I'M On Your

I'M On Your
Chapter 66



tepat pukul tiga dini hari, aku terbangun dari lelap ku. di depan mata aku menatap wajah tampan dengan rahang tegas yang terlelap damai, alisnya yang tebal dengan bulu tidak terlalu lentik berwarna, dengan bola mata indah berwarna hazel.


"sudah puas menatapku" suara yang masuk dalam telinga, kini menyadarkan ku bahwa objek yang sedang ku amati, kini ganti balik mengamati ku.


"kakak, sudah bangun? " tanyaku spontan setelah tertangkap basa.


"seperti yang kamu lihat" jawab kak nidhom sambil tersenyum aneh menatapku.


"aku tidak sengaja" ucapku sambil menangkupkan bantal di wajah.


"benarkah? " ucap kak nidhom, aku semakin menenggelamkan wajahku dalam bantal, untuk menakan rasa malu.


tidak masalah bukan aku menatap wajahnya, dia suamiku...


monologku.


***


dua bulan lamanya, gerak bebas ku terbatas. dan hari ini aku sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasannya.


"sayank kau duduk saja di kursi" pinta nenek yang tengah mengambil piring dari tanganku.


"nggak nek fathin, bisa kok" ucapku sambil mengambil piring dari tangannya.


"ingat!!, harus hati-hati" ucap nenek memperingati ku bahwa aku tidak boleh terlalu kecapean.


pagi ini seluruh keluarga kakek adam ke rumah kami pagi-pagi, inipun ide nenek karina karena merasa bosan makan di rumah sendiri. lebih tepatnya tidak sendiri karena masih ada kakek adam, adiba dan akhza, hanya saja dia wanita sendiri. jadi pagi hari dia sudah memboyong ketiga pria itu ke rumah kami.


"bagaimana rencana kalian di akhir tahun" ucap nenek di tengah kami sarapan pagi. kak nidhom masih tenang, dengan santai menyendok makanannya dalam piring dengan slow motion.


"tidak buru-buru nek, lagian kami baru saja liburan dan fathin baru saja sembuh"


jawaban kak nidhom yang tidak membuat nenek puas. kini ganti aku yang di serang.


"tidak nenek" ucapku sambil menggeleng kepala, saat ini dalam otak ku belum ada kepikiran jalan-jalan, memikirkan perkuliahanku yang tertinggal saja sudah pusing apa lagi kak nidhom dengan pekerjaan nya.


"baiklah, kalau kalian memang tidak ingin pergi kemana-mana di akhir tahun,...., tara nenek sudah siapkan tiket untuk kalian"


"maksudnya" tanyaku, setelah melihat dua tiket yang di sodorkan nenek di depan kami.


"ini tiket pergi ke Bali sebagai hadiah nenek"


"terimakasih nek" ucap kak nidhom mengehentikan ucapku yang akan mengucapkan hal sama.


"kita bener akan ke bali di akhir tahun? " tanya sambil mencuci piring sisa makan tadi setelah seluruh anggota keluarga kak nidhom pulang.


"iya, kenapa? " jawabnya dengan mode cuek.


"pekerjaan kakak banyak, aku tak ingin membuat pekerjaanmu banyak yang tertunda.. "


kini kak nidhom mengacak jilbabku sebagai tanggapan yang cukup Menyebalkan, aku segera merapikan jilbabku, meski bisa sabun masoh menempel di permukaan tangan.


"ini hadiah nenek, dia pasti akan kecewa jika kira tidak pergi" ucapnya dengan menowel hidungku yangbtidak mancing, tapi tak pesek amat.


"selekaon nanti dan kita berangkat kuliah" kini tanganku di raih kak nidhom dan di arahkan pada kran, sampai si lap kan pila dengan serbet.


"makasih" ucapku dengan senyum manis menahan malu.


ini kuliah, hari pertamaku masuk setelah liburan semester. aku sangat merindukan keberadaan temanku. apalagi melihat grup squad bar-bar yang jarang rame, mungkin di liburan ini meraka sendang sibuk bekerja.


"fa" panggil kak nidhom yang sedang mengambil kunci mobil.


"eh iya kak" jawabku sambil meraih tote bag di atas ranjang dan segera mengikuti suami tampanku nan misterius. meski sekarang sikapnya baik padaku tapi tetap saja, aku tak tahu seperti apa dia?


bersambung...