
"fa, lo kok diam terus dari tadi"
sekilas aku menoleh kearah aggy.
"gpp kok" jawabku malas, di jam terakhir mata kuliah hari ini aku tak bersemangat untuk berbicara, meski beberapa kali dosen bertanya, aku hanya menjawab secukupnya.
hingga jarum jam bergeser, suara Azan sholat ashar berkumandang di salah satu ponsel teman kelas. barulah perkuliahan di tutup.
"fa, nanti pulang gue antar"
"gak usah gy"
"cuma hari ini aja kok fa, nanti gue dimarahan lo tega"
ucap aggy yang membuat aku menatap curiga.
"maksudnya"
"maksud aku nanti kalau kamu pulang kemalaman kan di marahi ibu mu, nanti kan aku juga ikut di omelin juga"
"hmm, bisa aja, gak mungkin ibu ngomelin kamu"
"ya siapa tahu, kalau gak gitu irtifa"
"makasih gy, tapi aku gak cocok di bonceng sama motormu yang berisik"
"hahaha, gitu-gitu bapak dekan tertarik lo sama motor berisikku"
aku kembali menatap aggy penuh pertanyaan dan dia malah senyum gak jelas.
"ya kena semprot karena mendengar suara merdu motorku"
"itu mah gak tertarik aggy" ucapku gemas, sekilas mood ku baik. namun jika mengingat tadi ya kembali Anjlok ke posisinya.
"gue antar ya"
"gak mau"
"plisss ya"
"udah gy, malu aku kamu bonceng"
"sekali ini"
"engak ya enggak" ucapku final, gak mau berdebat sama aggy aku lebih memilih meninggalkannya yang berdiri di basement.
kejadian di sore yang penuh dramatis, buka seorang cewek lagi ngambek sama gebetan, ini teman cewek lagi ngambek sama teman ceweknya, siapa lagi kalau bukan aggy dan aku. sepanjang jalan ke depan kampus dia ngikuti aku, sambil merengek ingin mengantar, apa coba motif dari teman yang bersikap seperti itu?
"gy, tolong pulang aja, malu tu di lihatin orang"
"gue pergi jika kamu ikut"
"fix, aku pulang sendiri"
bukan tanpa alasan aku menolak aggy, aku hanya tak ingin dia tahu kondisiku saat ini.
"fa, sekali ini selamatin hidup gue" ucap aggy merengek kayak bayi.
"lo gak kemasukan setan kelaskan gy" tanyaku.
membuat dia malah cemberut, aneh saja jika aggy yang berekspresi seperti itu. beda lagi jika itu irtifa.
"gue mau ke masjid seberang" ucapku meninggalkannya.
akhirnya si aggy pasrah. dan memilih melanjutkan motornya setelah menunggu ku cukup lama di dalam masjid. karena waktu sholat magrib mendekati aku lebih memilih menunggu dan akan pulang setelah sholat.
"takdir memang selalu mempertemukan kita"
suara yang tak asing ditelingaku, aku mendongak kan kepala menatap pria yang selalu muncul akhir-akhir ini.
"eh kak kevin" ucapku,
"belum pulang fa jam segini, suamimu belum menjemputmu ya" ucap kak kevin yang membawa kata suami membuat mood ku jadi memburuk saja.
"dia sibuk" jawabku sekena nya.
aku segera memasang kaos kakiku. sedangkan pria yang sebagai teman suamiku itu duduk sambil menatapku.
"aku antar pulang, lagian aku lama gak ketemu nodhom"
"makasih kak, tapi ingin pulang naik angkutan saja"
"aku mau mampir ke apartemen nidhom kok fa, lagian sekarang kalian tinggal di situkan? " aku hanya Menjawabnya dengan anggukan atas pertanyaan terakhir kak kevin tapi dia malah salah mengartikan.
"ya gitu donk mau gue antar" ucapanya senang.
aku segera melepaskannya.
"oh maaf fa"
"ya gpp" ucapku jelous. entah aku tidak suka sikap nya padaku. namun juga gak enak ketika sudah berada di dekat mobilnya dan dia membukakan pintu.
"aku di belakang saja kak"
"hmm ya udah" responnya dengan sedikit kecewa, namun lagi-lagi dia membukakan pintu untukku.
di dalam mobil aku lebih banyak diam, meski kak kevin mengajakku untuk berbincang, apalagi dari tadi dia membicarakan kak nidhom. apa benar dia teman dekat nya? pertanyaan yang tersirat dalam pikiranku saat ini.
