I'M On Your

I'M On Your
Chapter 16



...Masih tentang perasaan yang sama pada...


...orang yang sama. Meski keputusan ku untuk menyimpan secara rapat, bukan berarti...


...itu terlepakan, apalagi tergantika,,,,...


...Pada dia aku masih mengagumi,,,...


Peristiwa satu tahun silam, hal bodoh


yang pernah aku lakukan. Sebuah rasa mampu mengendalikan dimana logikaku tersisihkan, meski apa yang telah ku lakukan tak berlebihan. Mengutarakan perasaan bukan sebuah tindakan gila.  Tapi bagi seorang gadis sepertiku, itu adalah sebuah garis bawah yang hampir mustahil. Sehingga sebuah inisiatif yang konyol berjalan mulus tanpa hasil. entah di tolak, atau di terima. Kedua-nya sama –sama bukan sebuah


jawaban.


Ya satu tahun yang lalu aku mengungkapkan sebuah rasa pada benda tak bernyawa, pada ruang tak bernafas, ku selipkan saja ukiran-ukiran penaku pada buku jurnal di atas meja ketua osis…


Jika ingin mengingatnya terus-menerus


rasanya ingin ku putar waktu itu. ku tarik kembali apa yang telah ku lakukan.Meski mengutarakan sebuah rasa itu bukan sebuah kesalahan, tapi bagi ku itu bukan sebuah kebenaran…


Cukup sekali itu saja…


Flashback.


“ lihat dech, kak akhza selalu bersinar


di depan, dari auranya, karismanya, bahkan kata-kata yang terucap itu bak puisi


romansa”


Ucap irtifa, membuat aku yang ada di sampingnya mengerutkan kening. Aku mengagumi tapi tidak bisa se hiperbola itu, meski sebagian kata irtifa ada benarnya. Tak bisa di pungkiri pesona senior


yang satu ini memang menarik perhatian, meski tak banyak orang yang di perhatiakan. Bisa di katakan bila itu simbiosis, dia untung terus dan yang


lainnya dirugikan, tapi apa coba salahnya? Dia tak mengharapkan itu semua.


“fa, menurut low siapa kandidat cowok terpopuler, tertampan setelah kak akhza?” tanyanya padaku, setelah celotehannya tak mendapatkan respon.


“gue lah kandidat selanjutnya” jawab wildan langsung nyolot.


Padahal aku yang ditanya, sudah didahului jawabannya. Tapi yang jelas jawaban ku bukan si wildan.


“hahaha..Loe pede amat, jika ada pemungutan suara seperti pilkada, gue gak bakalan milih low “ jawab irtifa.


Percakapan dua manusia di sampingku ku


abaikan, pikiranku melayang merencanakan suatu hal yang belum pernah kulakukan.Sebuah rencana yang tidak menyangkut sebuah kejahatan, apalagi pembunuhan. Tapi ini tentang rasa dan rasa, yang rasanya aku ini berjalan ke atas panggung,


menghadapi para tamu undangan dan wisudawan wisudawati, bahwa aku…


“ aku pergi sebentar ya” ucapku pada mereka berdua yang masih beradu argument.


“aku ikut..” ucap irtifa, yang masih ku


dengar setelah aku melangkah beberapa langkah.


“tidak usah, aku akan kembali kesini” jawabku.


Yang menghentikan gerakan kaki irtifa.


“baiklah” jwab irtifa.


Aku segera pergi menuju gedung sekolah.


Hari ini adalah hari perpisahan siswa


kelas XII yang digelar secara mewah di lapangan utama. Biasanya tahun lalu wisuda di adakan di hotel, tahun ini cukup di adakan di lapangan sekolah. Bukan karena sekolahan tak mampu lagi menyewa ballroom hotel, akan tetapi ini ide para siswa yang di wisuda dengan mengambil tema Ondoor. untuk mengenang  momen di mana mereka pernah membuat sebuah


cerita di sini.


Aku masih melangkah menaiki tangga menuju kedung lantai dua.


“Kau pasti bisa” ucapku pada diriku sendiri


tak apa ini bukan sebuah kesalahan, aku hanya tak ingin menyesal saja. Ku langkahkan dengan pasti menuju sebuah ruang yang digunakan untuk kantor


OSIS. Cukup sepi, meski ada sebagian siswa yang berlalu lalang di koridor sekolah. aku mencoba bersikap biasa. Namun tiba-tiba aku dikejutkan oleh siswa lain.


“hay..”sapa gadis manis yang memakai seragam putih biru, wajahnya yang manis membuat aku masih termenung dan bertanya, adakah siswa yang tersesat dan salah masuk sekolah. gadis yang tak


ku tau dari mana awalnya, siapa nama dan siapa  dirinya. mengayunkan tangannya di depan mataku hingga akhirnya aku memutuskan pandanganku.


“eh,, iya ada apa?” tanyaku.


“kamu tau gak meja ketua OSIS sekolahan


ini” tanyanya.


Aku hanya mengangguk. Dan yang membuat


aku terkejut. Entah dari mana pria kekar itu sudah berada di belakang gadis manis dengan membawa buket besar bunga mawar, dan kado besar lainya.


