I'M On Your

I'M On Your
Chapter 33



Tidak seperti biasa, hari ini seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan. jika semua lengkap kami akan makan di meja panjang, meski menurutku lebih nyaman jika duduk di meja kecil yang lebih dekat dengan dapur.


jika kalian tanya posisiku makan tentu, aku berada di samping kak nidhom, dan di seberang meja ada nenek, adiba dan kak akhza.


"bagaimana tentang kemarin fa?" tanya nenek mengawali pembicaraan.


"oh, sudah kami..."


"kami sudah bicarakan nek, fathin akan kuliah di kampus kita sendiri" ucap kak nidhom memotong pembicaraanku.


aku hanya menatapnya dan menelan ucapanku sambil mengangguk.


"itu akan lebih baik" jawab kakek.


aku menatap makananku. yang sudah terdapat beberapa sayur bunci padahal aku belum mengambil masakan itu. ya tadi pagi aku menumis  udang dan buncis sedangkan masakan lain mbok lastri yang masak.


kulirik piring kak nidhom yang di atasnya terdapat beberapa udang tapi kemanakah sayurnya. karena seingatku hanya masakanku yang terdapat udang nya. tak berapa lama kak nidhom mengambil tumisan yang kubuat dan benar perkiraanku, dia memindah sayur sayur tersebut ke piringku.


aku hanya diam, bagaikan anak yang di tindas tapi tidk bisa melawan. kan hambar jika banyak buncisnya kan.


padahal di meja makan terdapat beberapa masakan seafood yang di buat khusus untuknya.


Ghemmm..


suara deheman adiba membuyarkan lamunanku. yang menydarkanku pada setumpuk oseng buncis di piringk yang bertambah. tapi pada akhirnya kutelan juga, tak mungkin aku ambil lauk sedangkan di piring sudah penuh dengan osengan buncis itu. dia tak berniatan untuk menyuruhku makan sayur kan?


dan yang membuat aku terkejut lagi air putih di gelasku sudah tandas, ketika aku ingin meminumnya karesa sulit menelan makanan, jangan bilang kak nidhom juga ingin membunuhku?


***


keputusannya, membuat aku harus kembali belajar, untuk mempersiapkan ujian tes masuk ke kampusnya. titah nya tidak bisa di toleran, dan aku yang hanya rakyat biasa hanya  dapat mengikuti kemauannya. tapi ada senangnya, aku bakal ketemu irtifa tanpa susah cari teman baru, oh aku lupa aku harus tanya irtifa dia masuk jurusan apa? siapa tahu nanti kita bisa satu kelas, kalau tidak gitu kita bisa satu jurusan saja sudah cukup. jika ada buku yang harus dibeli aku kan cukup pinjam tanpa harus beli.


hehehe, gak ada salah kan dalam memanfaatkan pertemanan...


segera ku raih ponsel yang tergeletak di nakas.


Me : ir, pa kabar?


tanyaku basa basi. dalam hitungan detik irtifa langsung membalas


.


Irtifa : alhamdulillah, bagaiman kelanjutan kuliahmu kemarin?


itu kan, sudah ku tebak irtifa akan menyakan hal itu, tapi aku juga belum bisa menceritakan mengenai rencanaku kuliah di kampus kakek, takutnya gak lulus, kan jadi malu-maluin.


Irtifa: hehehe lancar


Me : ambil jurusan


Irtifa : sastra


aku termenung sejenak setelah membaca pesan dari irtifa, kemarin aku mengambil jurusan akutansi, sekarang tak mungkin aku mengambil sastra.


suara pintu yang di buka, menyadarkan lamunanku. ku tatap kak nidhom yang baru saja masuk. haruskah aku meminta solusi padanya? atau aku memutuskan sendiri pilihanku.


"ada apa?" pertanyaan kak nidhom membuyarka lagi lamunanku, aku tak sadar jika terus menatapnya.


ya allah fathin sejak kapan kamu jadi tukang melamun batinku.


"emm, gak ada" jawabku kemabali memandang ponsel.


kak nidhom meletakkan beberapa buku di meja  belajarnya.


"kau bisa membaca buku itu jika di butuhkan" katanya, membuat aku menatap buku buku tersebut, dari samping terlihat jelas judul buku tersebut.


"itu buku psikologi kan?"


pertanyaan macam apa yang aku lontarkan, padahal sudah jelas jawabanya tertera di judul buku tersebut.


"seperti kamu lihat" jawab kak nidhom sambil menghampiri mejanya.


"tapi aku,,,,"


"aku menyarankan kau masuk jurusan psikologi pendidikan"


katanya membuat aku terdiam, namun tak lama.


"kenapa?"


"tentu itu lebih berguna untuk mu kelak"


jawaban yang cukup membuat aku berfikir keras. aku tidak menyukai jurusan itu, karena aku ingin out put ku ingin bekerja, bukan untuk mengajar atau mengurusi permasalahan siswa.


"aku ingin..."


"aku tahu keinginanmu, tapi itu saranku, nanti coba kau pikir ulang" ucap kak nidhom meninggalkanku sambil membawa leptobnya...


Bersambung.....