I'M On Your

I'M On Your
Chapter 41



banyak orang datang dan pergi, namun semua telah berbeda, ketika ragaku telah dimiliki, meski hati masih dalam keadaan bebas, tapi bukan berarti mampu singgah dan menetap semaunya…


memejam mata sejenak untuk menghilangkan beban yang tiba menumpuk di pikiran meski tak tau apa yang sedang menjadi permasalahan.


perkuliahan telah mulai, aku lebih suka melamun, menatap buku dan mendengar penjelasan yang seolah menguap begitu saja, sepertinya psikologis ku sedang tidak baik-baik saja.


“fathin” bisik aggy sambil menyenggol lenganku.


“haha, ada apa?” tanyaku kelimpungan. aggy yang melihatku memberiku kode untuk menghadap dosen.


“fathin, sejak tadi namamu saya panggil, tapi kemana pikiranmu”


“maaf pak” jawabku pelan, disusul tanganku yang mengangkat tangan hadir.


penjelasan materi pengantar psikologi seolah menguap di udara, inilah permasalahan yang harus diatasi ketika tidak ada motivasi penyemangat, meski berkali kali aku mengobarkan kata semangat, membayangkan fathan dan ibu, namun ketika kak nidhom terlintas di ingatan membuat kobaran kecil itu padam. berapa kali pulpen telah menjadi pelampiasan dengan bangku dan itu terjadi sampai pelajaran telah usai.


“lo lagi sakit fa”


aku hanya menggeleng


“menstruasi” aku mengangguk.


“pantes aja mood mu buruk, “


aku hanya mengangguk kembali.


“lo mau di sini sampai anak kelas lain masuk”


tanya, membuat aku menggeleng. segera ku sambar tote bag, dan mengikuti langkah aggy.


“yukk, ke kantin kampus, gue traktir” ucap aggy.


aku hanya diam dan mengikutinya. sampai saat ini aku belum ketemu irtifa, kampus sebesar ini dengan beribu mahasiswa, jika bukan ketepatan atau ada janji mungkin jarang ketemu. dan irtifa juga belum ku kasih tahu, entahlah bagaimana respon nya jika sampai melihatku.


***


hari ini aku pulang lebih awal, dan orang yang membuat mood ku buruk juga sudah ada di rumah. menatapku yang baru datang sekilas, kemudian tak menganggap ku ada.


aku segera mengambil ganti baju di lemari dekatnya, juga diam dan tak menyapa, atau sekedar menanyakan kabar.


“besok  kita pindah”


kalimat yang menghentikan langkahku.


“ya” jawab yang cukup singkat. tanpa menoleh aku langsung melangkah ke kamar mandi.


saat aku keluar, dia telah menghilang, datang dan pergi menampakkan diri semaunya. jika dia Fathan tentu sudah ku cekik, tapi sayang aku tidak punya keberanian. jika terjadi mungkin aku sudah menjadi trending topik istri mencekik suami karena terabaikan.


tak lama suara ketukan pintu terdengar, tentu yang mengetuk pintu bukan kak nidhom. aku segera membuka. entah ada badai apa di musim yang cukup cerah ketika melihat adiba tengah berdiri di depan pintu.


“bisakah, kau memasak makanan untukku”


ucapnya membuat aku tercengang. di rumah ada dua pembantu kenapa dia memintaku.


“kemana mbok lastri?” tanyaku.


“di ajak ibuk keluar”


“jika tidak bisa, tidak apa-apa” lanjut adiba lagi.


“tidak, aku bisa” kataku. kemudian adiba mengangguk dengan menarik sudut bibirnya.


aku mengikuti adiba turun kebawah, ku lirik sekeliling rumah memang cuma ada kami berdua, dan entah kemana menghilangnya kak nidhom. berharap dia duduk di ruang tamu, tapi sayang sofa itu kosong.


“kau cari apa?” tanya adiba yang mulai biasa, seperti mode mendiami ku sedang cair.


“buka apa-apa” jawabku. yang kemudian melenggang ke dapur. sedangkan pria yang statusnya menjadi om ku itu duduk di depan meja kecil.


“om kau makan apa?” tanyaku sambil membuka kulkas mencari bahan yang bisa dimasak.


bukannya menjawab adiba malah menatapku tidak suka.


“bukankah panggilan itu seharusnya, om adiba” ucapku disusul tawa kecil.


“aku tidak suka, panggil diba lebih baik dari gelar itu”


“baiklah, kalau gitu mau ku masakin apa?”


“adanya apa?” tanyanya balik.


aku segera menyebutkan segala isi di kulkas.


“capcay   bisa”


“bisa, bukan suatu yang sulit”


aku segera mengeluarkan bahan, dan menggerakkan tanganku yang memang terbiasa jika memasak di rumah dulu, permintaan adiba mengingatkan adikku tersayang, saat pindah kesini sepertinya selera humor ku dan perkelahian kecilku hilang. karena di rumah ini semua pada serius, bak prajurit militer.


dalam waktu singkat aku menyajikan  masakan di meja. meski aku sudah makan ditraktir aggy tadi ketika mencium bau masakan lapar juga. akhirnya kami makan bersama.


“fa, ada yang ingin kutanyakan”


“katakan saja”


“tapi kamu jangan tersinggung”


aku menatap adiba sambil memasukkan makan ke mulut.


“katakan saja dib”


ku lirik adiba yang diam sejenak, sebelum katanya itu membuat aku hampir tersedak.


“apa kamu bahagia menikah dengan nidhom”


adiba membantuku mengambilkan air, aku segera meminum. namun pertanyaannya membuat aku gak nyaman. ini adalah urusan pribadi rumah tangga kami, tak semestinya dia bertanya.


“kenapa kamu menanyakan itu”


“hmm, tidak ada, hanya saja sikap dia yang dingin, aku merasa…”


“aku baik-baik saja, dan bahagia” jawabku.


“aku tahu kamu bohong” kata adiba.


setelah pembicaraannya kami langsung memilih terdiam dan mengakhiri makan dengan cepat.


“gak ada yang ingin menawariku makan” suara yang muncul tiba-tiba memecah keheningan di antara kami.


aku menatap masakkan yang tertinggal sedikit, dan menatap ke arah kak akhza yang duduk di antara kami.


“aku akan memasak jika kakak lapar” ucapku,


“oke makasih, jangan lupa hikangankan kata itu” ucapnya membuat aku menghela nafas, ya aku lupa kerena tak terbiasa, jadi grogikan kalau di kelilingi cowok-cowok tampan…


***


aku melakukan kembali aktivitas biasanya. hari ini akhza sebagai tumpanganku ada urusan, akhirnya aku memutuskan untuk naik angkutan umun, inilah yang kurindukan. ikut berdesakan para penumpang.


aku baru ingat bahwa kak nidhom mengajakku pindah hari ini, pasti akan lebih kesepian.


*apa yang harus kulakukan!! *


tanyaku pada diri sendiri.


namun pikiranku segera lenyap ketika pria berjaget hiitam tengah duduk di kursi sampingku.


dan kami saling menatap......


bersambung