I'M On Your

I'M On Your
Chapter 83



entah aku bersyukur atas hidupku atau harus menangis atas kehidupan suamiku, wajah datar dan tenang itu memiliki sisi hidup yang rumit, yang selama ini tak dapat ku ketahui.memiliki sosok ayah yang tidak memiliki sisi hati penuh kasih sayang.


“seharusnya aku tak berpikir buruk tentangnya, sungguh aku tak tahu kehidupannya yang sulit, mungkinkah selama ini dia hidup dengan rasa ketakutan, kesepian tanpa ada rasa ketenangan” ucapku sambil menatap ibu mertuaku yang menatapku dengan tatapan sendu.


“mama harap kamu tidak kecewa dengan keadaannya, dia bukan lelaki yang sempurna untuk mu kia.., maafkan mama melibatmu, andai,,,,”


“syuhtt, tidak ma, jangan katakan apapun…”


“bagi fathin, kak nidhom sosok sempurna untuk fathin”


“kau tak takut jika hidup bersamanya tidak akan tenang, itu bukan suatu hal yang mudah untuk gadis seusiamu..”


“mungkin hidup fathin akan berat, namun tanpa ku sadari dari awal sejak itu hidupku sudah berat, jadi apapun yang terjadi, fathin tak akan meninggalkan kak nidhom, kecuali takdir berkata lain”


“makasih sayank, mama hanya bisa mendoakan, dan kita segera keluar dari”


mama memelukku, mengusap sisa air mataku yang menangis setelah mendengarkan segala cerita ibu mertuaku.


mungkin setalah ini jalan yang aku pilih sulit, namun aku akan berdiri tegar menghadapi segala hal apapun asal bersamanya.


***


suara helikopter mendarat pada sebuah tebing batu, mungkin dari jauh terlihat begitu curam namun siapa sangka dia atas tebing terdapat sebuah lapangan yang cukup luas.


pria dengan tatapan tajam bak mata elang itu menatap pintu soalah menunggu sebuah kegaduhan yang akan di ciptakan putra sulungnya.


“Alice, kau tak ingin menyambut kakakmu” gadis manis yang tengah berdiri di samping meja sang ayahnya hanya mampu tersenyum tipis namun berkesan sinis.


“dia bukan kakakku ayah,,”


“apa kau sedang marah?”


“perkataan ayah tak perlu alice jawab” ucap gadis itu sambil berlalu.


“aku akan memberikan posisi untukmu, karena telah membantu membuatnya datang kemari”


“itu yang seharusnya” ucap gadis bertubuh semapai dengan pakaian serba hitam melangkah pergi dengan sedikit menutup pintu kencang. sedang sosok ayahnya menatap pintu dengan pandangan yang sulit di artikan. jika dia bisa menyingkirkan hati nurani dan perasaan cinta, putrinya pun bukan jadi masalah.


saat ini yang diinginkan putra satu-satunya itu kembali padanya, meski harus melukai dan mengobrak abrik perasaan.


“wanita hanya akan menjadi kelamahan, cinta hanya akan menjadi halangan, hanya dengan melenyapkan dari tubuhnya, maka aku bisa menciptakan kekuatan untuknya dari rasa kebencian dan rasa luka disorot matanya, meski harus aku menjadi alasannya, aku tahu dia menurunkan sisiku,,,, hanya saja ibunya lebih dominan di sisinya,,,”


brakkkk…


pintu terbuka lebar ketika dorongan keras dilakukan seseorang dari luar.


“pergilah, kau tak perlu menghalangi putra ku yang ingin melepas rindu” ucap pria itu santai dengan  sedikit tawa. sedangkan yang di bicarakan sudah menatanya dengan kobaran api peperangan.


“di mana kau menyembunyikan mama dan istriku” teriak nidhom tanpa rasa sopan meskipun di depan pria yang menjadi alasan dia terlahir di dunia, sungguh dalam hati dia tidak sudi untuk Mengangakuinya.


“bagaimana perjalananmu kesini, apa menyenangkan?’ tanya pria yang berusia enam puluh tahun tapi ketampanan dan karismanya yang terpancar masih sama. dia menghisap rokoknya tanpa perduli dengan ucapan sang putra.


“aku tak butuh pertanyaan basa basimu, kedatangku kesini tidak untuk hal itu…”


“ohhh, sepertinya tempat tinggal baru beberapa tahun ini telah banyak merubahmu…hahahha, kemarilah dan peluk ayahmu ini dengan hangat”


“cihhh, aku tak punya ayah”


bukanya marah pria yang tengah duduk maanis itu terkekeh pelan.


“bagaimana dengan kabar adik mu?”


kini nidhom menatap dengan dada sesak.


“aku tak punya adik”


“sebanyak kau dan ibu menutupi dariku, semua itu hanya akan sia-sia, aku sudah tahu segalanya...jika kau tak mau di sisiku, … bagaimana dengan putra tampanku yang masih muda itu,,, oh siapa namanya, bahkan aku belum tahu….”


“kau mengancam ku”


“tidak juga”


kini nidhom mulai mengatur nafas, sepertinya pria yang pernah mencurahkan kasih sayang di masa balita itu bukan lagi manusia.


“jangan dekati akhza, atau kau akan aku melakukan sesuatu yang tak terduga "


“baiklah, aku juga tidak membutuhkannya, namun aku suka ancaman mu yang tidak seberapa itu" ucapnya dengan nada meremehkan.


kini hati nidhom mulai memanas, bagaimana dia memiliki sosok ayah sekejam itu. kata-kata 'tak butuh ' itu seolah belati tajam yang menghunus jantung, bagaimanapun akhza adalah darah dagingnya, lantas pantaskah seorang ayah berkata begitu, sungguh dia membenci pria didepannya itu yang memeliki wajah hampir serupa dengannya.


“tapi itu juga tidak mudah, kau bisa memilih siapa yang kau korbankan untuk mu”


“br*s*kkkk”


bersambung...


tolong bantu dukungannya, agar author gak males belajar buat cerita, kasih saran dan kritik juga gpp😊😇