
sudah satu bulan, aku di rawat di rumah sakit Singapura. kondisiku mulai membaik, cidera pada kaki juga mulai sembuh, meski aku belum berani untuk berjalan, mungkin untuk tangan akan sedikit lebih lama.
sampai detik ini sikap kak nidhom masih baik, meski sesekali dia kelelahan karena menungguku seorang diri. entah mengapa ketika nenek datang kesini dan ingin menggantinya menjagaku, dia menolak dan meminta nenek saja yang kembali ke Indonesia. menurutku itu berlebihan, tapi aku suka.
meski aku telah melupakan segala hal mengenai sikapnya padaku, tapi tak sepenuhnya aku lupa, jika waktunya tepat aku ingin membicarakan mengenai beberapa hal.
"kamu ingin sesuatu" tawarnya, ketika jendela putih itu satu-satunya tempat yang selalu ku tatap, aku lelah dan bosan mengurung di ruang ini, meski luas tetap saja aku merasa terpenjara di atas ranjang.
aku mentap kak nidhom, kemudian di susul oleh gelengan kepalaku, dia cukup sibuk dan aku tak ingin mengganggunya. aku tahu ketika pagi menjelang dia akan menjagaku, namun diam-diam tengah malam dia terjaga dan duduk di sofa sana dengan leptop nya.
"jika kakak masih mengantuk, kakak bisa tidur" kataku sambil meliriknya, bukannya menjawab ucapanku, dan bergegas istirahat dia malah menggeser kursinya ke dekat ranjang.
"aku tidak lelah, aku sedang menjagamu" ucapnya sambil menatapku.
meski dia sudah baik, tapi ketika melihat senyumnya yang menjadi santapan mataku akhir-akhir ini, tetap saja aku merasa takut untuk jatuh cinta, meski tak bisa di pungkiri, bahwa dia telah menarik hatiku.
aku memintanya untuk beristirahat, sebenarnya bukan tanpa alasan. aku hanya ingin dia tertidur meski masih pagi, dan aku akan berusaha untuk ke kamar mandi sendiri. aku tak ingin mengulangi hal yang sama berkali-kali. sungguh malu aku padanya, meski status kami pasangan suami istri.
"kakak tidur saja, aku tahu tadi malam kakak tidur malam dan bangun pagi sekali" ucapku membuat dia tersenyum aneh. disusul tubuhku yang terangkat.
"kia, jika kamu ingin ke kamar mandi bilang dari tadi" ucapnya, aku hanya diam, namun kesal karena gagal.
aku tahu dia suamiku, dan berhak tahu dari segalah yang tertutup didalam pakaianku, tapi aku malu meski sebenarnya dia telah menutup mata ketika membantuku melepas pakaian atau memakai nya.
"aku tak ingin mandi, aku ingin... " ucapku malu, disusul wajahku yang memerah, nasib menjadi gadis pemalu, dikit-dikit merah, dikit-dikit tersipu, situasi yang menjengkelkan untukku, tapi selalu terjadi.
"diamlah, aku tahu"
tak lama pantatku mendarat di atas closed.
"kenapa di turunkan di sini" ucapku.
"kau ingin pup kan" ucapnya membuat aku malu, namun akhirnya aku mengangguk juga.
"tapi bajuku nanti kena najis"
"tinggal ganti apa susahnya"
mengapa segala perkataannya membuat aku malu saja.
"aku keluar, jika ada yang kesulitan kamu bisa memanggilku" ucapnya, disusul pintu kamar mandi yang tertutup.
"kok datang bulan? " pertanyaan macam apa di bibirku, aku mendengus kesal, padahal biasanya hal ini selalu Ku nantikan. ya karena situasi ku yang serba membutuhkan dia menjadi aku tak bisa leluasa seperti dulu.
aku berjalan sedikit mendekati pintu kamar mandi. dan membukanya sedikit. hingga menampakkan kepalaku. kulihat kak nidhom tidak ada di dalam ruangan, namun kini ekspresi terkejut, ketika dia bersandar di dinding dekat pintu kamar mandi.
"sudah" tanyanya sambil bergerak ke arah pintu.
"emm, jangan mendekat" ucapku panik, namun segera lega ketika dia menghentikan gerakannya.
aku terdiam sesaat, menimang kata yang tepat untuk menggambarkan keadaanku saat ini.
"ada apa? " tanya nya dengan kening berkerut.
"ann, anu kak, em, emm"
"kia, katakan! "
"aku, aku haid"
"aku tahu" ucapnya sambil tersenyum.
"tunggu sebentar disitu" lanjutnya, membuat aku lega, tapi tak begitu cepat menghilangkan semburat merah di wajahku.
"huhhh"
setelah menghela nafas, aku kembali masuk kedalam. tak selang begitu lama pintu kamar mandi diketuk. aku yang masih tengah berdiri dengan tubuh bersandar pintu segera bergeser.
ku keluarkan kembali kepalaku, dari celah pintu yang terbuka sedikit, di depan ku kak nidhom yang tengah membawa sebuah tas kecil.
"ini" ucapnya datar, namun berkesan biasa, seolah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
"terimakasih" ucapku ketika menerima tas kecil berbahan dari plastik itu.aku segera masuk, dan melakukan aktivitas semestinya, meski sedikit kesulitan.
dengan berjalan tertatih menggunakan satu kaki aku keluar, di sofa panjang kak nidhom yang tengah berdiri segera bangkit.
"aku ingin berjalan sendiri" ucapku, ketika dia melangkah. namun apa? tubuhku tetap melayang ke udara. sebulan ini aku sering bersentuhan fisik dengannya, namun mengapa sikapnya biasa saja dan aku yang selalu nervous.
setelah mendudukkan ku di pinggir ranjang, aku ingin segera membaringkan tubuh, namun tak jadi tak kala dia mengambil sebuah jilbab dari tas karton.
"apa kamu akan terus berbaring sepanjang hari disini hmm? " ucapnya membuat aku tersenyum samar.
"aku sedang sakit"
"tapi tidak untuk putus asa, dan pasrah menunggu sampai sembuh" ucapnya sambil mengambil sisir.
aku diam tak kala dia merapikan rambutku yang sedikit berantakan, sebenarnya aku malu sekali dengan rambutku yang lepek, apalagi sampai di sentuh tangannya, namun aku bisa apa? menolak pun tak sanggup.
usai rambutku terikat dengan sempurna, dia memakaikan jilbabku yang tergeletak di sampingku.
"kita mau kemana kak? " tanyaku.
"keluar cari angin" ucapnya.
tahu saja aku sudah bosan di kamar...
"apakah boleh? "
"siapa yang tidak membolehkan memang"
"dokter" jawabku, membuat dia tersenyum namun berkesan mengejekku.
"aku suamimu, bukan dokter itu"
"tapi kita harus mematuhi prosedur rumah sakit"
"tapi ini uangku"
"terserah" jawabku kesal tapi pelan, namun sebenarnya senang. kak nidhom segera membantuku untuk duduk di kursi roda.
"bener nu kita keluar" tanyaku tak yakin.
"iya sayank" jawabnya terdengar gemas, namun malah berkesan aneh di telingaku.
bersambung...