I'M On Your

I'M On Your
Chapter 32



saat aku terbangun, hal yang ku temukan adalah dia yang sedang duduk di meja belajar.  hingga kadang aku berfikir secinta itukah kak nidhom dengan leptobnya, keberadaan ku ini bagaikan makhluk tak kasat mata yang tidak di anggap ada.


jika ku tanya boleh kah aku kecewa?


tentu tidak, aku akan nyaman jika dia bersikap begitu, karena jika kami berdekatan hal yang pertama ingin ku lakukan adalah kabur, kami tak pernah bersentuhan secara fisik, kecuali pada acara pernikahan, ketika dia mencium keningku mendadak yang membuat aku terkejut.


ya allah, ada apa dengan diriku, ketika ku sadari bibirku tersenyum kecil mengingat itu. aku tidak suka dengannya kan?.


sebelum semakin lama aku melamun, kulangkahkan kaki ku menuju kamar mandi...


setelah semua do'a dan harapan ku panjatkan pada sang pemilik hidupku, aku segera melipat mukena dan duduk di tepi ranjang. teringat tadi malam aku ingin menyampaikan sesuatu padanya yang tertunda.


cukup lama aku memandangi punggungnya. aku masih menunggu ada waktu senggang, melihat dia yang sibuk, pikiranku ku menarik ulur niat ku. tapi jika hari ini aku tidak dapat menyampaikan itu, pasti hari hari selanjutnya akan terlupakan.


jarum jam berputar meninggalkan angka-angka yang terlewati yang kemudian terulang kemabali. hampir aku terjunggal menahan kantuk setelah terduduk di tepi ranjang cukup lama,


dia masih sibuk...batinku berkata, namun tak lama aku melihat pergerakan kak nidhom yang merenggangkan ototnya.


"kak, aku ingin membicarakan sesuatu yang tertunda tadi malam" kataku keluar begitu saja.


kak nidhom yang awalnya memunggungiku, menoleh kearahku.


ada yang salahkah dengan bahasaku?. monolog ku pada diri sendiri, pasalnya kak nidhom menatap ku aneh.


"maksudku yang ingin ku bicarakan tadi malam, karena kakak bilang lelah jadi gak jadi tadi malam aku bicarakan"


secerdas-cerdasnya aku jika lawan bicaranya dia kenapa kau jadi tegang sendiri, bahasaku juga jadi tidak baku dan terbelit-belit. sebenarnya kak nidhom juga tidak menatapku galak, dan juga tidak menyeramkan. tapi mengapa aku merasa takut dan sungkan.


"oh, katakan saja" ucapnya sambil menatapku.


aku segera menunduk, tak lupa jari-jariku sedang sibuk bertautan.


"ini masalah kuliahku, seperti apa yang sudah aku sampaikan pada mama melody, tentu kakak sudah tau mengenai itu" kataku sedikit lega.


"aku tahu, terus di mana maslahnya?" tanya nya membuat aku reflek menatapnya.


"tidak ada, aku hanya  ingin memberitahu lagi, siapa tahu kakak sudah lupa" jawaban, sambil berdiri.


"kau tak ingin masuk di kampus ****?"


aku yang sudah melangkah ke arah pintu menghentikan langkahku dan menatap kak nidhom yang sudah kembali menatap leptobnya.


"semua orang yang memiliki mimpi untuk meneruskan perguruan tinggi pasti menginginkan nya, tapi aku tidak terlalu percaya diri dapat lolos seleksi, lagian juga sudah di tutup pendaftaran"


kalimat terpanjang yang pernahku ucapkan untuk menjawab pertanyaannya. kini aku kembali di tatap yang membuat aku menunduk lagi.


"aku akan meminta dekan untuk membuka satu gelombang lagi, jadi daftarlah di situ saja"


"tidak perlu, aku sudah lolos seleksi di perguruan negeri" tolakku, tak mungkin aku membiarkan beasiswa yang susah payah ku dapatkan ku lepas begitu saja. hanya untuk mengejar kuliah di kampus ternama itu, apalagi seleksinya sulit dan belum tentu aku masuk.


kak nidhom masih terdiam, tapi netranya tidak lepas dari diriku yang masih berdiri mematung.


"aku suka kuliah di situ"


ucapku, yang membuat kak nidhom mengangkat sudut bibirnya. ya aku menangkap sekilah senyum itu yang terlihat menertawakan ku atau bagaimana aku tak tahu. apa penolakanku untuk daftar di kampus yang juga salah satu milik kak kakek terlihat bodoh. kak nidhom tidak berfikir seperti utukah tentangku.


"aku akan tetap membuka satu gelombang lagi, jadi cobalah untuk ikut ujian, aku sudah mendaftarkanmu" kata kan nidhom yang sudah berada di depanku. tangan nya yang bertengger di kepalaku membuat aku hanya mengangguk saja.


suamiku menghipnotisku, aku yang mematung tak menyadari suamiku telah keluar, suara pintu yang di tutup membuat aku bangun dari lamunan.


apa tadi, dia tersenyum dan mengusap kepalaku, yang mebuat wajahku panas, aku tidak sedng bahagiakan di perlakukan itu?


kini aku juga tidak sadar jika sudah keluar dari kamar, pipiku yang merah juga tertangkap basah oleh dua makluk yang keluar dari  kamarnya masing-masing.


kenapa juga selalu bertepatan jika pas begini, batinku.


wajahku yang sudah panas dan mungkin memerah terasa bertambah merah...


ya allah aku malu...


kataku, sambil berlenggang pergi melintasi kak akhza dan adiba...


bersambung....