“tolong bantuin ya kak “ ucapnya dengan


senyum manja.


“baiklah, “ akhirnya ucapku.


“kau sedang bawa kado untuk siapa fa?”


tanya kara, yang merupakan anggota OSIS baru.


“aku sedang membantu membawakan barang


adik ini “ ucapku sambil menoleh kebelakang dimana gadis itu mengikuti ku.


“ini mejanya” ucapku.


Sebenarnya ini sebuah kesempatan sich.


“mau di taruh dimana?” tanyaku. Setelah


memandang area si sekitar meja ketua osis di penuhi dengan kado para penggemar rahasianya. Ya meskipun ketua OSIS yang baru sudah ada. Meja ini masih tetap milik ketua OSIS lama.


“di sini aja kak” ucapnya sambil


menunjukan tumpukan kado-kado itu. ku lirik senyum gadis itu yang terlihat aneh. Aku mengerti apa maksud dari semua ini. jika bingkisan besar ini diletakan di atas tumpukan kado yang lain. Maka kado-kado itu tertutupi oleh bingkisan darinya.


Sungguh pemikiran yang absurd.


Ku tatap gadis itu yang sibuk meletakkan barang lainnya. Dan baru sadar bahwa siapa gadis itu? dan untuk apa dia di sini?


Mungkinkah …


Ku putuskan pemikiran ku, aku tak ingin melanjutkan apa dugaan ku. Akan lebih baik jika aku keluar dari ruangan ini.


“aku pergi dulu..” ucapku pada gadis itu.


Di susul langkahku dengan pasti keluar


ruangan. Aku tak mengerti apa yang telah


kulakukan, dan bagaiman bisa sebuah tinta mampu tertoreh dalam lebaran kertas putih yang berisi rangkaian kata, sebuah kata yang dimana logikaku tak mampu memahami kata hatiku, dan hatiku tak mampu menyimpannya lagi. Entah tersampaikan atau tidak. Biarlah itu menjadi takdirnya sendiri…


🐰🐰


“hey, kau kembali merenung”


Suara khas yang selalu terdengar ditelingaku di akhir-akhir ini. aku hanya menoleh sekilas pada adiba yang duduk dua kursi di sampingku. Jika ada kursi banyak aku meminta dia duduk di kursi kedua dan mengosongkan satu kursi sebagai sekat antara aku dan dia. Jika memang hanya ada dua kursi, lebih baik aku menggeser kursi ku sedikit jauh darinya.


Ya semenjak wakil ketua OSIS lengser,


aku yang awalnya menjabat sebagai anggota jadi naik pangkat, dan tentu sedikit naik tanggung jawab. Hal ini lah yang akhir-akhir ini membuat aku dan adiba sedikit dekat. Dekat bukan berarti hatinya ikut mendekat, hatiku masih berisi orang yang sama dan aku akan memaksakan kehendak menggeser namanya di hatiku ketika jodohku sudah datang, lebih tepatnya aku memaksa untuk mendepak keluar.


Terdengar sadis untuknya, tapi sebenarnya yang menyedihkan itu perasaanku.


Mengharapakan sesuatu tanpa memandang


siapa diriku..


Upik abu mengharapakan kehadiran sang


pangeran, maaf ini bukan negeri dongeng yang di ceritakan di film Disnep


“kau tekanan hidup ya fa” tanya adiba


sambil mencoret-coret buku agendanya.


“kalau kau tau aku tekanan hidup, kenapa panggil aku, orang lagi tertekan gak bisa ajak diskusi, apalagi debat isi pelajaran IPA, IPS” jawabku.


Jujur aku suka berteman dengan adiba,


bukan suka karena ada rasa, karena menurutku dia baik, enak di ajak bicara dan tetu care. Kadang kami sering membahas tugas anak IPS dan IPA, ya tentang menghitung uang tanpa nyata dan dia membahas mengenai benda tak kasat mata.


Intinya sama-sama tak biasa dilihat secara nyata , nyata bukan berarti tak terlihat gitu lo ya,,,


Hari ini adiba memanggilku untuk di ajak bicara mengenai rencana tour angkatan kelas kami. Karena biasanya dulu anak IPA dan IPS memiliki selera berbeda atau mungkin tak ingin bersama


karena ada dendam terselubung kali. Rencana untuk angkatan kita akan diadakan satu tujuan saja. Itupun jika mereka setuju.


“ghemm, ghemm yang lagi mojok berdua”


Sebuah suara yang muncul dari belakangku, membuat kami menoleh serempak, jik aku 90 drajat mungkin adiba Cuma 30 derajat, karena posisinya yang menyamping.


“ganggu aja low”


Jawabku yang malah di salah artikan oleh irtifa.


“ok dach, gue pergi” jawabnya dengan


wajah senyam senyum gak jelas.


Semenjak dekat dengan adiba karena suatu kepentingan irtifa pindah jadi Makjoblak dari abangnya ke adiba, meski mereka berdua sendiri itu seperti dua makhluk yang tidak aling berinteraksi.


Seperti ada perasaan segan yang tersirat di wajah masing-masing, yang membuataku menyimpulkan bahwa mereka pernah ada sebuah Camistry.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE❤❤