
semalam kembali ke hotel pukul tiga dini hari, seusai sholat subuh tadi aku kembali tidur dan baru bangun ketika jarum jam mendekati pukul dua belas, rasa nya masih ngantuk, namun otakku yang bekerja cepat menepis rasa kantukku dan bergegas pergi ke kamar mandi.
kini aku tak sepanik kemarin setelah mengetahui bahwa dinding kaca tersebut ternyata memiliki sistem canggih.
"hmm manusia seperti ku harus banyak-banyak belajar agar tak terlalu gaptek amat" ucapku pada diriku di depan cermin wastafel.
kini aku mengamati wajahku dalam pantulan cermin, terlihat garis bibirku ya sempat senyum mengingat adegan romantis di pagi tadi. berharap hubungan kami dalam keadaan baik.
#
usai sholat ponsel ku berdering, menampilkan nomer yang tidak aku kenal selama sekali.
"assalamu'alaikum, halo ini siapa? " tanyaku spontan.
"waalaikumsalam ini saya nyonya"
aku mengerutkan kening atas panggilan itu, suaranya tak asing di telingaku.
"iya siapa? "
"elvian nyonya devanicko denandra"
huh aku mendengus kesal atas panggilannya.
"oh, ada apa bapak elvian menelpon saya? " tanyaku tak kalah menyebalkan. dari seberang aku mendengarkan suara kak nidhom yang sedang menegur Sekertaris nya itu.
"cuma menyampaikan perintah dari bapak bos, nanti malam anda akan ikut menghadiri pesta bersamanya, dan dia sudah menyiapkan seseorang penata rias untuk datang ke kamar hotel anda pada pukul tuju nanti? "
"ohhh, tapi untuk apa? " tanyaku,
untuk apa mendatangkan perias, skil make up tak buruk amat batinku
"ini acara penting nyonya, anda harus tampil sempurna di acara nanti"
"oh gitu" jawabku malas.
dari seberang aku mendengar suara kak nidhom yang menegur asistennya. belum sempat mulut ku melontarkan pertanyaan mengenai keadaan suamiku, sekretaris menjengkelkan itu menutup sambungan.
"sudah ya nyonya saya tutup dulu"
tut tut
...***...
pukul delapan malam, asisten kak nidhom menjemput ku setelah para perias itu usai make over wajah ku hingga aku tak mengenali diri ku sendiri.
huhh
aku sedikit tidak nyaman dengan penampilanku, meski tak memungkiri aku suka memandang diriku, gaun yang terlihat elegan dan menggunakan high heels, ini sungguh merpotkan, sebenarnya aku tak ingin iku dan lebih memilih rebahan di kamar hotel, tapi seharian ini aku tak bisa menghubungi kak nidhom.
di depan hotel asisten pribadi suamiku itu tengah menunggu dan membukakan pintu belakang, sungguh aku tak nyaman.
"silahkan masuk nyonya"
panggilan itu lagi, tak bisakah dia tidak memanggilku nyonya protesku dalam hati.
"kenapa anda yang menjeput saya, kemana kak nidhom? " tanyaku setelah duduk nyaman.
"nyonya tak mengerti, jika suami anda itu gila kerja"
"ohh, tapi bukannya tidak usah ke acara jika sibuk"
"hmmm, seharusnya begitu, tapi menghadiri pesta juga kepentingan bisnis" jawab elvian, aku hanya mampu ber oh ria, mana aku tahu urusan bisnis, meski dulu aku pernah sempat ingin kerja juga.
dalam perjalanan aku menikmati lampu di sepanjang jalan untuk menghibur rasa kebosanan ku. dan setelah jenuh barulah sampai di sebuah bangunan megah bergaya eropa.
karena masih terhipnotis akan keindahannya, aku sempat tak menyadari jika elvian sudah membuka pintu untuk ku dan sebuah tangan mengulur di depanku.
"kia, "
"eh maaf"
ucapku sambil meraih tangan kak nidhom. kini mataku menatap suamiku yang sedang rapi dengan jas mewah.
aku sadar jika pria di depanku itu tampan, cuma saja hari ini di mataku dia berbeda, dia seperti bukan kak nidhom yang ku lihat....
bersambung....
#Jangan lupa like komen dan vote❤❤