"aku tau fa, pasti kamu sedikit susah untuk berinteraksi dengan sikam nidom yang cukup dingin"
aku mengangkat alisku sebelah. dari mana dia tahu keadaanku.
"aku gak salah tebak bukan" lanjut kak kevin sambil ketawa kecil.
"aku tahu banyak hal tentang nidhom, jika kamu ingin tahu aku akan menceritakannya hanya untukmu, dan tak banyak orang tahu tentangnya. kau tidak penasaran dengannya? " tanya kak kevin sambil menoleh sebentar dan kembali fokus mengemudi.
"hmm, jika aku ingin aku bisa tanya langsung orangnya" jawabku.
"aku tak yakin jika dia akan menceritakannya pada mu"
kini isi kepalaku banyak tanda kutip setelah sedikit berbincang dengan kak kevin. dan aku tak ingin banyak bicara dengannya.
tak terasa mobil sudah menepi di jalan masuk apartemen.
"lain kali aku akan menemui nidhom, hmm dan lain kali lagi aku akan memberitahu tentang suamimu dan kelebihannya itu" ucap kak kevin sambil tersenyum.
"iya, terimakasih" jawabku.
tak lama mobil melaju dan pergi dari hadapanku.
aku segera menekan slakar di dekat pintu, namun alangkah terkejutnya ketika kak nidhom tengah duduk di sofa. apa habis mati lampu hingga dia berdiam diri diantara kegelapan.
"baru pulang? " tanyanya setelah melihatku.
"iya" jawabku sambil berlalu ke kamar.
usai sholat isyak aku baru keluar untuk membuat makanan untuk makan malam. namun langkahku terhenti ketika kak nidhom masih di sofa tadi. namun posisinya kini tertidur. di atas meja terdapat kotak p3k yang saat datang tadi aku tidak melihatnya.
"sudah puas kau terdiam disitu" ucap kak nidhom yang membuat aku terkejut.
"bantu aku" ucapanya mengurungkan langkahku. sebenarnya hatiku lagi malas melihatnya. tapi apa daya jika dia meminta bantuan terhadapku.
"apa yang bisa ku bantu" kataku sambil duduk di sofa depannya.
"kemarilah" katanya sambil bangkit dari rebahan nya dan duduk. aku yang sedang berdiri tiba saja menghentika pergerakan ketika melihat gerakan kak nidhom melepaskan kemejanya.
"kenapa? " tanyanya menyadarkan ku. dengan ragu aku berjalan mendekat.
kini aku tahu apa maksudnya ketika melihat kemejanya yang terdapat sobekan di bagian bahu belakang.
"kanapa bisa terluka? " tanyaku penasaran. namun dia tak menjawab dan malah memintaku segera mengobatinya. aku yang awalnya kesal dengannya sekarang menjadi grogi sendiri.
"kak bisakah kau duduk me.. "
"aku nyaman seperti ini" jawabnya.
tahu aja maksud kataku sebelum usai
batinku. dia nyaman tapi aku yang tidak nyaman. bagaimana aku harus berdiri didepannya. dengan hati-hati aku membersihkan darah yang mulai mengering, dalam batin sih aku bertanya bagaiman luka ini bisa tercipta. apa mingkin dia baru di rampok orang. karena sepertinya benda tajam yang mengenainya.
"aku baru saja kejatuhan pisau"
"oh" responku, namun sesaat aku sadar. dia seolah tahu apa yang sedang ku pikirkan. mungkinkah suamiku bisa membaca pikiranku tanyaku dalam hati, namun rautku tercetak jelas ketika aku diam tanpa sengaja menatapnya terus.
"lanjutkan pekerjaanmu"
"oh iy iya" jawabku gelagapan setelah ketahuan menatapnya apalagi dengan ekspresi penuh tanda tanya.
ya tuhan kenapa aku mendadak bodoh di dekatnya, apa gunanya prestasiku selama ini.
"sudah selesai" ucaku setelah memberi plaster lukanya. segera aku membereskan kotak p3k dan ingin meletakkan ketempatnya, namun naas, bagaiman kaki kiriku membelit kekaki kanan yang membuat aku tersandung oleh diriku sendiri.
brakkk..
kotak P3K itu melayang terlempar ketika tubuhku melawan gravitasi bumi, seharusnya tubuhku medarat kedepan bukan kebelakangan, yang membuat posisi tidak nyaman di antara kami. di situlah mata kami tertuju pada titik yang sama...
pintu...
bersambung....