
Pagi sekali aku sudah mandi, sudah rapi tentu sudah cantik. Seperti apa katanya, hari ini kami akan berangkat ke bali. Kak nidhom yang sedang mandi belum juga keluar dari kamar mandi, akhirnya ku putuskan untuk keluar
dari kamar dan membantu ibu mempersiapkan sarapan.
“mana suamimu fa?” tanya ibu yang sedang membawa piring berisi makanan dari hasil masaknya.
“tumben beli masak udang bu?” bukannya menjawab kini aku balik bertanya. Kebiasaan dech aku.
“nidhom kan suka udang” jawaban ibu sungguh membuat aku terhempas menjadi anaknya. Hmm sekarang ku tau posisi anak mantu berbahaya untuk posisi anak kandung.
“ohhh” responku, sambil berlalu ke dapur untuk mengambil masakan yang belum terhidangkan.
Kini aku menatap heran meja dapur yang segalanya menu seafood, sepertinya ibu hanya memikirkan
menantu satu-satunya itu. Ku ambil dua piring yang tergeletak di atas meja dapur dan
membawanya. Sampai di meja makan sederhana kami, sudah terdapat adik dan suamiku tersayank.
Masih tahap mencoba untuk meembuka hati untuk menyayangi maksudku.
“bu, hari ini temanya laut ya” tanyaku.
“maksudnya ?” tanya adiku yang tersayang.
“ya tumben saja ibu gak masak seperti biasanya, ini serba serbi laut , udang, cumi, kepiting, terus ini ada kerang-kerang yang lain cuma numpang” ucap ku menjelasakan.
“hustt, kamu ini fa, lagian ini makanan kesukaan menantu ibu”
“ya maaf, tapi gak kayak biasanya, biasanya kan Cuma satu jenis kalau ibu masak, kalu udang ya udang, gak ada bala-bala tentaranya, kayak gak ada hari lain aja buat masak lagi” ucapku.
“udah kita makan, makasih bu” ucap kak nidhom, aku melirik sebal, apalagi lihat muka fathan yang seperti menggambarkan sebuah ejekan.
akhirnya aku memilih diam, dan ikut memulai sarapan kami di suasana sederhana nan harmonis. jika boleh berharap aku ingin selalu di situasi biasa namun saling melengkapi. ku tatap ibu, fathan dan kak nidhom dengan senyum mengembang.
***
“ Sudah minum obat” tanya kak nidhm yang baru saja masuk ke kamar, dari pantulan cermin aku mengangguk.
“akhza, sudah datang”
“iya, tunggu sebentar lagi”
Setelah memasang switer aku bergegas mengambil tas ku, karena koper yang terletak di sudut kamar sudah menghilang begitu saja. benar, kini akhza sudah duduk di ruang tamu. Sedangkan ibu dan fathan sudah berpakain rapi. Karena pada saat makan tadi ibu bersikukuh untuk mengantar kami sampai bandara, padahal itu tidak
perlu, aku senang, dan sedikit membuat hatiku tenang, Karene ini ke tiga kalinya aku akan naik psawat, semoga tak seperti biasannya.
Sampai bandara tak membutuhkan waktu lama, sekitar pukul sembilan nanti pesawat akan segera lepas landas, jadi sebelum waktu di tentukan kami datang lebih awal.
“jaga diri baik-baik” ucap ibu sambil memelukku. Aku hanya menganngguk menandakan bawha aku akan hati-hati. entah perasaan apa, aku merasa bahwa ini seperti aku akan bepergian jauh.
“jaga diri dan jaga ibu anak nakal, “ pamitku paada fathan, setalah terlepas dari pelukan ibu, kini aku memberantakkan tatanan rambut adik ku dengan mengusap-nya meski sedikit tak sampai karena dia lebih
tinggi sekarang.
“jangan lupa oleh-olehnya” jawab fatnan yang reflek ku tonyor lengannya.
"di hatimu cuma ada oleh-oleh saja" dengusku sebal.
“mbak ni”
“sudah jangan bekelahi” lerai ibu sambil menatap beberapa pengunjung.
Aku mengamati kak nidhom yang mencium tangan ibu, setelah itu ibu memeluknya seolah dia adalah putra kesayangannya.
“ibu titip fathin ya, maaf jika merepotkanmu, tolong jagain putri ibu”
“itu sudah jadi tanggung jawab nidhom bu, ibu jangan khawatir dan jaga kesehatan”
“iya, terimakasih, kalian sehat-sehat selalu, semoga senantiasa dalam perlindungan allah”
aamiin...
Kini aku jadi terharu, melihat sepasang menantu dan mertua yang saling memeluk, ya tentu ibu sudah menganggap kak nidhom sebagai putrannya sendiri.
“ fa”
“iya bu”
Jawabku, kini sebuah paper beg berwarna coklat pindah ke tanganku,
“ibu gak punya banyak uang, tapi ini sedikit bekal untuk kalian” ucapnya sambil memandang kami bergantian.
"makasih bu"
“terimakasih” ucapku yang bersamaan dengan kak nidhom, karena kami tidak memiliki banyak waktu lagi. Kami segera berpamitan berangkat setelah kak nidhom menghampiri akhza dan berbicara sebentar. wajahku tak bisa henti untuk menoleh menatap ibu, dalam hati ada perasaan yang tidak tenang namun aku tak bisa di ungkapkan, setelah sebuah pintu membawa kami barulah aku tak dapat melihat sosok ibu.
Perasaan apa ini,,,
“kia”
“eh iya” kini aku tersadar telah terhenti dari langkahku, dan tertinggal jauh.
Tak lama pesawat mulai lepas landas, seperti biasa tubuhku yang sepertinya sangat sensitive dengan yang namanya naik pesawat.
“tidurlah" ucap kak nidom nenepuk bahunya, adan aku segera mencari kenyamanan di sana.
bersambung....