I'M On Your

I'M On Your
Chapter 50



Tadi malam aku tidur sangat nyenyak, nyatanya pagi ini aku bangun tepat waktu. Dan lampu juga sudah hidup, meski orang yang menemaniku telah menghilang. Sebelum pergi ke kamar mandi aku merapikan selimut dan sprei. Indra penciuman seorang wanita sangat tajam, dan menemukan hal yang janggal.


“sepertinya, aku tidak pakai parfum wangi ini” tanyaku pada hati. Namun Suara adzan subuh segera melenyapkan pikiranku dan lebih melangkah ke arah kamar mandi.


Tidak seperti kemarin, seorang suami yang memasak untuk istri. Hari ini aku berencana untuk masak, namun  sebelum itu ku pastikan dulu kak nidhom masih di apartemen, dengan sedikit pelan aku melangkah  kearah kamarnya yang sedikit terbuka. Namun yang membuat khilaf, bagaimana aku bisa mengintip suamiku yang ketepatan sedang keluar dari kamar mandi yang masih memakai handuk sepinggang.


Ampuni fathin ya allah..


Dengan cepat aku pergi dari dekat pintu kamar kak nidhom sebelum ketahuan.


Memasak tidak membutuhkan waktu lama, setelah nasi matang beserta keluarganya aku segera menyajikan di meja makan, dan tak lupa makanan kesukaan kak nidhom tumis udang.


Dari arah belakang kak nidhom datang dengan setelan pakaian yang sedikit formal, aku tidak menyapa nya dan malah tertunduk, aku takut saja jika tiba-tiba memiliki perasaan pada suamiku itu. meski mencintanya bukan lah sebuah kesalahan tapi keharusan. Tapi aku belum siap, apalagi hubungan kami masih menggantung, takut saja jika kedepannya kita harus bercerai, aku takut tak mampu jika sampai memiliki rasa padanya…


 Ketika kak nidhom duduk, aku segera duduk di kursi samping kanannya.


Kami berdua memulai sarapan tanpa banyak bicara, dan lebih memilih fokus pada hidangan di depan mata. Selesai sarapan aku segera membereskan. Tak luput rasa heran ketika dia membantuku mengambil beberapa piring kotor.


“setelah ini akhza akan menjemputmu”


Ucapnya aku hanya mengangguk. Kulirik kak nidhom yang kembali ke sofa untuk mengambil tasnya yang tergeletak di sana. Aku segera menyusul sebelum dia pergi.


“tunggu kak”


Ucapku, entah inisiatif dari mana aku memanggilnya. Kak nidhom menatapku, setelah melihat aku hanya mematung.


“emmm, sa sa salim dulu” ucapku terbata.


 Tanpa berkata kak nidhom mengulurkan tangannya dan aku segera meraih tangannya.


“hati-hati” ucapku dan dia hanya mengangguk dingin.


 Belum lama kakaknya pergi, adiknya pun tiba, nasib baik di kerubungi para pria tampan. Tapi semua harus terpatahkan ketika sosok gadis berseragam SMA itu muncul dari balik punggung akhza.


“kenapa kita harus kesini” ucap gadis yang bernama ara.


Akhza bukannya menjawab malah meninggalkan kadis itu dan melangkah ke arahku.


“kakak memintaku menjemputmu”


“iya aku tahu, tunggu sebentar” ucapku masuk kedalam yang diikuti dua tamuku.


Tak butuh waktu lama aku mengambil tas.


“mau di bikinin teh atau kopi?” tanyaku pada mereka.


“gak perlu nanti aku bisa telat” jawab gadis itu.


Aku tak tahu penyebab apa gadis itu bersikap sinis padaku.


“baiklah, kita berangkat” ucapku sambil terpaksa senyum.


Kini akhza terlihat seperti supir pribadi kami, sebenarnya tadi ara ingin duduk di kursi depn, tapi akhza memberi perintah untuk duduk di belakan bersama ku yang membuat gadis itu menatapku semakin tidak suka.


Apa salah aku coba?


 “kenapa coba kak nidhom nikah segala sih” ucap gadis itu, yang melirik ku sebal. Aku lebih memilih diam, dan membiarkan dia berceloteh semaunya.


“kak akhza, kenapa kak nidhom gak nikah sama kak harmonica, kan dia cantik karirnya juga bagus terkenal pula?”


