas aku melirik identitas di saku jasnya.
"bukan bapak ya yang pesan? "
ingin tahuku.
"bukan, bos saya"
"ohh"
"aku segera mengambilkan barangnya, dan tak lupa menyodorkan buku dan bolpoin"
"silahkan tanda tangan atas nama penerima" ucapku, layaknya tukang kurir. pria itu segera melakukan kemudian pamit undur diri, aku menatap pria itu yang berjalan kearah mobilnya.
ohh ternyata mobil itu yang berhenti di seberang sana, tak asing, tapi yang punya mobil seperti dia kan tidak cuma dia seorang.. monolog ku, aku tadi telah berprasangka bahwa itu dia.
entah sejak bangun tidur tadi, aku merasa di hantu dia, merasa mencium baunya, dan sekarang merasa dia ada disini,
tidak, aku tak boleh seperti ini...
pembeli di kios ini cukup ramai, bahkan sampai sore. masih ada beberapa pelanggan yang datang, ibu kesana kemari mengantar pesanan, dan aku bertugas melayani pembeli di kios.
"akhirnya" ucapku sambil meluruskan tangan.
"fa, ibu kayaknya lembur, kamu pulang duluan gak papa" ucap ibu, aku menatap jam yang menunjukkan pukul tujuh malam.
ya tentu hari ini banyak pesanan karena ini musim pernikahan, selain membuka kios bunga akong juga menambahkan usaha lain membuat hantaran.
"baiklah bu, tapi aku mau mampir masjid dulu"
"iya"
setelah berpamitan aku menghampiri sepedaku, karena fathan sudah besar aku tidak perlu khawatir, dia pasti bisa masak sendiri jika kelaparan.
di musim yang dingin, angin malam sungguh menusuk kulit, dengan sekuat tenaga aku mengayuh lebih cepat agar sampai ke masjid.
"syukurlah" ucapku, tak kala gerimis turun, tanpa memikirkan nanti aku pulang bagaimana, aku lebih memilih untuk segera mengambil air wudhu dan sholat.
sebenarnya hujan tak terlalu deras, namun belum enggan untuk berhenti, hawa pun semakin dingin hingga aku enggan untuk melepas mukena, untuk menanti hujan reda aku lebih memilih membaca Al-Quran.
"neng udah lewat jam sepuluh" ucap seorang bapak, aku terhenyak dari lelap ku, dalam hati aku merutuki diriku yang entah kapan telah tertidur pulas, sedangkan Al-Quran yang ku baca sudah terjatuh di atas sajadah.
"iya pak, makasih" ucapku, sambil meletakkan alquran pada tempatnya, ini darurat jadi tak apa jika aku menyentuhnya meski sudah tak memiliki wudhu.
"neng" ucap bapak Tamir masjid sambil menyodorkan payung, aku yang tengah duduk di tangga tersenyum manis.
"makasih pak" ucapku.
"sama sama"
ku putuskan pulang menggunakan payung pemberian bapak tadi, seharusnya aku berjaga-jaga membawa mantel, tapi nasi tengah menjadi bubur, dan hujan telah turun, tanpa aku memikirkan persiapannya tadi.
jam sepuluh malam jalan seharusnya belum sepi, apalagi jalan raya, tapi karena cuaca yang dingin membuat masyarakat sekitar enggan untuk keluar, hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang.
"bagaiman jika ibu sudah pulang? " tanyaku pada diri sendiri, tanganku yang membawa payung dengan tangan kiri yang memegang setir sepeda sedikit mengurangi keseimbangan, hingga aku sedikit hati-hati.
awalnya aku tenang, namun perasaanku mulai tak tenang, kini aku memandang jalan yang tersorot lampu motor dari arah belakang, aku sedikit menoleh, dari kejauhan aku melihat sebuah motor, kini perasaanku semakin tak tenang, ku ayuh pedal sepeda dengan cepat, hingga ku dengar motor mendekat.
"huh, alhamdulilah" ucapku ketika motor itu menyalib. kini aku jadi parno sendiri. ku putuskan untuk lewat jalan gang agar hatiku sedikit tenang, namun hati ku kembali berdebar kencang ketika suara motor samar samar terdengar, dengan cepat aku mengayuh, dan berbelok-belok melewati gang, kini suara motor semakin dekat,..
aku jadi semakin takut, seandainya itu suara motor biasa mengapa terus mengikuti ku.
aku segera turun dari sepeda dan masuk dalam pekarangan rumah seseorang, tak lupa ku bawa sepeda dan ku tutup payungku, dari balik tembok aku mendengar motor berhenti.
"kemana gadis tadi? " ucap seseorang yang ku dengar.
benar meraka sedang membututi ku batinku, sambil menggigit jari. aku tak peduli pakaianku yang basah karena terkena hujan, dan aku lebih memilih menenangkan nafasku agar tak terdengar.
tak lama mesin motor dinyalakan dan sayup-sayup suara itu pergi.
"syukurlah" batinku lega, tapi belum mengurangi rasa kewaspadaan dan ketegangan ku, dengan pelan aku menyeret sepedaku keluar dari persembunyian.
"ternyata di situ kamu" ucap seseorang mengejutkan ku, pria itu tersenyum lebar menakutkan.. aku yang gelagapan segera menaiki sepedaku, dan membuang payung begitu saja.
pria itu mengejar dengan tangan memanggil seorang dari ponselnya, ternyata mereka belum pergi, dan menjebak ku.
seharusnya tadi aku tak segera keluar... jeritku dalam batin..
sebenarnya salah apa aku pada meraka ya allah, ku rasa aku tak memiliki musuh di dunia ini, tapi mengapa mereka selalu ingin mencelakai ku,
dengan tenaga sekuatnya, tak peduli luka kakiku yang mulai terasa perih, aku masih tetap mengayuh.
hal yang kupikirkan saat ini mencari keramaian, ketika mataku menatap jalan raya di depan. aku mulai lega, namun tak mengurangi kecepatan sepeda ku. hingga, segalanya sangat sulit dikendalikan, aku tak mampu membelokkan sepedaku, dan cahaya silau itu menyorot tubuhku, hingga...
BRAKKKK...
mungkinkah ini akhir hidup ku....
Bersambung🥰