“ra, kau diam atau ku turunkan dari mobil” jawab akhza.


“ih, nyebelin” jawab gadis itu memberengut.


Sebenarnya aku sedikit puas atas jawaban akhza. Namun melihat mimik gadis itu yang tambah level jadi  judes. Ku sarankan akhza untuk diam saja.


Tak membutuhkan untuk sampai ke kampus, namun sebelum itu akhza menurunkan ara di sekolah. hal yang membuat hatiku mencelos, kata kata yang keluar dari bibir gadis tersebut sungguh pedas dan menyakitkan.


Sebenarnya tak ingin memasukan hati, tapi kenyataan aku memiliki perasaan untuk sakit hati.


Tak ingin mengingat sepenggal ucapan gadis itu, aku lebih berjalan ke arah kelas, di depan pintu kelas aggy sudah menungguku dengan senyum manisnya.  aku sudah paham ada  maunya orang tersebut.


“fa, aku nitip tas ya” ucap aggy sambil meletakkan tas nya di tanganku.


“ini  penting” ucapnya pergi pergi begitu saja.


“mau kemana gy” teriakku


“udah pokok penting, nanti aku kembali setelah istirahat jika aku telat jangan lupa absenkan” teriaknya masih dengan lari, aku hanya mampu mendengus sebal.


Jam perkuliahan pertama sudah berlalu, aku memilih mengajak irtifa ke kantin. Namun setelah pesanan datang tiba-tiba suara ponselku berbunyi.


“waalaikumsalam holo gy, ada apa?”


Dari seberang sana aku mendengar aggy meminta tolong, dan tak lama  panggilan putus. Sesaat aku mendengus.


“kenapa aggy telepon?”


“hmm, biasa cari kerjaan buat orang”


“kamu sih mau aja fa”


“teman ir” ingatku.


“ya teman ter merepotkan  hahaha” ucap irtifa, untung cantik meski tawanya agak keras.


Aku lebih memilih menikmati bakso kami, sebelum mengantarkan kaos aggy yang tertinggal di tas.


 “maaf, gue pergi dulu fa, masih ada jam kuliah”


“iya gapapa”


Setelah kenyam irtifa pergi duluan, sedangkan aku berjalan menuju loker untuk mengambil tas aggy sebelum menuju gedung olah raga. Ya cukup menguras lelah turun ke lantai dua, apalagi tadi lift banyak yang antri. Apalagi aggy beberapa kali telpon meski tak ku angkat, dan aku menyerah


“iya gy, masih jalan”


Suara di seberang sana membuat langkahku semakin lebar.


“aku tunggu di dekat pintu ya”


Dan lagi lagi aku menghela nafas, terpaksa aku masuk ketika si aggy memintaku untuk masuk. Pandangan pertama yang kulihat adalah punggung pemuda yang tak asing tengah menyentuh kaki seorang wanita cantik.


“hay,” panggil aggy, aku langsung mengalihkan perhatianku. Kulihat wajah aggy yang lebam terkena pukulan, tentu sebagai teman aku sedikit panik, dan yang dikhawatirkan malah memasang wajah bahagia.


“kau tidak apa-apa” tanyaku, yang membuat aggy cengengesan.


“ masih waras kan gy”


“huh, masihlah” jawabnya sewot.


“mana kaosku basket”


Aku segera mengeluarkan kaosnya.


“setelah kondisimu seperti ini kamu mau ngapain?” tanyaku yang malah di jawab dengan cengiran. Sudahlah aggy memang gila olahraga.


“aku, baru saja mengalahkan lawan ku” kata aggy Bangga. Aku menatap arah aggy memiring kepala. Di sinilah hati ku merasakan  terluka, ketika punggung pria tak asing kini mengangkat tubuh wanita lawan main aggy tadi. Perkiraan ku tadi tak salah, posisiku yang dekat pintu melihat jelas bagaimana suamiku sendiri tengah membopong wanita lain, sedangkan keberadaanku sama sekali tak terlihat.


“hmm, fa yuk aku traktir makan” ucap aggy tiba-tiba mengalihkan perhatianku.


“maaf membuatmu repot” ucap aggy sambil menarikku keluar pintu dan berjalan ke arah berlawanan dari mereka.


 Bersambung...